Prestasi Atlet Jatim Wujud Komitmen Pakde Karwo di Olahraga

Senin, 24 September 2018  21:22

Prestasi Atlet Jatim Wujud Komitmen Pakde Karwo di Olahraga

Sosok Penting Pembinaan Prestasi Atlet Jatim, Pakde Karwo saat Haornas 2018. (BM/HARUN EFFENDY)

SURABAYA (BM)Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-35 tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur di Gelora Hasta Universitas Adi Buana Surabaya (UNIPA), Rabu (19/9) lalu, seolah menjadi refleksi sukses pembinaan atlet Jawa Timur yang telah dipersiapkan secara detail dan terperinci.
 
Meneruskan data Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Jatim, Kasubag Penyusunan Program dan Anggaran Drs Heru Sudjatmiko MPd menyebutkan, atlet Jawa Timur meraih medali sebanyak 12 emas, 8 perak dan 12 perunggu pada Asian Games ke-18 tahun 2018 di Jakarta-Palembang, 18 Agustus-2 September kemarin. Dimana, Indonesia sendiri meraih 31 medali emas, 24 perak dan 43 perunggu.
 
Dari 937 kontingen Indonesia, sebanyak 112 atlet berasal dari Jatim, ditambah 22 ofisial. Terdiri dari 39 cabang olahraga (cabor) yakni, anggar (2), angkat besi (2), atletik (1), balap sepeda (4), baseball dan softball (1), bola basket (7), boling (4), bulu tangkis (1), bridge (4), canoing (2), golf (2), gulat (4), hoki (2), judo (3), ju jitsu (2), karate (1), kurash (2), layar (1) dan loncat indah (2).
 
Lalu, panahan (4), panjat tebing (2), paralayang (7), pentathlon (1), pencak silat (4), renang (7), renang indah (1), rowing (1), sambo (1), senam (4), sepak bola (5), sepatu roda (4), squash (1), sepak takraw (1), TBR (1), tenis lapangan (3), tenis meja (3), bola voli indoor (12), voli pantai (1), serta wushu (2).
 
Gubernur Jawa Timur Dr H Soekarwo MHum yang memimpin langsung peringatan upacara Haornas, menyerahkan penghargaan, kepada atlet, wasit dan pelatih berprestasi. Kemudian, kepada pembina olahraga dari unsur pengusaha dan perusahaan, atas dedikasi pada pembinaan olahraga di Jawa Timur.
 
Pada saat membacakan amanat Menteri Kepemudaan dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi terkait pencanangan tahun 2018 sebagai tahun olahraga, Pakde Karwo – Sapaan Karib – menyindir ini surat yang tidak ada pengakuan Menpora secara khusus terhadap prestasi atlet Jatim.
 
Pasalnya, hampir 40 % medali Asian Games donasi atlet-atlet Jatim. “Pak Menpora (Imam Nahrawi) mungkin lupa, seharusnya berterima kasih kepada Jawa Timur, karena 12 dari 31 medali emas Asian Games disumbang oleh atlet-atlet Jawa Timur. Kira-kira kita (Indonesia) peringkat berapa kalau dikurangi 12 emas,” kelakar Pakde Karwo yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.
 
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan atlet, pesilat wanita peraih medali emas Asian Games 2018, Sarah Tria Monita memuji komitmen Pakde Karwo di sektor olahraga. “… Kepada Bapak (Gubernur Jawa Timur) kami ucapkan terima kasih atas segala dukungan dan fasilitas yang diberikan kepada kami, sehingga kami lebih mudah mencapai prestasi,” katanya.
 
Penyerahan dan bedah buku berjudul “Potret Sang Jagoan”, yang mengisahkan perjuangan atlet-atlet berprestasi Jawa timur oleh Ketua Umum KONI Jatim Ir Erlangga Satriagung kepada Pakde Karwo menjadi puncak hari olahraga yang kali pertama diselenggarakan pada 9 September 1983 silam, untuk mengenang sejarah Pekan Olahraga Nasional (PON) edisi perdana.
 
Jiwa Petarung Masyarakat Jawa Timur Luar Biasa
 
Sesaat setelah acara Haornas, Pakde Karwo mencoba menganalogikan sejumlah pertanyaan awak media mengenai kiat mempertahankan sukses Jawa Timur pada saat Sea Games Manila 2019 mendatang. “Sebelum, kita dialog tentang olahraga, bahwa olahraga itu sebanding dengan kesejahteraan, setiap negara itu semakin maju pasti olahraganya bagus,” katanya.
 
Prestasi atlet Jatim di Asian Games membuat Pakde Karwo senang. Karena, indikasi banyak emas berarti gizi masyarakat di Jawa Timur bagus. Sebab, pilihan-pilihan sehat itu dibentuk mulai kecil melalui saluran darah. “Medali itu juga indikasi kesejahteraan. Korea Jepang maju, karena kemudian dia jadi makmur,” timpalnya.
 
Analogi Pakde Karwo itu bukan menyangkut atlet yang meraih medali saja, namun penekanannya pada pemenuhan gizi. “Sport Science itu mulai usia delapan tahun gizinya dibentuk, olahragawan itu bukan hanya fisiknya, tetapi juga harus cerdas. Porsentase kecerdasan itu 80 % dibentuk pada masa emas, golden age 0-8 tahun, kalau umur 8-18 tahun hanya 20% saja,” terangnya.
 
Menanggapi dominasi prestasi atlet Jawa Timur secara nasional, Pakde Karwo mengajak untuk berterima kasih kepada para atlet, pelatih, cabor, pembina, Dispora Jatim, KONI Jatim. Menurutnya ini adalah kerja keras bersama, produk kolaborasi stakeholder. Sehingga menjadikan kualitas Jatim terbaik, dari 31 emas Asian Games, yang sembilan cabor asal Jatim.
 
“Artinya, saya kira Jawa Timur sekarang ini mulai kita pikirkan, pemikiran pak Imam Utomo (mantan Gubernur Jatim). Sebetulnya tiga cabor saja yang bagus itu yang kita kelola sampai olimpiade, itu usulan pak Imam Utomo,” tuturnya.
 
Masih menurut Pakde Karwo, semisal sekarang dikelola lima cabor, lalu ikut PON (Pekan Olahraga Nasional) dan menjadi juara, tetapi belum tentu di Asia, apalagi sekelas olimpiade. Tetapi kalau fokus tiga cabor maka, Jawa Timur itu bisa masuk (peluang berprestasi) di olimpiade.
 
Pakde Karwo menegaskan kalau tidak ada perlakuan yang berbeda (bonus) terhadap tujuh atlet disabilitas asal Jawa Timur yang akan berjuang di Asian Para Games 2018 Jakarta, 6-13 Oktober mendatang. “Bukan bonusnya, tapi semangat tarungnya orang Jawa Timur yang tidak kenal menyerah, itu seperti chip virus di dada seseorang yang tidak kenal menyerah dalam bertarung,” jelasnya.
 
Dirinya mencontohkan pengalaman tim Judo di PON XVIII Riau 2012 saat lawan Jawa Barat, menurutnya kala itu atlet Judo tampil luar biasa (semangat tanding) tetapi ngedrop (putus asa secara tiba-tiba) karena pimpinan pengurus cabor Judo pecah, terjadi konflik internal. Hal serupa terjadi di cabor renang, gagal karena pimpinannya terlambat. “Jadi ini (hasil) kolaborasi,” ulasnya.
 
Menanggapi pujian, kalau pak Imam Utomo meninggalkan sukses PON, sedangkan Pakde Karwo sukses Asian Games. “Ini (atlet) anak yang lahir dari orang tua pada masa pak Imam Utomo. Jadi, umur 18 tahun diproses, jadi bukan saya, ini proses kolaborasi masyarakat, orang tuanya, disiplin luar biasa, kebetulan saya berada di daerah yang tepat, pada waktu yang tepat saja,” kelakarnya.
 
Lebih jauh, Pakde Karwo menceritakan kalau prestasi Jatim itu tidak hanya terjadi olahraga, tetapi di semua lini bidang. “Bayangkan, barang yang beredar di Indonesia itu, sekitar 20,70% itu dari Jawa Timur. Kita menghidupi 15 provinsi memberikan makan. Jadi menurut saya yang satu adalah, jiwa petarung masyarakat Jawa Timur itu yang luar biasa,” pungkasnya.
 
Sukses Asian Games Wujud Komitmen Pemimpin Jatim
 
Komitmen Gubernur Jatim Pakde Karwo dalam mensuport Sport Science cukup banyak, sehingga tanpa
kontribusi pemerintah, tidak mungkin Jawa Timur bisa berprestasi. “Saya sebut begini, ini hasil gemilang Asian Games hasil komitmen Pakde Karwo di sektor olahraga,” kata Erlangga Satriagung, Ketua Umum KONI Jatim.
 
Komitmen yang dimaksud, membahas konsep bersama KONI Jatim, bagaimana olahraga bisa maju, juga membahas posisi olahraga pada rancangan pembentukan Sumber Daya Manusia (SDM) berkarakter, bukan sekedar perolehan medali, karena olahraga itu sejak kecil dididik disiplin, patuh, dan sportif, tiga pilar ini kalau dibentuk dan dikembangkan terus sejak kecil maka akan lahir SDM yang berkarakter.
 
“Medali sebagai akibat saja, (saat ini) kerjasama dengan Australia Barat mengenai aplikasi Sport Science,
itu akan terus dikembangkan, karena ilmu itu tidak ada sempurnanya. Sport science itu menyangkut gizi, ilmu gizi, psikologi,” ungkapnya.
 
Erlangga merinci, kalau untuk mensuport atlet, pihaknya ada 12 psikolog dan 12 dokter spesialis tulang. “Messaure kita ada 16, ahli semua. Kemudian, tim nutrisi ditangani para ahli, jadi champions by design itu, hanya bisa dijalankan Sport Science, dan pak Gubernur ada disitu, bukan sekedar mendorong, ini yang disebut pak Gubernur punya komitmen kuat pada sektor olahraga,” ucapnya.
 
Menurutnya, gubernur bukan sekedar perintah dapat medali, dan apa yang dilakukan Pakde Karwo tidak dilihat Erlangga terjadi pada gubernur daerah lain. “Gubernur lain itu cuma perintah harus dapat sekian, menurut saya medali itu akibat, pelatih tidak mungkin bisa menjadikan atlet itu menjadi juara tanpa didukung pilar-pilar Sport Science,” tuturnya.
 
Lanjut Erlangga, kalau efek yang didapat dari Sport Science itu tidak ada sempurnanya, jadi akan terus berkembang mengikuti pola pelatihan tren dunia, seperti di KONI Jatim, di unsur kesehatan ditambah ahli akupuntur, yang ditangani seorang profesor doktor, dokter Abdur Rahman. “Akupuntur, messaure, tindakan dokter, obat, itu metode saja, mana yang lebih cepat lebih aman untuk atlet,” katanya.
 
Erlangga mencontohkan sakit tertentu, cidera tertentu, itu bagus dengan dokter, itu bagus dengan akupuntur, itu bagus dengan messaure tapi kalau sudah tulangnya patah, dislokasi maka perlu penanganan khusus dokter. Pihaknya  masih fokus kerjasama dengan Australia Barat, tetapi juga sedang merancang dengan Korea.
 
Selanjutnya, Erlangga memiliki harapan tinggi jika kepemimpinan di Jawa Timur nantinya telah berganti. Sebab, siapapun gubernur harapannya memahami bahwa sektor olahraga itu strategis, karena pembentukan SDM berkarakter, bukan sekedar mencari keringat, sehat jasmani, bukan sekedar urusan medali.
 
Dirinya mengajak untuk  membandingkan dengan komunitas lain, dimana, pada tataran usia atlet hanya 0,0 sekian persen saja, yang kena Narkoba. Bahkan mungkin hampir semua komunitas, mengutip pernyataan BNN itu terkena Narkoba.
 
“Khususnya seusia atlet. Sementara atlet itu steril dari Narkoba, jadi pemerintah ini harus hadir disini. Karena atlet, pagi, siang, sore, malam latihan dituntut disiplin, jadi tidak ada ruang atlet komunikasi dengan kehidupan malam, jadi siapapun gubernur, harus memahami ini, pemerintah harus hadir disini,” himbaunya.
 
Prestasi Atlet Jatim Bukan Hasil Kebetulan
 
Setali tiga uang, Wakil Ketua Umum KONI Jatim, M Nabil menyebut, kalau posisi atlet Jatim hampir semua menjadi bagian prediksi pihaknya, kalaupun diluar prediksi itu adalah tenis yang di level perunggu.
 
Menurutnya, di tenis lawannya rata-rata masuk rangking 100 besar dunia, dan pernah bermain di level dunia kejuaraan tenis yunior seperti, Wimbledon yunior, ada yang rangking 83 asal Thailand. Yang di semifinal dari India itu juga pernah ikut Wimbledon yunior. Sehingga kita menghitung atlet kita, Aldila Sutjiadi tidak masuk 100 besar dunia. Sehingga secara terukur Aldila Sutjiadi tidak masuk.
 
“Namun ada faktor lain seperti, mungkin adrenalinnya meningkat, atau ada faktor lucky. Tetapi paling tidak mereka sudah menghasilkan sesuatu dan yang paling penting itu adalah olahraga teratur yang bertarung dengan segala speednya, powernya dan kemenangannya, untuk tenis,” ulasnya.
 
Selanjutnya, Nabil mengurai posisi atlet lainnya, seperti Sarah Tria Monita, pencak silat, sudah dihitung emas, kemudian panjat tebing dihitung setidaknya perunggu. Jadi, ada lompatan-lompatan yang luar biasa. Kalau Eko Yuli Irawan, angkat besi, dihitung emas. Kemudian, Mohammad Ashfiya, voli pantai, dihitung perak atau emas, ternyata dapat perak.
 
Kemudian Kevin Sanjaya Sukamulya, bulu tangkis, sudah dihitung emas. “Panahan yang kurang pas, Diananda Choirunisa kita hitung emas atau perak, tapi dapat perak, sedangkan rekannya, Riau Ega Agata Salsabila hanya dapat perunggu. Kita hitung medali, tapi waktu itu posisinya memang naik turun,” terangnya.
 
Maknanya semakin menegaskan posisi KONI Jatim untuk menguatkan Sport Science menjadi pijakan dalam pengembangan dan pembinaan olahraga di Jawa Timur. Sebagai parameter, cara pandang untuk (atlet) masuk di PON itu seperti apa, dan ini sudah mendekati keberhasilan. “Tahapan-tahapan model Sport Science menjadi kenyataan dan keniscayaan, keharusan untuk dilaksanakan,” urainya.
 
Hingga saat ini satu-satunya yang menerapkan Sport Science adalah Jawa Timur. “Jadi hebatnya Pakde Karwo seperti itu, beliau memberikan apresiasi yang besar kepada kita, kemudian punya harapan besar juga berdasarkan apa yang beliau bina. Sebagai pembina utama itu Pakde, baik memberikan bantuan, masukan, fasilitas semua diberikan beliau, dan itu menjadi kenyataan semua,” Ungkap Nabil.
 
Menurut Nabil, Gubernur Jatim berikutnya harus melanjutkan apa yang sudah dijalankan Pakde Karwo. “Harus bisa, Insya Allah bisa dan tidak ada masalah, karena komunikasi dengan KONI Jatim tidak ada masalah, sebab Bu Khofifah juga punya apresiasi yang tinggi terhadap olahraga. Karena kaitannya olahraga dalam Perda Jawa Timur, olahraga itu membangun mental fisik masyarakat,” ulasnya.
 
Masih Nabil, artinya, mental spiritual dibangun material juga dibangun. Yang kedua, olahraga nantinya tidak hanya berbicara prestasi saja, tapi tentang industri dan pariwisata, nantinya akan menjadi konstruksi baru di Jatim bahwa olahraga selain prestasi, juga rekreasi, industrialisasi dan wisata, dan ini Perda.
 
“Nanti kita akan melaksanakan itu, kita sudah menatap itu ke depan, dan mau tidak mau harus dilaksanakan sama-sama. Jadi ada sisi-sisi lain kita bisa mengurangi perilaku yang tidak benar anak muda, mengkompensasi kegiatan-kegiatan yang tidak pas di dunia yang lain, terutama hal-hal berkonotasi negatif, entah Narkoba. Dan itu semua sudah tercover dalam Perda,” jelasnya.
 
Penyebab lonjakan prestasi atlet sendiri menurut Nabil merupakan hal sederhana, soal kesungguhan, kemauan, dan keseriusan berlatih tanpa henti, tetapi dengan konsep, dengan skenario. By design, jadi bukan suatu kebetulan. Kalau target dari perunggu menjadi emas, itu soal teknis saja. Tapi dengan target medali.
 
“Mereka bisa seperti itu, ini tidak main-main lawannya luar negeri semua. Hanya yang gagal dapat medali wushu, Velda sama Bobby Gunawan. Karena belum beruntung, sebab pada saat pertandingan wushu mereka bisa goyang (keseimbangan) sudah tidak bisa apa-apa,” ucapnya.
 
Jadi tidak ada yang kebetulan dalam olahraga yang ditangani KONI Jatim, sebab menurut Nabil, kebetulan itu terjadi pada saat pertandingan, mereka diuntungkan atau tidak diuntungkan. “Tetapi secara ikhtiar mereka (wushu) sudah benar. Namun diuntungkan disini, mungkin pada waktu itu gerakannya tidak diuntungkan oleh wasit juri,” imbuhnya.
 
Nabil menilai, secara prestasi, secara kualitas, wushu unggul. Hal itu diukur dari rekam jejak. Pencak silat, paralayang, panjat tebing, memang prestasinya sudah bagus. Tidak ada yang aneh, tidak ada istilah ternyata menang. “Seperti Velda di wushu itu juara dunia, bagaimana mungkin kita tidak memberi target medali. Namun di gerakan terakhir Velda goyang”, tutupnya.
 
Khofifah Apresiasi Atlet Jatim Berprestasi di Asian Games
 
Seolah ingin menegaskan dukungan terhadap prestasi atlet, pasangan Gubernur Jawa Timur terpilih, periode 2019-2024, Dra. H. Khofifah Indar Parawansa, MSi dan Dr. Emil Elestianto Dardak, MSc juga memberikan apresiasi dan penghargaan kepada atlet-atlet peraih medali Asian Games di Jatim Expo, Sabtu (8/9) silam.
 
Sejumlah atlet tersebut diundang khusus untuk mengikuti dan menyaksikan jalannya acara ‘Selametan Relawan Khofifah-Emil’ yang menampilkan perjalanan menuju Jatim satu. Dalam sambutannya, Khofifah menyebut, selain olahraga sebagai alat pemersatu bangsa, perlu juga dikembangkan kesenian dan kebudayaan asli Jawa Timur.
 
Dirinya memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada atlet-atlet Jawa Timur yang sudah berjuang mengharumkan nama Jatim dan bangsa Indonesia dalam kancah internasional. “Dari olah raga ada kebersamaan, persatuan, kesetaraan. Bahkan ada sejarah Korea (Selatan-Utara) bersatu di Asian Games,” tutur Menteri Sosial era Gus Dur tersebut. (har)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>