Darurat Narkoba

Selasa, 18 Juni 2017  19:10

Darurat Narkoba

Tajuk 19 Juni 2017

Penegasan Indonesia darurat narkoba sudah berulang kali diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas). Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri sebenarnya juga telah menyampaikan pesan keras dan tegas! Tidak ada ampun bagi pengedar narkoba di Indonesia.
 
Namun begitu, kasus peredaran dan penyalagunaan narkoba di negeri ini terus saja bermunculan. Beberapa kasus malah terungkap, peredaran narkoba dikendalikan dari balik lembaga pemasyarakatan (lapas). Sepertinya, tidak pernah ada kata ‘jera’ dari para pelakunya. Padahal, tindakan tegas sudah kerap dilakukan. Kerugian ekonomi akibat peredaran narkoba disebut-sebut mencapai Rp 50 triliun per tahun.
 
Mungkin karena alasan itu, Buwas kembali mengingatkan  bahwa Indonesia darurat narkoba. Penegasan mantan Kabareskrim Polri untuk kesekian kalinya di sela acara pemusnahan barang bukti 28,8 kilogram sabu dan 173 butir ekstasi di halaman parkir gedung BNN, Cawang, Jakarta Timur itu, seakan ingin menekankan bahwa perkara ini agar jangan dianggap enteng (Berita Metro edisi Jumat 17/6). 
 
Dari data yang dimiliki BNN, ada 65 jenis narkotika yang masuk ke Indonesia dari jumlah total keseluruhan 800 jenis yang ada di dunia. Tahun 2016 narkotika yang masuk Indonesia 250 ton, dan bahan narkotika yang masuk 1097,6 ton. Besarnya jumlah narkotika yang beredar di Indonesia itu, bukan tanpa sebab. Lemahnya sistem keamanan dan terlibatnya oknum-oknum di lapas menjadi salah satu penyebabnya.
 
Data lain yang mungkin bisa membuat kita miris adalah sebanyak 70 persen terpidana yang ada di lapas merupakan terpidana kasus narkoba. Sisanya, terkait kasus korupsi, teroris, dan tindak kriminal biasa lainnya.Lebih memprihatinkan lagi, hampir 50 persen peredaran narkotika di Indonesia justru dikendalikan dari dalam lapas.
 
Dari semua fakta itu, diharapkan pemerintah hendaknya dapat lebih memperbaiki sistem yang ada untuk bisa mencegah adanya transaksi narkoba di dalam lapas. Sistem yang ada sekarang belum sepenuhnya mampu mengetahui akar permasalahan. Padahal, untuk bisa memberantas peredaran dan penyalagunaan narkoba tidak cukup hanya melalui penindakan tegas. Akan tetapi, yang juga perlu adalah mencari dan mengetahui akar permasalahan.
 
Momen Hari Anti Narkotika Internasional yang jatuh pada 26 Juni mendatang, barang kali bisa dijadikan semacam momentum untuk bersama-sama memerangi peredaran dan penyalagunaan narkoba. BNNP Jatim sendiri telah mengawalinya dengan menggelar rangkaian sosialisasi antinarkoba yang dikemas dalam berbagai kegiatan sosial, maupun kegiatan bazar dan fun bike. 
 
Ancaman darurat narkoba sudah disampaikan sejak lama. Bahkan, dalam pemberitaan sebuah media pada pertengahan April 1971 disebutkan, seluruh dunia dilanda gelombang narkotika, tidak terkecuali Indonesia. Empat puluh tahun kemudian, situasinya tak banyak berubah, bahkan mungkin jauh lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya.
 
Jika tidak ada langkah pencegahan konkret dengan sesegera mungkin, generasi muda Indonesia akan menjadi manusia loyo. Bagaimana membayangkan, terpidana mati masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari Lapas Nusakambangan. Berita soal lapas yang menjadi pusat peredaran narkoba juga bukan barang baru. Beberapa fakta menunjukkan, lapas menjadi pusat peredaran narkoba terjadi sejak Maret 2012.
 
Hukuman tegas dan lebih berat sepertinya memang harus dijatuhkan terhadap para pelakunya, temasuk pula kepada oknum-oknum penegak hukum yang terbukti terlibat dalam jaringan peredaran narkotika. Lebih dari itu, harus pula diketahui akar permasalahan dan dicarikan solusi agar permasalahannya tidak terus berulang dan berlanjut. Budiarie S
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>