Gaung Pilpres 2019

Rabu, 26 Juli 2017  07:06

Gaung Pilpres 2019

Jokowi - Gatot

Pemilihan Presiden RI masih relatif lama, masih akan berlangsung pada 2019 mendatang. Namun demikian, apabila kita mencermati dinamika politik yang berkembang di tanah air, gaung politik itu sudah mulai terasa. Sejumlah elit partai, dan analis politik sepertinya sudah mulai menggiring ke arah siapa yang bakal maju ‘bertanding’ dalam ajang pemilihan RI-1 tersebut.

Sejumlah partai telah mewacanakan dukungan keberlanjutan kepemimpinan Joko Widodo untuk periode 2019. Di antaranya PKPI, Partai Golkar, Nasdem, dan Hanura. Bahkan PPP telah terang-terangan menggelar deklarasi, mendukung pencapresan Jokowi.

PAN, menjadi satu-satunya partai koalisi pendukung pemerintah yang bukan saja belum menyatakan dukungan, tetapi malah terkesan ‘berpaling’ dari dukungan itu. Bagi PAN, koalisi tak memiliki kewajiban untuk mendukung pencapresan Jokowi.

Indikasi ‘pebangkangan’ PAN juga tercermin dari polemik yang muncul akhir-akhir ini, yang mengindikasikan PAN tak harmonis dengan partai koalisi, terutama dengan PDIP, yang sempat menuduh PAN sebagai partai ‘Karaoke’, atau partai kanan-kiri oke.

Bila kita mencermati informasi yang berkembang, sejumlah analis politik pun telah mereka-reka siapa nama-nama yang berpotensi maju sebagai capres 2019. Yang sementara ini, masih memunculkan dua nama, yaitu Jokowi dan mantan Danjen Kopassus Prabowo Subiyanto. Dua nama ini, diprediksi memiliki kans kuat untuk maju dan bersaing ketat dalam memperebutkan kursi RI-1.

Fenomena berikutnya adalah, mengkristalnya kelompok ‘penyeimbang’ yang digawangi Partai Gerindra, PKS, Partai Demokrat, dan PAN. Hal itu semakin terlihat saat pembahasan hingga berakhirnya rapat paripurna DPR RI terkait Perppu 2/2017. Ke empat partai tersebut berseberangan dengan koalisi 6 partai pendukung pemerintah.

Untuk diketahui, perdebatan utama dalam paripurna tersebut adalah menyangkut presidential treshold (PT), yang akhirnya dimenangkan kelompok partai pemerintah, dengan keputusan PT sebesar 20-25 persen. Yang mana, hal ini sangat berpengaruh terhadap pencalonan capres 2019 mendatang. Dengan besaran PT tersebut, ada kekhawatiran Prabowo tak bisa maju sebagai capres, tentu bila koalisi Gerindra-PKS tak mencapai angka PT tersebut.

PAN sendiri, selama ini dianalisis sebagai partai yang lebih condong dekat dengan Partai Demokrat. Sementara Partai Demokrat, terutama Ketua Umumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih ada jarak dengan Prabowo Subiyanto. Dengan kondisi tersebut, ada kekhawatiran sejumlah pihak, bakal munculnya capres tunggal.

Di luar dinamika politik antar parpol tersebut, sejumlah organisasi massa dan kelompok massa di tengah masyarakat, sepertinya juga telah melakukan gerakan-gerakan yang mengarah pada politisasi dukungan ke arah sosok capres tertentu.

Lalu siapa yang diprediksi bakal memenangkan pertarungan? Sejumlah analis politik rupanya masih menjagokan Jokowi. Ya, Jokowi masih memimpin, dengan dibayang-bayangi nama Prabowo Subiyanto. Sementara, belum muncul alternatif nama lain.

Dalam situasi seperti ini, tak salah bila beberapa hari ini elit Gerindra akan mempertemukan Prabowo dengan SBY. Apabila ada kesepakatan dua tokoh ini, maka kekuatan dukungan untuk Prabowo bakal semakin kuat, potensial mengalahkan Jokowi.

Di sisi lain, meski posisi Jokowi diprediksi masih terkuat, namun demikian, tantangan untuk memenangkan pertarungan dalam Pilpres 2019 bagi Jokowi tidaklah ringan. Mengingat, ketimpangan ekonomi yang masih tinggi, dan merebaknya sentimen SARA yang belakangan muncul diperkirakan bakal menggerogoti dukungan.

Karenanya, PR besar yang harus dilakukan Jokowi, bila ingin memenangi persaingan, harus memperbaiki kinerja pemerintahan yang kini diembannya. Dan harus mampu menunjukkan kepemimpinan yang bijak, menyikapi dinamika sosial yang terjadi belakangan ini, terutama menyangkut SARA dan ketimpangan sosial. Totok Hartana

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>