Komunitas Fotografi, Temukan Bangau Bluwok di Pajarakan

Rabu, 01 April 2018  15:48

Komunitas Fotografi, Temukan Bangau Bluwok di Pajarakan

spesies Bangau Bluwok di Pantai Penambangan Pajarakan Kabupaten Probolinggo.

Enam penghobi fotografi ini menemukan burung langka dengan nama spesies Bangau Bluwok di Pantai Penambangan Pajarakan Kabupaten Probolinggo.
 
Oleh Saifullah : Kontributor Berita Metro Probolinggo.

HOBI fotografi telah membawa Enam orang lelaki asal Kabupaten Probolinggo terlibat dalam konservasi, khususnya perlindungan burung langka. Mereka tergabung di kelompok 5am Fotografi. Seperti namanya, biasanya sejak pukul 05.00 WIB mereka berburu foto burung liar, sesuai jam biologis satwa itu.

Namun insting dan pengalaman ternyata membawa lima orang ini menelusuri waktu berbeda, yakni mengikuti jam biologis burung air yang biasanya aktif mencari makan lewat tengah hari. Diantaranya yakni Djoko Prasetio, Hendra P, Uuk, Sol, Inung, dan Zulkarnaen.
 
Menurut Hendra, saat itu komunitasnya ingin mengulangi berburu foto di lokasi Desa Penambangan Kecamatan Pajarakan tepatnya tambak ikan milik H Busthomi. Mereka penasaran karena biasanya hunting dilakukan pagi, sehingga ingin mengetahui hasil hunting lewat tengah hari.

“Kebetulan H Busthomi sudah sejak dahulu melarang pemburu (bersenapan angin) masuk ke situ. Siapa pun dilarang menembak burung di tambakmua, jadi banyak spesies burung air, seperti cerek, black cormorant (pecuk padi-hitam),” katanya.

Ternyata hari Jumat dua minggu silam menjadi berkah bagi mereka, yakni bertemu burung langka dengan nama spesies Bangau Bluwok. Bangau itu ternyata dicatat pemerintah sebagai hewan langka dan dilindungi masuk dalam daftar lampiran level sangat langka yakni Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna).

Beberapa referensi menyebutkan, burung ini secara internasional tidak boleh diperdagangkan untuk tujuan komersil. Referensi lainnya menyebutkan hanya untuk kepentingan khusus, misalnya penelitian dengan aturan yang ketat untuk penangkaran.
 
Spesies ini juga masuk dalam daftar merah lembaga konservasi dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature). Mereka menetapkan Bangau Bluwok dalam status Genting (Endangered/EN) dan digolongkan terancam punah secara global.
 
“Keberadaan Bangau Bluwok di Pajarakan itu dapat referensi dari instagram dengan nama akun Gito_grc dia asal Nganjuk, namun menikah dan tinggal di Jatiurip, Kecamatan Krejengan,” jelas Hendra. Karena itu, Jumat tersebut mereka coba hunting usai sholat Jumat setelah jam 14.00.

 “Itu awalnya dikira bangau besar tapi setelah diperhatikan gerak geriknya curiga, perangai aneh jadi kami bisa menyimpulkan itu Bangau Bluwok,” ujarnya. Mereka lanjutkan lagi sampai senja, berusaha mendekat menggunakan jaring kamuflase.
 
“Untuk dapat dekat tanpa mengganggu, kami berkamuflase. Saat itu hunting senja. Akhirnya, senja dia terbang ke timur. Kami lanjut pengamatan hari Minggu, coba kami cari di Desa Asembagus, Kota Kraksaan,” paparnya.

Ternyata jam 13.00 di Desa Asembagus, Bangau Bluwok kembali nampak. Didapatkan foto saat mereka terbang mengitari tambak. Salah satu anggota komunitas 5am Fotografi yakni Djoko membagikan foto itu ke grup Facebook Wildlife Fotografer Surabaya. Ternyata tanggapannya sangat positif.

“Kami ditanggapi Iwan Londo. Dia Bird Consultant asal Surabaya dan pemerhati burung Ivan Martin. Pemerhati burung lainnya yang memiliki nama akun Cak Boeseth tertarik datang untuk pengamatan langsung, dia adalah dokter hewan dan dosen Unair, ujar Hendra.
 
Dia berharap mudah-mudahan temuan mereka ditanggapi positif, karena berangkat dari rasa prihatin pemburu senapan angin yang merajalela. Komunitasnya ingin ada program support untuk konservasi di Probolinggo.

Kasi Konservasi BKSDA Wilayah 6 Probolinggo Mamat Ruhimat saat dikonfirmasi menanggapi positif hal ini. “Kami sampaikan terima kasih atas partisipasi komunitas fotografi terhadap konservasi. Satwa liar tidak selalu harus berada di kawasan konservasi, alam adalah rumah bagi hidupan liar. Apabila ada satwa liar berada di alam liar maka hal itu sudah semestinya,” jelas Mamat. 

Namun menurutnya apabila terjadi gangguan yang disebabkan satwa liar maka perlu dilakukan kajian, kenapa hal itu bisa terjadi, apa penyebabnya. Atau jika ada ancaman terhadap satwa liar itu pihkanya melihat kondisi di lapangan. “Minggu depan insha Allah kami agendakan untuk cek lokasi bersama-sama,” kata Mamat, Minggu (1/4). 

Sementara itu, Kepala Desa Penambangan Hasanuddin mengaku senang dengan adanya informasi tersebut. Pihaknya berharap satwa tersebut bisa dikerjasamakan dalam hal perlindungannya. “Harapan kami yakni kerjasama dengan lembaga yang membidangi, agar lestari dan bisa menjadi satu icon bagi Kabupaten Probolinggo,” tutur Hasanuddin. (*)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>