Mengenal PJ Bupati Probolinggo R Tjahjo Widodo

Kamis, 15 Maret 2018  11:21

Mengenal PJ Bupati Probolinggo R Tjahjo Widodo
R Tjahjo Widodo tampak bersahaja pada saat menghadiri acara tasyakuran penyambutannya sebagai PJ Bupati Probolinggo di pendopo Kabupaten Probolinggo, Rabu (14/3). Senyuman dan canda selalu dilontarkannya kepada seluruh tamu undangan yang mayoritas adalah jajaran forkopimda dan kepala OPD kabupaten Probolinggo.
 
Oleh : SAIFULLAH – Kontributor Berita Metro Probolinggo.
 
Tak banyak yang tahu Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Jember ini adalah putra dari Sersan Mayor dari korps angkatan darat. Putra ke-5 dari 8 bersaudara ini besar dikeluarga yang mengedepankan displin tinggi, utamnya soalnya kerapian dan juga ketepatan waktu dalam segala hal. Pantang bagi seorang Tjahjo untuk datang terlambat dalam menghadiri sebuah acara, bahkan hal tersebut dibuktikannya ketika hadir dalam acara tasyakuran dimana dirinya terbilang hadir lebih awal dibanding tamu undanga.
 
Putra dari pasangan Joko Sukirno dan Sri Cahyonowati ini ditemui usai acara tasyakuran mengaku jika telah cukup lama menyicipi asam garam kehidupan. Bahkan berkat didikan dan kedisplinan yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya itu dia mengaku kaget bisa mencapai posisi seperti saat ini.
 
Diceritakannya bahwa Tjahjo kecil tumbuh dan besar di Kota Surabaya. Dia bersekolah di salah satu SD Negeri di Surabaya dan melanjutkan sekolahnya di SMP Hangtuah Surabaya. Setelah lulus kemudian dia melanjutkan sekolah menengah atasnya di SMA 9  dan disekolah, inilah bakat kepemimpinannya dimulai. Jabatan ketua Osis pernah dijabatnya hingga akhirnya dia lulus pada awal tahun 90 an.
 
Tantangan hidup mulai dialaminya, dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, membuat orang tuanya harus menghidupi 7 anaknya. Tjahjo pun nekat untuk melanjutkan studi di Universitas Wijaya Kusuma. Desakan ekonomi dan kebutuhan untuk melanjutkan studi membuatnya putar otak untuk mencari pekerjaan sambil berkuliah. Akhirnya dia melamar sebagai jupen (Juru Penerangan) pada kementerian penerangan yang pada saat itu membutuhkan cukup banyak Jupen. Selama kurun waktu 6 tahun profesi itu digeluti bersama dimasa perkuliahannya.
 
“Pulang kuliah, saya tidak langsung pulang kerumah. Tapi langsung keliling ke tempat-tempat kumpulnya ibu-ibu PKK dan pengajian untuk memberikan ceramah tentang pembangunan dan sekelumit isu pembangunan lainnya kepada warga binaan saya,” ungkapnya.
 
Setelah lulus kuliah S1 nya, Tjahjo kemudian melanjutkan studi kuliah S2 nya masih dikampus yang sama. Bahkan setelah lulus kuliah karirnya mulai menanjak, dia dipercaya sebagai kepala seksi Depen di Bondowoso. Setelah sekian tahun dia kemudian dipercaya menjadi Kanwil Depen Bondowoso. Selanjutnya dia diangkat menjadi kasi pelayanan Pers di Kominfo Jawa Timur. “Makanya saya sangat dengan dengan kawan-kawan Pers, karena saya pernah jadi koordinatornya,” ujarnya.
 
Tak hanya sampai disitu saja, setelah cukup lama di Kominfo, dia kemudian dipercaya untuk ambil bagian di sekretariat KPU Jatim pada tahun 1999. Dan dia ikut serta dalam penyelenggaraan pesta demokrasi bersejarah Indonesia, yakni pada saat pemilihan presiden secara langsung. Usai dari KPU dia kemudian dipercaya sebagai Kabag penegakan hukum di BNP Jawa Timur, disana dia akrab keluar masuk lapas untuk memberikan sosilisasi terkait bahaya Narkotika.
 
“Nah baru pada tahun 2012 sampai 2017 inilah saya ikut bakesbangpol Jawa Timur, sehingga kenal dengai kiai Idrus dari FKUB Kabupaten Probolinggo dan sempat datang ke gedung Islamic Center Kraksaan beberapa bulan lalu,” katanya.
 
Usai menjabat di Bakesbangpol, Tjahjo kemudian diminta Gubernur Jatim, Soekarwo untuk menjabat sebagi kepala Bakorwil Jember hingga akhirnya ditunjuk Gubernur sebagai PJ Bupati Probolinggo. Dari perjalanan hidupnya itu, dia mengambil kesimpulan bahwa hidup haruslah mengalir dan lakukan sesuatu hal yang baru dengan penuh tanggung jawab, “Itu pedoman hidup saya,” tegasnya.
 
Dia menyebut pencapaian hidupnya ini tak terlepas dari dukungan istri tercintanya yakni Trijuningsih. Tak hanya sebagai istri, Tjahjo menyebut istrinya itu juga sebagai polisi yang menjaga jalan hidupnya. Tak heran karena memang Trijuningsih merupakan salah seorang perwira di lingkungan kepolisian. Jabatannya adalah sebagai Koorgandik di sekolah pendidikan Polisi Nasional di Mojosari, Mojokerto. “Pangkatnya AKBP dan dia menjabat Kajur disana. Makanya saya selalu merasa aman karena kemana-mana dikawal Polisi,” candanya.
 
Terkait dengan jabatan barunya, Tjahjo mengaku jika secara pribadi dia sangat tertarik dengan pengembangan ekonomi pasar. Dimana menurutnya pasar merupakan salah satu tempat transaski ekonomi terbesar rakyat, maka dari itu harus dibuat secara standard dan bersih. “Pasar harus ber SNI itu patut dicatat,” katanya.
 
Tak heran karena diakuinya dia hobi seklai blusukkan ke pasar untuk menikmati suasana pasar dan juga seluruh hiruk pikuknya pedagang dan pembeli yang saling berinteraksi. Karena menurutnya dipasarlah antara pedagang dan pembeli saling bertemu dan tawar menawar harga, suatu hal yang tak ditemui di took modern sekalipun.
 
“Ini bawaan dan kebiasaan saya dulu waktu kecil, karena mbak saya sudah menikah, dan kakak saya bekerja akhirnya saya yang sering disuruh ibu belanja dipasar. Dari situ saya terbiasa dan menyenanginya sampai saat ini, karena itu saya hobi blusukkan kedalam pasar,” tandasnya. (*)
 
 
 
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>