Memahami Tarif Listrik

Senin, 19 Juni 2017  19:42

Memahami Tarif Listrik

Tajuk 20 Juni 2017

Tak bisa dipungkiri, era subsidi listrik dan BBM di masa lalu sungguh nikmat, dan dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Sebab, siapa pula yang tak suka disubsidi negara, walaupun sudah berstatus kelas menengah atas alias orang kaya?
 
Tetapi, belakangan disadari negara memiliki kemampuan terbatas untuk menopang subsidi tanpa batas itu. Selain itu, subsidi untuk orang-orang kaya sungguh seperti peribahasa, menggarami samudera. Artinya, sia-sia. Subsidi sudah seharusnya hanya diperuntukkan kepada kalangan miskin atau lapisan paling bawah dalam stratifikasi sosial.
 
Tentu tidak mudah memilah dan memilih sasaran subsidi tarif listrik. Tidak heran karena itu, pemerintah melalui kementerian ESDM memgeluarkan peraturan (Permen 028 dan 029 tahun 2016) yang mengatur bagaimana subsidi tarif listrik untuk kalangan keluarga miskin dijalankan. Proses pemilahan dan pemilihan sasaran subsidi betul-betul melalui langkah-langkah verifikasi lapangan yang rumit dan melelahkan. Tetapi semua dapat berjalan.
 
Walaupun demikian, suara-suara komplain di tengah masyarakat terhadap PLN sering terdengar belakangan ini. Terutama masyarakat yang rumah tangganya menggunakan listrik 900 dan 1.300 volt ampere (VA) mengeluhkan naiknya uang bulanan yang harus mereka bayar sebagai pelanggan listrik PLN. Kenaikan bertahap di bulan Januari, Maret, dan Mei 2017 ini rupanya mereka rasakan cukup berat.
 
Berat atau ringan itu sejatinya relatif. Dibandingkan dana yang dikeluarkan sebelum terjadi penyesuaian tarif per Januari-Maret-Mei, tentu saja dana yang dikeluarkan belakangan terasa lebih berat. Tetapi, dibandingkan dengan dana yang dikeluarkan untuk konsumsi atau kebutuhan sehari-hari, kita bisa geleng-geleng kepala keheranan.
 
Simak fakta berikut. Pada Januari, tarif yang semula Rp 615 per kwh berubah menjadi Rp 791 per kwh. Pada Maret berubah lagi menjadi 1.034 per kwh, sedang Mei tarif menjadi Rp 1.352 per kwh. 
 
Apa arti tarif listrik Rp 1.352 per kwh? Jika  dalam sebuah rumah terdapat sepuluh lampu masing-masing berkekuatan 10 watt, maka jumlah 1 kwh itu tercapai jika semua lampu tersebut menyala selama 10 jam. Harga Rp 1.352 per kwh untuk menerangi rumah selama 10 jam dengan 10 lampu 10 watt itu relatif murah. Harga Rp 1.352 per kwh itu setara dengan harga sebatang rokok kretek merek terkenal itu. Harga Rp 1.352 per kwh itu juga hanya bisa dipakai untuk 5 atau 10 kali mengirim SMS. Harga itu bahkan jauh lebih murah dari tarif parkir yang dipatok Rp 6.000 selama dua jam pertama di Bandara Juanda.
 
Dulu, sebelum subsidi BBM dicabut, kita ingat ada yang membandingkan betapa harga satu liter premium lebih murah dari harga air minum dalam botol. Padahal, proses pembuatan kedua produk itu sangat berbeda kerumitan dan biayanya.
 
Bangsa kita mungkin terlalu lama dimanjakan dengan subsidi. Untuk kalangan masyarakat miskin yang patut dibantu, subsidi tentu perlu dan harus terus dilakukan. Tetapi untuk kalangan menengah atas, yang bermukim di rumah-rumah tembok dengan beberapa kendaraan di parkir di halaman, subsidi tentu saja merupakan hal yang mubazir. 
 
Pemerintah mau tidak mau dituntut untuk konsisten memegang komitmen menjalankan subsidi tepat sasaran. Noor Ipansyah
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>