Menjaga Kebhinekaan di Era Keterbukaan Informasi

Senin, 27 November 2017  16:48

Menjaga Kebhinekaan di Era Keterbukaan Informasi

Bhineka Tunggal Ika

Oleh : Dr. Sri Ayu Astuti, S.H
Dosen FH Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Kebhinekaan dapat juga dibahasakan dalam arti beraneka. Ada juga yang menggunakan dengan makna keberagaman. Keberagaman inilah yang menjadi filosofi hidup bangsa Indonesia

Kebhinekaan atau keberagaman itu hadir di ruang bangsa ini bukan dibuat–buat atau direkayasa. Keberagaman ini merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan adanya keberagaman itu, bangsa Indonesia menjadi berwarna dengan berbagai adat, suku bangsa dan budaya. Mereka semua hidup dengan harmoni, damai, sejahtera  dalam karunia yang tak terhingga.  Berbagai bangsa di dunia takjub dengan pesona Indonesia sebagai Negeri yang mendapatkan anugerah tak berbatas itu. Sebut saja panorama alam yang sangat indah, kekayaan alam yang melimpah, dan interaksi kehidupan masyarakat sosial dengan keragaman budaya yang menyatu dalam nafas kebangsaan bernama Indonesia.

Itulah cerita indah tentang negeri nan elok Indonesia. Indonesia yang beragam dinaungi dengan satu visi yang sama adalah satu untuk Indonesia, misi yang juga sama Indonesia. Semua keberagama itu dikemas dalam rumah tempat bernaung yang bernama Indonesia. Seiring keterbukaan politik Indonesia, lalu mulai masuknya berbagai unsur yang timbul dari interaksi masyarakat Internasional, Indonesia mulai terseret arus globalisasi.  Arus globalisasi ini kini terwujud dalam bentuk komunikasi internasional dalam ruang yang terasa luas namun sempit. Dikenal dengan perubahan teknologi yang sekaligus mempengaruhi pola interaksi masyarakat Indonesia yang beragam.

Dalam ruang sunyi cyber yang akrab dengan masyarakat dimasa milenial ini, bukan hanya budaya dan perangkat adat masyarakat saja yang terkena imbasnya tetapi ego kedaerahan mulai terusik, karena berbenturan dengan kepentingan politik yang digunakan oleh sekelompok orang atas kepentingan kelompoknya. Keberagaman tanpa sadar telah dijadikan alat untuk mengambil kepentingannya.

Kendati demikian keberagaman takan pernah rusak bila perilaku adat dan budaya asli Indonesia terus dijaga. Melalui kemampuan menguasai teknologi media, maka mulailah memperkenalkan betapa dahsyatnya Indonesia dengan keberagamannya dapat menyatu. Adat budaya, dan bahasa yang berbeda justru menjadi pelangi jiwa yang mampu memagari gangguan arus global komunikasi, informasi melalui media teknologi dalam fungsi kemanfaatannya.

 

Melawat  Sejarah Adat Bangsa Indonesia

Dalam lawatannya ke Pulau Bangka Tengah beberapa waktu lalu, penulis telah menyaksikan betapa teguhnya perjuangan bapak Pendiri bangsa Soekarno dan Moh.Hatta yang diasingkan di tempat tersebut. Dalam tempat yang serba terbatas itu, mrreka mampu menuangkan pemikiran besar tentang berdirinya Indonesia Merdeka. Sungguh tak terkira, Provinsi Bangka Belitung dengan Kepulauan yang Indah dan pasir besinya yang terhampar, menyisakan cerita tentang keberagaman masyarakat setempat yang hidup berdampingan tanpa ada taburan benih-benih kebencian. Sejarah juga membuktikan di Muntok itu dapat kita lihat rumah suci bagi masing-masing agama dan kepercayaan berdiri bersisian bangunannya di sebelah kanan Masjid tua untuk kamu muslim dan di sebelah kiri klenteng untuk masyarakat Tionghoa yg menganut agama Kong Hu Chu, dan itu hanya salah satu contoh, masih banyak contoh lainnya.

Hendaknya masyarakat muda yang hidup dalam ruang dan waktu kekinian dengan istilah bahasa populer jaman NOW,  kiranya dapat menjaga keberagaman itu untuk saling tukar lawatan sejarah. Pemerintah hendaknya mampu menghidupkan kembali bentuk lawatan sejarah dengan melalui banyak program pendekatan kebudayaan dan keberagaman pengenalan bahasa dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.

Pendekatan kebudayaan melalui pengenalan langsung adat istiadat antar pertukaran pelajar, secara serentak bukan yang terpilih saja, menjadi kata kunci mengikat emosi kebangsaan generasi muda bangsa dalam mengenal dirinya sendiri yaitu keberagaman bangsa Indonesia.

Diikuti pula pendekatan media massa dan mengajar pada masyarakat muda untuk selalu berkarya dalam membuat Vlog tentang keberagaman kebudayaan bukan saja hanya pada bentuk keseniannya, tapi menyampaikan juga kuliner khas dari masing-masing yang ada pada suku bangsa di Indonesia ini. Dengan demikian bentuk proxy war, dapat kita minimalisir engan penguatan konsep cinta budaya dan kebhinekaannya dengan warna-warni Indonesia, pada setiap langkah anak bangsa melalui berbagai kegiatan nyata.

Mengenal kebaharian dalam lawatan pulau-pulau Indonesia yang sangat luar biasa dalam kemaritimannya. Disadari memang kita harus kembali pada alam Indonesia dan disetiap sekolah juga memperkenalkan berbagai bentuk seni dari adat budaya bangsa Indonesia yang penuh dengan keberagamannya itu.

Indonesia bukan negara konflik. Gangguan politik Internasional dari luar dapat kita redam dengan satu kata hati dan cinta Indonesia yang kaya harus kita pagari dengan jiwa bangsa dan penguatan emosi kebangsaan dengan pendekatan kebangsaan di ruang daerah, dengan penggunaan komunikasi dan media yang sehat. Itu berarti perlu campur tangan pemerintah daerah dan masing-masing kepala daerah duduk bersama, bermusyawarah cobalah mulai menawarkan kembali bahwa bentuk musyawarah dan mufakat dalam ruang politik itu perlu pendekatan jiwa dan nurani tentang kehidupan kebijakan lokal (lokal wisdom) dengan masyarakat daerah dan melibatkan masyarakat muda pemilik Indonesia ke depan. Indonesia hadir dalam keberagaman (kebhinekaan) dan kebhinekaan itu adalah Indonesia, wajah Indonesia bentuk yang beragam lahir dari kearifan lokal yang terwujud SATU INDONESIAKU NKRI. (*)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>