Dampak Perang Dagang, Investasi Asing Makin Seret

Rabu, 30 Januari 2019  17:36

Dampak Perang Dagang, Investasi Asing Makin Seret

Jakarta (BM) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia masih dihadapkan oleh ketidakpastian global yang berasal dari negara maju maupun negara-negara kawasan Asia. Hal itu diungkapkan saat menjadi pembicara di Mandiri Investment Forum (MIF) 2018 di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Di depan sekitar 600 investor dan 200 nasabah korporasi Bank Mandiri, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyampaikan bahwa pelemahan ekonomi dunia masih disebabkan oleh krisis keuangan di Argentina dan Turki.

"Bahkan India yang merupakan champion juga bergejolak. Indonesia bukan pengecualian, tapi dengan kebijakan antara pemerintah, sentral bank, OJK ,kita bisa me-manage 2018 yang relatif baik," kata Sri Mulyani.

Koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan OJK dengan melakukan penyesuaian kebijakan untuk menghadapi situasi ekonomi dunia yang cepat berubah.

"Itu lah kenapa kita memperoleh nilai baik. Kalau dilihat bagaimana mereka menilai proses kebijakan Indonesia, ada pertumbuhan ekonomi lebih kuat," jelas dia.

Sri Mulyani bilang bawa ketidakpastian global di tahun 2018 akan melanjut ke tahun 2019. Namun, untuk melalui tahun ini harus tetap memanfaatkan momentum capaian di tahun sebelumnya.

"Indonesia harus tetap tangguh dalam maintaining momentum stabilitas dan memperkuat fundamental," ungkap dia.

Sri Mulyani Indrawati mengatakan kondisi transaksi berjalan yang masih defisit (current account deficit/CAD). Maka Indonesia selalu mendapat hukuman dari pasar.

Hukuman tersebut adalah aliran modal yang keluar dari pasar Indonesia atau capital outflow. Keluarnya dana segar tersebut untuk mencari tempat yang lebih nyaman dengan berbagai fasilitas fiskal.

"Jadi kalau situasi itu terjadi anda punya CAD anda menjadi sasaran dianggap bisa dihukum dan hukumannya berupa capital outflow dan depresiasi," kata Sri Mulyani di acara Mandiri Investment Forum (MIF) di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Untuk memitigasi melebarnya defisit, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebutkan dengan cara mengurangi impor. Demi menjaga kepercayaan para investor, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) serta lembaga keuangan lainnya terus melakukan konsolidasi.

"Tapi selama masa itu adalah peran pemerintah yang harus sampaikan ke pasar bahwa kita punya kepemimpinan

"Ini yang disebut dengan proses pengambilan keputusan yang kredibel. Walaupun anda harus dalam situasi yang sulit," ujar dia.

 

Investasi Menurun

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat adanya penurunan realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) di tahun 2018. Penurunan tersebut disebut-sebut karena sentimen perang dagang.

Menurut laporan BKPM, awalnya realisasi PMA di tahun 2017 menyentuh angka Rp 430,5 triliun di tahun 2018 hanya Rp 392,7 trilun. Jumlah tersebut turun sebesar 8,8%.

Kepala BKPM, Thomas Lembong menilai penurunan realisasi PMA ini salah satunya karena adanya ekskalasi sentimen perang dagang AS-Cina. Hal tersebut membuat FDI (penanaman investasi internasional langsung) turun.

"Pertama begini, soal AS mengekskalasi perang dagang di Maret dan April. Hal tersebut membuat shock yang signifikan terhadap sentimen invest secara global," ungkap Thomas, pada konferensi pers di Kantor BKPM, Jakarta (30/1/2019).

Menurut data PBB, kata Thomas, angka FDI secara global menurun sebanyak 20%. Tahun 2018 menurutnya merupakan tahun yang sangat sulit bagi dunia investasi.

"Data UN, menunjukan FDI internasional secara global turun 20%. Tahun lalu (2018) adalah tahun yang sangat sulit untuk FDI, untuk dunia investasi secara global," kata Thomas.

Menurut Thomas nilai PMA turun karena beberapa sebab, mulai dari kelemahan tenaga kerja, hingga regulasi yang tumpang tindih.

"Apalagi perlu ada pengimbangan untuk kelemahan lain seperti skill defisit tenaga kerja kita, dan kesulitan regulasi, regulasi tumpang tindih dan ini sedang disederhanakan," ungkap Thomas.

Selain itu, Thomas menilai insentif dan kemudahan yang diberikan pemerintah kepada para investor kurang efektif. "Harus diakui dari angka data yang sudah real number bahwa insentif kita belum berhasil, belum nendang dibandingkan harapan kita," ungkapnya.

BPKM memprediksi ada 3 sektor usaha yang dapat menggenjot pertumbuhan investasi di tahun 2019. Kepala BKPM, Thomas Lembong mengatakan bahwa industri e-commerce menjadi peluang terbesar untuk menggenjot penanaman modal. Menurutnya, industri tersebut memiliki dampak multi investasi yang besar terutama ke sektor properti dan real estat.

"e-Commerce ini dampak multi investasinya banyak. Pertama, mereka kan pasti mau memperluas karyawannya, otomatis mereka butuh kantor kan," ungkap Thomas pada konferensi pers di kantornya, Rabu (30/1/2019).

Menurut Thomas, industri e-commerce dapat mendorong investasi di bidang properti. Salah satunya karena kebutuhan aspek logistik.

"Selain kantor, mereka juga akan investasi properti lagi. Misalnya di aspek logistik, seperti pergudangan, mereka pasti butuh investasi properti," kata Thomas.

Selain itu, industri pariwisata dalam negeri juga bisa menggenjot penanaman modal. Kemajuan itu disebabkan karena industri pariwisata tengah hangat digalakkan.

"Kemarin saya ngobrol sama bu walikota Surabaya, saya iseng nanya okupansi hotel di Surabaya, sudah 90% ternyata. Belum lagi ditambah, retribusi dan perpajakannya tumbuh 20% per tahun di sana," kata Thomas.

Hal tersebut menurut Thomas merupakan bukti bahwa pariwisata sedang menjadi bisnis andalan. Menurutnya, bisnis pariwisata menjadi andalan perkembangan investasi.

"Itu contoh, di mana sektor wisata seperti perhotelan benar-benar berkembang. Sektor wisata juga bisnis travel, itu bolak-balik ngomongin bisnis, dari situ bisa mendukung perkembangan investasi," ungkap Thomas.

Selain itu, Thomas juga menambahkan industri smelter pun bisa menjadi andalan menggenjot penanaman modal. Industri smelter sendiri bergerak di bidang pemurnian logam.(det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>