Gubernur BI: 3 Perubahan Global Pengaruhi Ekonomi Nasional

Senin, 04 Juni 2018  18:04

Gubernur BI: 3 Perubahan Global Pengaruhi Ekonomi Nasional

Gubernur BI Perry Warjiyo

Jakarta (BM) - Gubernur BI Perry Warjiyo melakukan rapat kerja (raker) dengan Komisi XI DPR tentang pembicaraan pendahuluan dalam rangka penyusunan RAPBN Tahun 2019. Di acara tersebut Perry mengungkapkan ada tiga perubahan ekonomi global yang memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional.

Ia mengatakan, sejak awal Februari 2017 menjadi awal ekonomi global mengalami perubahan yang memberikan dampak terhadap seluruh negara termasuk Indonesia.

"Pertama, pergantian chairman The Fed didukung pula oleh ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tumbuh dengan baik," kata Perry di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (4/6/2018).

Dengan pergantian itu, kata Perry, muncul suatu probabilitas kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebanyak 3 kali bahkan ada yang memperkirakan sebanyak 4 kali.

"Probabilitas FFR naik 3 kali mendekati 50%, kalau kita lihat kemungkinan 4 kali itu dari periode sebelumnya 31%, kemungkinan FFR lebih 3 kali direspon kenaikan suku bunga di pasar, kebijakan pemerintah AS yang ekspansif dari fiskalnya sehingga mendorong defisit fiskal yang lebih tinggi," tambah dia.

Faktor selanjutnya adalah kuatnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang dunia lainnya.

"Kelihatan indeks dolar bagaimana meningkat, ini yang menyebabkan kenapa kepada seluruh dinia. Dampak dari situ terjadi pengetatan likuiditas di global," jelas dia.

Sedangkan faktor selanjutnya adalah kombinasi kebijakan fiskal AS yang sangat ekspansif, salah satu contohnya adalah mengenai penurunan tarif pajak yang mendorong pada defisit anggaran.

"Kombinasi 3 faktor ini, kenaikan FFR lebih tinggi, defisit tinggi, itu yang mendorong suku bunga obligasi AS meningkat, 10 tahun paling hanya 2,7%, paska Februari cukup pesat mencapai 3,1%, terjadi perkiraan akhir tahun ini suku bunga treasury bisa menjadi 3,3%," tutup dia.

Bank Indonesia (BI) memproyeksi ekonomi nasional sepanjang 2018 akan tumbuh di kisaran 5,1-5,5%. Angka tersebut masih hampir sama dengan yang ditarget pemerintah yakni 5,4%.

"Pertumbuhan ekonomi kita lihat, Bank Indonesia perkirakan 5,1-5,5% 2018, sumbernya di samping konsumsi, ada juga dari perbaikan ekspor, investasi," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Selain itu, Bank Indonesia juga memproyeksikan tingkat inflasi berada di level 3,6% di 2016. Sedangkan nilai tukar rupiah rata-rata Rp 13.800-Rp 14.100 per US$ di sepanjang 2018.

"Tekanan nilai tukar pernah Rp 14.300 seminggu terakhir sejak 24 Mei, sekarang Rp 13.780 dan cukup stabil sejak minggu lalu," jelas dia.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Perry mengungkapkan ada 3 hal yang dilakukan. Pertama, memastikan ekonomi nasional dalam kondisi baik. Kedua, menjaga stabilitas dengan mengambil keputusan. Ketiga, menjalin komunikasi terus menerus terhadap pelaku ekonomi.

"Itulah kami sepakat untuk pemerintah perkuat koordinasi, memperkuat stabilitas, dalam konteks nilai tukar, inflasi rendah," jelas dia.

Sedangkan untuk 2019, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi di level 5,2-5,6p, inflasi 3,5% plus minus 1%, nilai tukar rupiah Rp 13.800-Rp 14.100 per US$.

"Untuk 2019. Sejumlah potensi mendorong pertumbuhan dari sisi global itu yang cukup baik, harga komoditas yang tinggi membuat kinerja ekspor kita baik, stimulus fiskal juga mendorong pertumbuhan dan juga membaiknya investasi swasta, menggerakan permintaan domestik," tutup dia.(det/tit)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>