IHSG Anjlok, Defisit Perdagangan Terdalam Sepanjang Sejarah
Kepala BPS Suhariyanto saat konferensi pers di kantornya, Jakarta.
By: admin
15 Mei 2019 18:49
 
 

Sri Mulyani: Pemilu dan Lebaran Picu Defisit Perdagangan


Jakarta (BM) -  Defisit neraca dagang Indonesia pada April 2019 mencapai 2,5 miliar dolar AS, lebih besar dibanding dengan defisit pada periode yang sama di tahun lalu, yakni 1,63 miliar dolar AS. Dikutip dari data Trading Economics, nilai defisit tersebut merupakan 'yang terdalam sepanjang catatan statistik yang ada.

Pada 1960 hingga 2019, rata-rata nilai neraca dagang di Indonesia adalah 738 juta dolar AS. Surplus tertinggi diraih pada Desember 2006 dengan nilai 4,64 miliar dolar AS.

Sedangkan, sebelumnya, rekor defisit terdalam terjadi pada Juli 2013 dengan nilai 2,32 miliar dolar AS sebelum akhirnya ‘dikalahkan’ oleh defisit April 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca dagang pada April 2019 berasal dari defisit neraca dagang migas 1,49 miliar dolar AS non migas 1,0 miliar dolar AS. Defisit ini menjadi defisit pertama sejak Januari, di mana ekspor menurun 13,1 persen secara year-on-year, sementara penurunan impor lebih lambat, 6,58 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit akumulasi Januari hingga April 2019 dengan nilai 2,56 miliar dolar AS. Total tersebut didapatkan dari migas yang mengalami defisit 2,7 miliar dolar AS karena hasil minyak alami mengalami defisit lumayan dalam. "Sedangkan, non migas surplus 204,7 juta dolar AS," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (15/5).

Untuk migas, ekspor mengalami penurunan signifikan secara yoy, dari 1,17 miliar dolar AS menjadi 741,9 juta dolar AS atau turun 37 persen. Impor migas juga mengalami kondisi yang sama dengan penurunan 3,99 persen.

Pada April 2018, tercatat nilai impor migas adalah 2,32 miliar dolar AS dan menjadi 2,23 miliar dolar AS pada April 2019.

Untuk non migas, ekspornya juga mengalami penurunan 10,98 persen dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu. Yakni, dari 13,31 miliar dolar AS pada April 2018 menjadi 11,85 miliar dolar AS pada April 2019. Sedangkan, impornya turun 7,02 persen, dari 13,83 miliar dolar AS menjadi 12,86 miliar dolar AS.

 

Ekspor - Impor Turun

BPS mencatat, nilai ekspor dan impor pada April 2019 mengalami penurunan secara year on year (yoy) atau jika dibanding dengan April 2018. Sementara nilai ekspor turun 13,10 persen, nilai impor turun 6,58 persen.

Penerapan Tarif Impor Rugikan China dan AS  Regulasi Direvisi, Impor Limbah Plastik Belum Tentu Disetop  Impor Avtur Disetop, Neraca Migas Mei Diprediksi Membaik

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, nilai ekspor pada April 2019 adalah 12,60 miliar dolar AS, sedangkan pada April 2018, nilainya mencapai 14,49 miliar dolar AS. Salah satu penyebabnya adalah penurunan ekspor migas secara yoy hingga 37,06 persen. "Dari 1,1 miliar dolar AS menjadi 741 juta dolar AS," ucapnya dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (15/5).

Penurunan ekspor migas juga terjadi secara month to month (mtm) hingga 34,95 persen. Pada Maret 2019, nilai ekspor migas mencapai 1,14 miliar dolar AS.

Menurut Suhariyanto, penurunan ini disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak 9,55 persen menjadi 117,7 juta dolar AS dan ekspor gas 49,83 persen menjadi 466,6 juta dolar AS. Di sisi lain, ekspor minyak mentah naik 47,66 persen menjadi 177,6 juta dolar AS.

Suhariyanto menambahkan, penurunan nilai ekspor pada April sudah menjadi pola setiap tahun. Hampir pada April di setiap tahun mengalami penurunan, termasuk pada 2017 dan 2018.

Sementara itu, nilai impor pada April mencapai 15,10 miliar dolar AS atau turun dari April 2018 yang mencapai 16,16 miliar dolar AS. Suhariyanto menilai, penurunan ini menunjukkan, ada beberapa komoditas yang memang terkena pengendalian impor. "Sehingga, total nilai pada bulan ini lebih kecil dibanding dengan tahun lalu," ucapnya.

Secara m-to-m, nilai impor justru mengalami kenaikan 12,25 persen, dari 13,45 miliar dolar AS pada Maret 2019. Menurut Suhariyanto, pola tersebut juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, di mana impor biasa mengalami peningkatan saat mendekati Lebaran.

Dari nilai impor 15,10 miliar dolar AS, sebanyak 2,3 miliar dolar AS di antaranya berasal dari impor migas. Angka tersebut mengalami penurunan 3,99 persen dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu, sedangkan naik 46,99 persen dibanding dengan Maret 2019.

Sisanya, 12,86 miliar dolar AS merupakan kontribusi dari impor non migas. Angka ini mengalami penurunan 7,02 persen secara yoy, tapi mengalami pertumbuhan 7,82 persen secara m-to-m.

Secara umum, BPS mencatat, neraca perdagangan April 2019 mengalami defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS. Defisit tersebut berasal dari defisit neraca dagang migas 1,49 miliar dolar AS maupun non migas 1,0 miliar dolar AS.

Defisit juga terjadi pada neraca dagang akumulasi Januari hingga April 2019 dengan nilai 2,56 miliar dolar AS. Total tersebut didapatkan dari migas yang mengalami defisit 2,7 miliar dolar AS karena hasil minyak alami mengalami defisit lumayan dalam. "Sedangkan, non migas surplus 204,7 juta dolar AS," kata Suhariyanto.

 

Pemilu dan Lebaran

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memperkirakan masa Pemilu serta masa Lebaran menjadi salah satu pemicu neraca perdagangan mengalami defisit besar pada April 2019.

"Bisa jadi karena banyaknya keputusan yang diambil itu harusnya Januari sampai Maret, tapi akhirnya terealisasi bulan April karena menunggu Pemilu. Kemudian juga karena mengejar masa sebelum Lebaran, akhirnya membuat decision banyak yang dikejar di bulan April ini, sehingga semua menumpuk pada bulan April," kata Menkeu usai menjadi pembicara di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Rabu (15/5).

Namun, Sri Mulyani menjelaskan bahwa itu masih asumsi. Ia mengatakan akan meninjau lagi komposisi apa yang mempengaruhi defisit neraca perdagangan. Beberapa saat sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 mengalami defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS, yang disebabkan oleh defisit sektor migas dan nonmigas masing-masing sebesar 1,49 miliar dolar AS dan 1,01 miliar dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Rabu, mengatakan defisit neraca perdagangan April mematahkan tren positif yang sudah dibukukan dalam dua bulan sebelumnya yaitu surplus 540 juta dolar AS pada Maret dan 330 juta dolar AS pada Februari.

"Ketika neraca dagang membukukan defisit, maka defisit transaksi berjalan atau 'current account deficit' akan menjadi sulit untuk diredam," ujar Ibrahim.

Seperti diketahui, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal-I 2019 adalah senilai 7 miliar dolar AS atau setara dengan 2,6 persen dari PDB, jauh lebih lebar dari defisit periode yang sama tahun lalu 5,19 miliar dolar AS atau 2,01 persen dari PDB.

Dari eksternal, perkembangan positif terkait perang dagang AS-China membuat dolar AS perkasa dan menjadi incaran investor. Setelah seringkali mengeluarkan pernyataan yang keras terhadap China, belakangan justru Presiden AS Donald Trump nampak melunak.

"Kini, Trump menyebut bahwa perang dagang dengan China hanya merupakan 'pertengkaran kecil' serta bersikeras bahwa negosiasi antar dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia tersebut belum putus," kata Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.445 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.438 per dolar AS hingga Rp14.463 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp14.448 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.444 per dolar AS.

 

IHSG

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tergelincir 1,49% ke level 5.980 di akhir perdagangan Rabu (15/5). Rilis defisit neraca dagang jadi penyebab IHSG terjun bebas.

Analis Panin Sekuritas, William Hartanto mengatakan, faktor utama yang membuat IHSG turun dalam adalah hasil data neraca perdagangan yang menunjukkan defisit cukup lebar.

 “Di luar ekspektasi, karena data ekonomi Indonesia masih jadi faktor yang membuat pasar modal masih menarik, tapi ternyata hari ini parah,” ujar William, Rabu (15/5).

Kendati demikian, sentimen dari data ekonomi menurutnya akan berdampak sesaat saja. Lagi pula, IHSG menurutnya sudah oversold jadi dalam waktu dekat seharusnya IHSG sudah bisa rebound kembali untuk menguji level 6.000.

William menambahkan, besok pihaknya memproyeksikan IHSG masih akan menurun di rentang 5.800 sampai 6.100 karena kemungkinannya masih ada aksi jual yang dilakukan oleh investor asing merespon kondisi ekonomi dalam negeri.

Senada, Analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji mengatakan, neraca dagang Indonesia pada April mengalami defisit US$ 2,5 miliar. Padahal neraca dagang Indonesia pada Maret tercatat surplus US$ 0,54 miliar.

Itu yang membuat pelemahan IHSG hari ini sangat dalam. Padahal sebelumnya, IHSG mengalami penguatan karena merespon positif dari meredanya sentimen perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Terkait pergerakan IHSG besok, Nafan masih memproyeksikan IHSG masih akan disetir oleh perang dagang. Namun akhir pekan ini diharapkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mengenai arah suku bunga acuan bisa meredam sentimen negatif terhadap IHSG.

“BI 7 days reverse repo rate (BI7DRRR) besok diprediksi masih 6%. IHSG sendiri masih akan melemah di rentang 5.896-6.149,” ujar Nafan. (kon/det/rep/tit)


Create Account



Log In Your Account