Investasi Asing Anjlok, Rekor Sejak 2013

Selasa, 14 Agustus 2018  18:16

Investasi Asing Anjlok, Rekor Sejak 2013

Kepala BKPM Thomas Lembong

Jakarta (BM) – Tak hanya rupiah yang terpuruk terhadap mata uang Dolar AS, tetapi nilai investasi asing juga mengalami penurunan tertinggi sejak tahun 2013. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat adanya penurunan realisasi investasi dari triwulan I-2018 sebesar Rp 185,3 triliun menjadi Rp 185,3 triliun di triwulan II-2018.

BKPM mencatat realisasi penanaman modal triwulan II-2018 (April-Juni) Rp 176,3 triliun. Angka itu turun dibanding realisasi investasi triwulan I-2018 (Januari-Maret) sebesar Rp 185,3 triliun.

Salah satu faktornya realisasi penanaman modal asing (PMA) turun sebesar 12,9% dari Rp 109,9 triliun menjadi Rp 95,7 triliun. Untungnya realisasi investasi di sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) di triwulan II-2018 naik 32,1% dari Rp 61 triliun di triwulan I-2018 menjadi Rp 80,6 triliun.

Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis mengatakan, penurunan realisasi investasi PMA saat ini merupakan pertama kalinya terjadi sejak 2013.

"Iya, ini pertama kali sejak 2013. Ini data kami sejak 2013. Dari 2013 itu enggak pernah kejadian," tuturnya di Gedung BKPM, Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Jika dilihat secara triwulanan, menurut Azhar pertumbuhan realisasi investasi PMA memang terus mengalami perlambatan.

"Misalnya triwulan II-2017 itu Rp 109,8 triliun, triwulan III-2017 Rp 111,7 triliun, triwulan IV Rp 112 triliun. Jadi hampir nol pertumbuhannya. Ini perlambatannya sudah kelihatan, terus turun hingga akhirnya minus," tambahnya.

Jika dilihat dari negara asalnya penurunan realisasi PMA yang paling besar terjadi dari Korea Selatan yang turun dari US$ 900 juta menjadi US$ 250 juta. Lalu realisasi investasi Jepang turun dari US$ 1,4 miliar menjadi US$ 1 miliar, Singapura turun dari US$ 2,6 miliar menjadi US$ 2,4 miliar, sedangkan dari Tiongkok masih sama US$ 700 juta.

"Korea Selatan itu turun paling jauh, makanya dia enggak masuk lagi 5 negara investasi paling besar di Indonesia," tambahnya.

Untuk realisasi investasi PMA paling besar masih dari Singapura sebesar 33,5%, lalu Jepang 14,4%, kemudian Tiongkok 9,4%, Hong Kong 8,2%, Malaysia 5,3% dan sisanya 29,2% dari negara lainnya.

 

Krisis Turki

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengatakan, krisis ekonomi di Turki akan memberikan pengaruh pada realisasi investasi PMA 2018.

"Dampak krisis Turki, transmisinya adalah melalui pasar uang dan pasar modal, yang mana terjadi penurunan likuiditas terutama dolar di seluruh dunia akibat penarikan kembali investor modal yang mereka investasikan di negara berkembang," kata Thomas Trikasih Lembong di Gedung BKPM, Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Menurut Thomas penarikan modal yang dilakukan investor asing dilakukan negara-negara dengan ekonomi berkembang termasuk Indonesia. Hal itu pun cukup memberikan pengaruh pada realisasi investasi.

Dia juga memperkirakan, krisis ekonomi di Turki akan memberikan pengaruh pada realisasi investasi PMA di triwulan III dan IV 2018. Meskipun dia masih yakin target realisasi investasi tahun ini sebesar Rp 765 triliun masih bisa dicapai meski berat.

"Kemudian tentunya juga sekarang berimbas pada krisis moneter di Turki yang sedang berjalan. Memang kami perhatikan ini bisa membawa dampak bagi investasi di triwulan 3 dan 4 tahun ini," ujar Thomas Lembong.

Meski begitu Thomas yakin pemerintah akan mencari upaya untuk menepis imbas dari krisis ekonomi di Turki. Dia juga yakin imbas krisis ekonomi di Turki juga akan menjadi pembahasan dalam acara pertemuan IMF-World Bank di Bali pada Oktober 2018 mendatang.

"Pertemuan IMF-World Bank ini jadi peluang emas bagi Indonesia untuk membawa kepentingan semua negara berkembang. Kami juga tunggu dari Menteri Keuangan dan Gubernur BI, ide-ide apa yang bisa dibawa ke acara tersebut," ucapnya.

 

Tak Terpengaruh

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memastikan Indonesia tidak terpengaruh dengan krisis ekonomi yang sedang menimpa Turki, akibat anjloknya mata uang lira terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Indonesia dikatakan JK memiliki nilai perdagangan yang relatif kecil dengan Turki.

"Kita kan perdagangan kita tidak banyak, US$ 1 miliar, US$ 2 miliar (Turki) dengan Indonesia," kata JK di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (14/8/2018).

Turki memiliki hubungan perdagangan yang bernilai besar dengan negara-negara di sekitarnya khususnya negara-negara Eropa.

"Dia hubungannya dengan Eropa dengan negara-negara sekitarnya, perdagangan kita tidak besar," ujarnya.

JK juga menyebut Indonesia dan Turki berbeda dari segi ekonomi, salah satunya tingkat inflasi Turki yang lebih tinggi dari RI.

"Saya kira kita beda dengan Turki, saya baru bicara dengan Ibu Ani (Menkeu Sri Mulyani), itu Turki dengan Indonesia beda, dia inflasinya 17% kita cuma 3,5%" tuturnya.

Sri Mulyani yang saat itu bersama JK meluruskan, inflasi Turki yang disebut JK 17% adalah 15,9%. JK juga menyebut Turki memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan tingkat inflasi yang tinggi.

"Pertumbuhannya dia lebih tinggi dari kita, tapi karena pertumbuhan lebih tinggi dari kita, tapi infalsinya tinggi, itu uang itu menjadi lemah jadinya," ujarnya. (det/mer/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>