Kemendag Usut 5 Ton Bawang Putih Ilegal Diduga dari China

Senin, 12 Maret 2018  17:45

Kemendag Usut 5 Ton Bawang Putih Ilegal Diduga dari China

Veri Anggriono Sutiarto

Jakarta (BM) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menemukan delapan kontainer atau kurang lebih 5 ton bawang putih impor ilegal. Impor bawang putih tersebut seharusnya untuk bibit, tetapi justru dijual ke pasar.

Direktur Tertib Niaga, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Veri Anggriono Sutiarto menjelaskan, Kementerian Perdagangan tengah menelusuri perizinan dan asal muasal hasil temuan bawang putih impor yang diduga ilegal dan tak memenuhi peraturan wajib administrasi.

"Kami sudah tarik 5 ton bawang putih ilegal dari Pasar Induk Kramat Jati. Ada delapan kontainer yang kami inventarisasi, yang masuk," tutur Veri di Kompleks Pergudangan Jakarta Distribution Center (JDC), Kamal Muara, Pejaringan Jakarta Utara, Senin (12/3/2018).

Ia menduga, bawang putih impor ilegal tersebut telah didistribusikan dan menyebar ke berbagai kota lainnya baik di Pulau Jawa hingga Pulau Sumatera. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan akan melakukan penelusuran ke Medan secara langsung.

"Kami cek di Medan. Kami akan cek kembali pendalaman kami terkait ini," ungkapnya.

Dari jumlah total kontainer yang ditemukan, Kemendag mengungkapkan bahwa bawang putih impor ilegal ini jumlahnya cukup signifikan.

Penyelewengan yang dilakukan importir adalah dengan menggunakan izin bibit tetapi kemudian setelah masuk ke Indonesia dijual langsung ke pasar.

"Jadi kalau mau impor bibit bawang putih ya bibit sajalah, jangan dijual ke pasar," tuturnya.

Veri menjelaskan bahwa ia akan melakukan gelar temuan. "Ya nanti barangnya akan kami perlihatkan. Ini contoh bibit bawang putih yang dijual ke Pasar Kramat Jati. Ini kita duga dari China," tandasnya.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut PT Tunas Sumber Rejeki sebagai importir yang diduga melanggar aturan administrasi pengiriman bawang putih di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur. Hal ini menyusul tindakan penyegelan bibit bawang putih pada pekan lalu.

"Kami telah mengantongi nama importir pemasok bibit tersebut dan tidak segan akan memberikan sanksi jika terbukti melanggar ketentuan importasi," tegas Veri Anggriono.

Veri lebih jauh mengungkapkan Tunas Sumber Rejeki sebagai importir bibit bawang putih diduga menyalahi aturan perizinan bibit bawang putih impor.

"Nah ini bawang putih yang kita segel. Ada label 'garlic seed' atau bibit bawang putih di karungnya. Ini kita temukan tanggal produksinya Januari 2018, kan izinnya untuk bawang putih konsumsi baru Februari 2018. Sedangkan ini dijual di Kramatjati sebagai bawang putih konsumsi bukan bibit bawang putih," ungkapnya.

Veri menambahkan, Kemendag dan Kementerian Pertanian (Kementan) sedang berkoordinasi menentukan jenis bawang putih konsumsi dan bibit bawang putih.

"Iya, masih kita sedang diskusikan sekarang dengan Kementan. Apakah ini bibit, Kementan yang tahu, bukan kita," ujarnya.

Jika terbukti melanggar, Veri mengatakan, importir bisa terkena sanksi pencabutan izin impor, bahkan denda maupun pidana penjara.

"Intinya jika kita temukan pelanggaran, maka sanksi bisa berupa pencabutan hak izin impor dan denda. Kalau menurut UU No 7 Tahun 2014 bisa kena pidana 4 tahun, denda maksimal 10 miliar," terang Veri.

Dia menjelaskan seharusnya importir mampu memanfaatkan kemudahan regulasi yang saat ini diberikan oleh pemerintah.

"Dari sisi perizinan, Kementan kan ingin izin bibit itu untuk swasembada bawang putih supaya ke depan enggak impor. Jadi importir dapat izin dan untuk tanam. Jadi janganlah kebijakan atau regulasi yang mudah dari pemerintah dimanfaatkan. Masukin barang tanpa izin tanpa dokumen," tegas Veri.

Sementara itu, Direktur Utama Tunas Sumber Rejeki, Sutrisno mengaku telah mengantongi izin impor bawang putih.

"Izin impor 300 ton ditanam untuk benih. Karena bibit lokal kurang, menipis. Saya diberi izin impornya. Pintu masuknya Tanjung Priok. Ini dari China. Sebanyak 300 ton bawang putih per tahun atau 13.050 karung," tuturnya.

Sutrisno mengaku tidak mengetahui bahwa hasil impor tersebut ternyata bibit bawang putih. Dia menganggap itu bawang konsumsi meski telah tercantum tulisan bibit bawang putih.

"Bukan, intinya saya tidak tahu kenapa ini ada kertas (label tulisan garlic sheed (bibit bawang putih), karena di pasar," kata Sutrisno di Kompleks Pergudangan Pusat Distribusi, Jakarta Utara, Senin (13/3).

Lantaran menganggap itu bawang konsumsi kemudian dijual di pasaran dengan harga Rp 20.000 per kilogram. Padahal, harga bibit jauh lebih mahal dengan bawang putih konsumsi.

"Bukan ini konsumsi, aturan ini kita ikutin. Kenapa? Karena kalau dari segi ekonomis bibit kan Rp 60.000 masa kita jual Rp 20.000 kan tidak mungkin," terangnya.

Menurutnya, yang terjadi ini hanya salah paham dengan Kementerian Perdagangan. Sehingga nanti perlu ada klarifikasi untuk meluruskan hal tersebut. "Mereka menyangka kita mendistribusikan bibit benih. Satu sisi konsumsi kita masih banyak di gudang, untuk stok kan kita lapor ke Kemendag," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita, mengancam akan mencabut izin importir delapan kontainer bawang putih yang diduga menyalahi aturan tersebut. Kemendag, kata dia, sedang menelusuri kasus tersebut dengan pengecekan izin yang kemungkinan disalahgunakan.

"Kita lagi telusuri dan kami akan cek betul kalau itu terbukti dia, izinnya bibit, tapi dia kirim bawang jadi, kita akan proses hukum. Bukan hanya kita sita dan police line saja, tapi proses hukum," ujar Enggartiasto pada 6  Maret 2018.

Dia menganggap temuan bawang putih impor yang diduga ilegal tersebut sebagai tindakan yang sama dengan penyelundupan. Jika terbukti melanggar aturan, Enggartiasto mengancam akan mencabut izin perusahaan impor tersebut.

"Apa bedanya dengan penyelundupan. Akan saya cabut izinnya (importir bawang putih ilegal), jangan pernah lagi dia minta dapat izin," tegas Enggartiasto. (lip/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>