Kronis, Penderita PPOK Masih Bisa Hidup

Kamis, 22 November 2018  21:16

Kronis, Penderita PPOK Masih Bisa Hidup

JAKARTA (BM) - Philips selalu peduli dengan kesehatan masyarakat Indonesia. Royal Philips (NYSE: PHG, AEX, PHIA) mengumumkan peluncuran inisiatif global untuk merayakan keberhasilan pasien, penyedia layanan kesehatan dan perawat dalam pengelolaan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Diluncurkan bertepatan dengan Hari PPOK sedunia pada 21 November, kampanye ini bertujuan untuk membantu menginspirasi pasien PPOK dan orang-orang yang merawat mereka guna meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

 


PPOK adalah penyakit progresif yang mengancam jiwa yang diperkirakan mempengaruhi lebih dari 251 juta orang di dunia dan diperkirakan menjadi penyebab kematian ke-tiga pada tahun 2020. Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) 2013 mengungkapkan bahwa jumlah pasien PPOK naik 3,7%.

 


“Namun, data ini tidak mewakili keadaan sesungguhnya di Indonesia,” ungkap Prof. dr. Faisal Yunus dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Senin (22/11). 

 


“Sebuah studi biomass sebagai kolaborasi antara Indonesia dan Vietnam yang dilakukan pada tahun 2013 menemukan bahwa prevalensi PPOK pada pasien bebas rokok sama tingginya. Studi tersebut melibatkan responden berusia di atas 40 tahun yang tinggal di Banten dan DKI Jakarta dan menemukan prevalensi pasien PPOK sampai 6,3%.”

 


Menurut Prof. Faisal Yunus, kebanyakan pasiennya datang sudah dengan keluhan, seperti sesak napas, gampang kehabisan napas saat naik-turun tangga, dan sudah dengan kecacatan, “Jarang sekali mereka datang dengan gejala awal karena mereka tidak menyadari gejala awal pentakit itu,” ujarnya. “Selain itu, banyak juga yang beranggapan bahwa olahraga rutin atau kunjungan ke wilayah dengan udara bersih bisa mencegah penyakit paru.  Padahal ini tidak benar. Zat yang sudah terlanjur bertumpuk di paru karena asap rokok dan polusi udara, tidak akan hilang, Mereka yang sudah ada gejala dan makin parah  harus berobat ke dokter.”

 

Meskipun PPOK merupakan penyakit kronik yang tidak dapat disembuhkan, bukan berarti ini adalah penyakit yang melemahkan.Pasien akan tetap bisa hidup dengan baik meski mengidap PPOK asalkan patuh pada perawatan dan pengobatannya, sehingga mengurangi pemburukan penyakit.

 

Prof. Faisal Yunus juga menekankan masyarakat untuk menjauhi rokok, karena rokok merupakan penyebab utama dari PPOK. “Bila susah berhenti merokok, silahkan datang ke dokter paru untuk dipantau dan diberi obat yang benar, setelah itu harus rajin kontrol secara rutin. Begitu pula jika Anda bekerja di daerah rawan polusi, misalnya pabrik. Selalu gunakan masker, walau hal ini juga tidak terlalu melindungi.  Sebisa mungkin dan sering kontrol berobat.  Ingat, tidak ada vitamin atau suplemen apa pun yang dapat mencegah PPOK.” (Era)

 

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>