Menko Darmin: Kita tak Bisa Hindari Dampak Perang Dagang

Senin, 22 Juli 2018  17:59

Menko Darmin: Kita tak Bisa Hindari Dampak Perang Dagang

Darmin Nasution

JAKARTA (BM) – Trade War atau perang dagang sedang menjadi isu global yang menjadi sorotan dunia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengakui bahwa Indonesia tidak bisa menghindari dampak dari perang dagang tersebut. Mau tidak mau, Indonesia harus mampu menghadapi perang dagang tersebut.

"Kita percaya bahwa kita bisa menjawab ini (perang dagang) walaupun dampaknya pasti kena, enggak bisa enggak, karena bukan kita yang melakukan inisiatif (menyerukan)," kata Menko Darmin di kantornya, Minggu (22/7).

Perang dagang antara negara besar tidak dapat dihindari, dan dampaknya tentu saja akan langsung terasa pada nilai tukar Rupiah yang sudah pasti akan terdepresiasi atau melemah terhadap dolar Amerika.

"Kita enggak bisa menghindari yang namanya perang dagang dan sebagainya yang ujung-ujungnya itu pasti mempengaruhi kurs, nilai tukar."

Selain itu, arus modal pun otomatis akan terganggu. Oleh sebab itu Bank Indonesia (BI) dalam beberapa bulan ke belakang telah melakukan salah satu langkah antisipasi dengan cara menaikkan suku bunga acuan.

"Nah BI sudah naikkan tingkat bunga beberapa kali, pemerintah juga sudah mulai merumuskan bagaimana caranya mempercepat kenaikan ekspor atau mengurangi dan memperlambat impor terutama migas."

 

Kurs Dolar AS

Terkit kurs mata uang, nilai tukar Rupiah kembali tersungkur di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat kemarin mata uang Paman Sam itu sudah tembus Rp 14.555.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, pelemahan rupiah belum mengkhawatirkan. Sebab dari sisi poin pelemahan rupiah masih tidak terlalu besar.

"Jadi jangan menganggap kurs itu kalau masih perubahan Rp 50 atau Rp 100 itu bahaya, enggak ada bahayanya di situ," tuturnya.

Darmin menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini dibebani oleh dua kondisi global. Pertama adanya dampak perang dagang antara AS dan China yang membuat negara-negara maju ikut melakukan normalisasi kebijakan moneter.

Kedua ada sentimen dari sinyal Bank Sentral AS Federal Reserve yang hendak kembali menaikan suku bunga beberapa tahap di tahun ini. Tujuannya agar kembalinya dana-dana ke AS.

"Jerome Powell Gubernur The Fed itu mengumumkan bahwa The Fed akan mendorong supaya inflasi di AS meningkat. Kan persoalan mereka inflasi terlalu rendah," tambahnya.

Menurutnya bukan hanya negara berkembang saja yang kesal atas hal itu. Presiden AS Donald Trump pun menurut Darmin ikut kesal.

"Bukan cuman kita bahkan Trump saja mulai marah, Ini The fed kerjaannya menaikkan tingkat bunga saja. Sudah ada itu komentar itu dari Trump," tambahnya.

Meski begitu, sebagian dari negara di dunia tidak khawatir dengan itu. China misalnya dia sengaja mata uangnya terus jatuh, tujuannya agar barang-barang China yang masuk ke AS harga bisa lebih murah. Maklum AS menaikkan tarif bea masuk untuk produk-produk dari China.

"Begitu mata uang di! terus melemah dia enggak mau intervensi. Nah negara-negara di sekitar dia ikut melemah ya. Nah memang masyarakat kita banyak sekali yang sebetulnya tidak melek urusan begini ini," tambahnya.

Meski begitu, Darmi menegaskan pemerintah BI dan OJK tentu tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut. Pemerintah akan berupaya untuk memberikan suplemen agar Rupiah bisa kembali menguat.

"Kebijakan-kebijakan yang kita ambil termasuk dengan BK dan OJK tidak akan membiarkan pelemahan itu terlalu jauh. Bukan berarti kalau sudah Rp 20.000 tidak apa-apa, ya itu apa-apa. Kita akan usahakan pelemahannya jangan terlalu jauh," tutupnya.

 

Tak Semua Anjlok

Meski Dolar AS disebut terus mengalami penguatan akibat faktor global.  Namun tak semua mata uang keok melawan dolar AS ini. Mengutip data Reuters nilai Euro tercatat cenderung stagnan dan tak ada pergerakan melemah atau menguat terhadap dolar AS.

Mata uang lainnya bahkan berhasil bikin dolar AS keok alias perkasa lawan dolar AS.

Dolar AS melemah terhadap Poundsterling sebesar 0,0005, melemah terhadap Swiss Franc 0,0004 poin. Kemudian Terhadap Australian Dolar sebesar 0,0015 poin. Untuk India Rupee 0,1375 poin.

Selanjutnya terhadap dolar Kanada dolar AS juga melemah 0,0015 poin. Untuk Peso Meksiko dolar AS juga tercatat melemah 0,001 poin. Selanjutnya dengan Rubel melemah 0,1 poin.

Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan memang terjadi di mata uang global. Hal ini juga turut mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>