Neraca Dagang Tekor, Jokowi Wacanakan Tambah 2 Menteri

Selasa, 12 Maret 2019  17:56

Neraca Dagang Tekor, Jokowi Wacanakan Tambah 2 Menteri

Jokowi

Jakarta (BM) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) geram lantaran dalam kurun waktu yang lama Indonesia selalu dihadapkan dengan persoalan defisit transaksi berjalan dan juga defisit neraca perdagangan.

Menurut Jokowi, kunci untuk membenahi masalah defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan adalah investasi dan ekspor.

"Defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan membebani kita berpuluh-puluh tahun tapi tidak diselesaikan, padahal kuncinya kita tahu investasi dan ekspor, kuncinya di situ," kata Jokowi saat meresmikan Rakornas Investasi di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3/2019).

Guna terlepas dari masalah transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan. Mantan Wali Kota Solo ini pun meminta kepada pemerintah pusat dan daerah bisa memberikan kemudahan proses berusaha.

"Tahu kesalahan kita, tahu kekurangan kita, rupiahnya berapa defisit kita tahu, kok nggak kita selesaikan, bodoh banget kita kalau seperti itu," tegas Jokowi.

Menurut Jokowi, kemudahan berusaha di Indonesia harus terus digencarkan. Jangan sampai Indonesia tersalip oleh Kamboja dan Laos dalam hal investasi dan ekspor.

"Kalau kita lihat peringkat investasi kita sejak 2017 kemarin sudah masuk dalam negara yang layak investasi atau investment grade. Ini sebuah poin penting, harus dimanfaatkan," kata Jokowi.

"Dan dari tiga lembaga pemeringkat internasional, standard & poors (S&P), moodys, dan fitch ratings. Ini modal untuk kita," tambah dia.

Jokowi meminta kepada seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah untuk terus mendorong kinerja investasi dan ekspor. Tujuannya agar perekonomian nasional bisa meningkat signifikan.

Jokowi menyebut, jangan sampai kinerja investasi dan ekspor kalah dengan negara seperti Kamboja dan Laos. Padahal, Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam (SDA).

"Keduanya (investasi dan ekspor) sudah ditinggal oleh tetangga kita, kalah dengan Singapura, kalah dengan Malaysia, Thailand, Vietnam. Kita tidak mau lagi ditinggal oleh Kamboja, Laos," kata Jokowi saat meresmikan Rakornas Investasi di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3/2019).

Belum maksimalnya kinerja ekspor nasional, kata Jokowi, dikarenakan sudah terlena dan senang hanya melakukan ekspor bahan mentah atau raw material.

"Sudah berpuluh-puluh tahun lalu tidak berani masuk ke hilirisasi, industrialisasi. Gubernur, Wali Kota harus dorong dua itu. dua itu kuncinya," ujar Jokowi.

Mantan Wali Kota Solo ini mencontohkan, komoditas unggulan yang sering diekspor antara lain karet, minyak kelapa sawit (CPO). Kedua komoditas itu memiliki produk turunan yang banyak dan berdaya saing.

"Waktu booming komoditas harga global atau internasional tinggi, semua senang. Tapi lupa mendorong industrialisasi, hilirisasi. Ini kesalahan yang harus kita perbaiki," ungkap dia.

 

Di Depan Jokowi, Mendag 'Pengakuan Dosa' soal Kinerja Ekspor

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyadari bahwa kinerja ekspor Indonesia pada tahun 2018 masih belum sesuai yang diharapkan. Pasalnya, neraca perdagangan tahun lalu masih mengalami defisit.

Ekspor dan investasi merupakan dua komponen yang selalu digembar gemborkan Presiden Jokowi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Kami sadar mungkin bapak presiden akan menegur kami, bahwa Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$ 8,6 miliar di 2018. Bukan maksud kami membela diri atau lari dari tanggungjawab," kata Enggar saat membuka Rakernas Kemendag Tahun 2019 di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3/2019).

Enggar menjelaskan kenapa neraca perdagangan nasional masih mengalami tekor, meskipun kinerja ekspornya sendiri mengalami peningkatan dari sisi nilai maupun volume.

Enggar menyampaikan, faktor yang membuat neraca perdagangan masih defisit lantaran kinerja impor khususnya barang modal dan bahan baku meningkat signifikan. Peningkatan impor ini, kata Enggar sejalan dengan prioritas pemerintah membangun infrastruktur.

"Impor barang modal dan bahan baku masing-masing naik sebesar 22% dan 20%, ini semua untuk menunjang pembangunan infrastruktur dan konstruksi di tanah air," ujar dia.

Faktor selanjutnya, lanjut Enggar, dampak dari perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS) serta permintaan global yang melemah.

Meski tidak mampu memperbaiki kinerja ekspor, Enggar mengklaim bahwa Kementerian Perdagangan berhasil terlibat dalam menjaga stabilitas harga komoditas yang terlihat dari tingkat inflasi sebesar 3,13%.

Selanjutnya, Kementerian Perdagangan juga berhasil merevitalisasi 4.211 pasar baik direnovasi maupun bangun baru. Ditargetkan hingga akhir 2019 total pasar yang direvitalisasi sekitar 5.200-an.

Jokowi merasa heran bahwa masih banyak investasi yang masuk ke Indonesia namun tidak terealisasi. "Yang saya rasakan sehari-hari, investor berbondong ke kita. saya juga sering menemukan. Tapi, tidak ada yang terealisasi, ini yang salah di mana? Di pusat, provinsi, kota atau kabupaten?," kata Jokowi saat acara Rakornas Investasi di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3/2019).

Jokowi mengaku, akan mencari akar masalah yang menyebabkan investasi banyak tidak terealisasi di Indonesia.

 

"Saya akan kontrol betul mana yang salah. Investor datang ingin investasi tapi kenapa nggak menetas? ini pasti ada problemnya," jelas dia.

Mantan Wali Kota Solo ini mengaku beberapa yang menghambat proses investasi, mulai dari kecepatan pemberian izin, proses pembebasan lahan yang rumit. Sehingga, dirinya pun meminta kepada Gubernur, Bupati, dan Wali Kota bisa mempercepat dan memudahkan proses investasi.

"Ini urusan besar, pak bupati dan pak wali kota. Karena kunci pertumbuhan ekonomi kita ada di dua tadi (investasi dan ekspor)," kata Jokowi.

Berdasarkan survei United Nation tahun 2018, kata Jokowi, Indonesia merupakan negara destinasi investasi terbaik nomor empat di dunia. Survei itu dilakukan kepada para CEO Multinational Company.

Belum lagi, Indonesia telah mendapatkan rating sebagai negara layak investasi oleh tiga lembaga pemeringkat, yaith S&P, Fitch Rating, dan Moodys.

"Ini modal besar, dua tadi, ratting-nya dan survei untuk CEO-CEO perusahaan multinasional mengatakan Indonesia adalah nomor empat paling menarik bagi investasi," kata Jokowi.

"Kawal dan temani agar investasi itu terealisasi, sehingga investor merasa dilayani, diperhatikan. Banyak peluang kita sebenarnya," tambah dia.

 

Tambah 2 Menteri

Jokowi mewacanakan pembentukan dua kementerian baru atau menambah menteri baru, yakni untuk investasi dan khusus ekspor. Pasalnya, perekonomian nasional selalu dihadapkan pada persoalan defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku sudah mempertanyakan kepada jajaran menteri kabinet kerja terkait dengan pembentukan dua kementerian baru, yakni investasi dan khusus ekspor.

Hal tersebut dikarenakan perekonomian nasional selalu dihadapkan dengan persoalan defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan.

Padahal, kata Jokowi, Indonesia merupakan negara besar dan kaya akan sumber daya alam (SDA). Dengan modal tersebut, seharusnya kinerja ekspor Indonesia bisa melambung tinggi.

"Ekspor kita ke Amerika itu hanya menguasai 3%. Hanya 3% menguasai. Vietnam 16%. Coba, kita memiliki raw material yang melimpah. Ini koreksi buat kita semua," kata Jokowi saat acara Rakornas Investasi di ICE BSD, Banten, Selasa (12/3/2019).

Masih kecilnya pangsa pasar yang dimiliki Indonesia menjadi tanggung jawab pemerintah bersama.

Saya sudah sampaikan minggu lalu dalam forum rapat kabinet, apakah perlu, saya bertanya apakah perlu kalau situasinya seperti ini yang namanya menteri investasi dan menteri ekspor, sudah," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, kementerian khusus investasi dan kementerian khusus ekspor sudah ada di negara-negara Uni Eropa. Hal itu juga sebagai bentuk upaya mengatasi persoalan perdagangan.

Hanya saja, Jokowi tidak ingin jika pembentukan dua kementerian tersebut tidak memiliki dampak apa-apa terhadap persoalan defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan.

"Tapi nanti kalau ada menteri itu nggak nendang lagi yang salah ya kita semuanya sudah," ujar dia.

"Saya itu paling gregetan kita ngerti kesalahan kita, kita ngerti kekurangan, kita ngerti jalan keluar tapi kita nggak bisa menuntaskan masalah yang ada," tambah dia.(det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>