Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen, Ekonom: Awal yang Buruk!

Rabu, 08 Mei 2019  17:58

Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen, Ekonom: Awal yang Buruk!

Dr Enny Sri Hartati

Jakarta (BM) - Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2019 tercatat 5,07% lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2018 5,06%. Namun angka perekonomian Indonesia tak pernah beranjak dari kisaran 5%.

Menanggapi hal tersebut, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dr Enny Sri Hartati menjelaskan pertumbuhan ekonomi 5% adalah awal yang tidak baik.

"Ini awal yang buruk, tapi ini sudah 4 tahun terakhir lho. Semua ini tidak pengaruh dengan tahun politik, ini pure kajian akademik untuk perbaikan ekonomi ke depannya," kata Enny dalam konferensi pers di Tjikinii Lima, Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Dia mengungkapkan, bukan persoalan 5,07% yang jadi masalah dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun yang harus diperhatikan adalah kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang memburuk.

Menurut dia, seharusnya jika dilihat pada kuartal I ini ada pemilu yang seharusnya bisa mendorong pengeluaran. Kemudian bantuan sosial yang digelontorkan pemerintah itu seharusnya bisa mendorong daya beli masyarakat.

Enny menyampaikan, komponen penggerak pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2019 paling banyak dari sektor konsumsi yakni pengeluaran rumah tangga. Namun tak diiringi dari sektor produksi dan industri yang sangat drop bahkan di bawah 4%.

"Kuartal I tahun ini industri hanya 3,86% saya tidak tahu apakah karena pak Airlangga (Menteri Perindustrian) urusi Golkar terus dan tidak urusi Kemenperin. Padahal kuncinya adalah di sektor produktif ini," ujar dia.

Kemudian menurut Enny, saat ini pertumbuhan investasi juga mengalami penurunan yang biasanya 8% kini hanya 5%. Selain itu penjualan kendaraan menurun namun produksi mengalami peningkatan.

"Jadi ini tidak hanya lampu kuning ekonomi Indonesia, kualitas ekonomi yang seperti ini pemerintah jangan mengkambinghitamkan sektor global dan eksternal. Kan global hanya menyumbang 20% untuk sumber pertumbuhan ekonomi, sisanya ada di dalam negeri," imbuh dia.

Enny mengungkapkan, pemerintah harus melakukan maintenance investasi yang saat ini disebut sebagai masa keemasan. Karena ada momen perang dagang yang seharusnya dimanfaatkan karena investasi negara lain seharusnya bisa dinikmati oleh emerging market.

"Indonesia itu basis pertumbuhannya sumber daya, ini artinya ketika kita hanya di 5%-an jangan kambing hitamkan lagi eksternal. Ini sebenarnya ketidakmampuan pemerintah untuk mengoptimalkan pertumbuhan di dalam negeri," jelas dia.

 

Menkeu Optimis

Terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku optimistis bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2019 yang dipatok sebesar 5,3%. "Insyaallah kita akan usahakan," kata Sri Mulyani di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Keyakinan ini muncul karena realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I-2019 yang sebesar 5,07% atau naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar 5,06%.

"Kalau dilihat dari komponen pertumbuhan ekonomi, memang kuartal I kita lihat dari sisi konsumsi, investasi, mestinya bisa lebih tinggi lagi. Mungkin dalam hal ini yang dilakukan pemerintah untuk menggenjot keutamaan dari sisi belanja sosial yang sudah meningkat cukup bagus itu menolong untuk terutama rumah tangga yang kelompok bawah," jelasnya.

Meski demikian, lanjut Sri Mulyani, target tersebut tak akan bisa tercapai bila pemerintah tidak berbuat apa-apa selama sisa waktu yang ada hingga akhir tahun nanti.

Untuk itu, kata Sri Mulyani, pihaknya akan bekerja keras dalam hal memperbaiki iklim investasi agar banyak investasi masuk yang diharapkan bisa mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi.

"Bapak presiden sudah meminta agar situasi investasi di Indonesia bisa diperbaiki," tandas dia.

 

Perang Dagang

Sri Mulyani menyatakan masih menunggu kondisi perkembangan ekonomi dunia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump merealisasikan ancamannya kepada China.

Pasalnya, ia meyakini ancaman itu akan mempengaruhi ekonomi kedua negara dan negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

Sebelumnya, Trump mengumumkan bakal menaikkan tarif bea masuk terhadap impor produk dari China senilai US$200 miliar mulai Jumat (10/5) besok. Tarif tersebut akan dinaikkan dari 10 persen menjadi 25 persen.

Menurut Sri Mulyani, bila Trump benar-benar merealisasikan ancamannya, maka perekonomian China akan terpengaruh. Terlebih, China merupakan mitra dagang terbesar bagi AS.

Selain itu, kenaikan tarif bea masuk impor produk China dalam setahun terakhir juga sudah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu itu.

"Kami lihat hari Jumat ini. Tentu akan membuat ekonomi China terpengaruh dan mungkin kondisi ekonomi dunia yang lain akan terpengaruh, jadi kita (Indonesia) harus semakin waspada," ujar Ani, begitu ia akrab disapa, Rabu (8/5).

Selain menunggu dampak ancaman Trump kepada China, Ani menyatakan Indonesia sejatinya juga perlu melihat dampak ancaman tersebut terhadap perekonomian AS. Maklum saja, AS merupakan salah satu negara mitra dagang utama bagi Indonesia.

"Di satu sisi kami lihat perekonomian AS cukup positif, tapi di sisi lain, pelemahan terjadi di belahan dunia lain masih sangat terlihat," ungkapnya.

Lebih lanjut, sambungnya, Indonesia perlu mewaspadai dampak ekonomi dari ancaman Trump terhadap China karena kinerja ekspor Tanah Air juga sedang terkontraksi. Ekspor tumbuh minus 2,71 persen sepanjang Januari-Maret 2018.

"Ekspor mungkin kami juga harus hati-hati, walaupun kontraksinya sudah mulai kecil, tapi kami melihat masih ada kontraksi," terangnya.

Kendati begitu, Ani menekankan pemerintah masih berupaya tetap mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada tahun ini. Menurutnya, potensi tersebut masih cukup besar, khususnya pada kuartal II 2019.

Sebab, ada momen Ramadan dan Lebaran yang biasanya membuat pertumbuhan konsumsi rumah tangga meningkat. Tak ketinggalan, pemerintah juga terus berupaya agar kinerja investasi dan ekspor bisa membaik. (cnn/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>