Retail Sampoerna Luncurkan Aplikasi Ayo SRC dan Pojok Lokal

Senin, 13 Mei 2019  17:14

Retail Sampoerna Luncurkan Aplikasi Ayo SRC dan Pojok Lokal

Belanja di Toko Kelontong SRC. (BM/ISTIMEWA)

JAKARTA (BM) - PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) mendukung upaya pemerintah membangun dasar ekonomi kerakyatan melalui program pemberdayaan Usaha Kecil Menengah (UKM) sektor retail, Sampoerna Retail Community (SRC). Sejak terbentuk pada tahun 2008, kini jaringan SRC sudah mencapai lebih dari 105.000 toko kelontong yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. 
 
UKM sektor retail adalah salah satu motor penggerak ekonomi terbesar di Indonesia. Dalam menghadapi tantangan era industri 4.0, pemerintah memiliki program prioritas dalam memberdayakan UKM dalam aspek pengembangan kapabilitas dan daya saing. Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), dukungan pemerintah dan swasta membuat pertumbuhan industri ritel yang cukup signifikan sekitar 9%-10% di tahun 2018 dan ritel tradisional mengalami pertumbuhan di atas 15% per tahun dengan proyeksi pembukaan 1000 gerai mini market per tahun di seluruh Indonesia.

“Indonesia kaya akan sumber daya alam dan manusia, yang jika diolah dengan baik, akan menjadi kekuatan kita dalam menghadapi perubahan apapun yang datang menerpa kita. UKM adalah salah satu bagian terpenting dalam roda perekonomian di Indonesia. Sehingga, upaya yang dilakukan pemerintah maupun swasta dalam hal ini PT HM Sampoerna Tbk., melalui pembinaan SRC adalah salah satu upaya penting bagi Indonesia,” jelas Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian RI.

Untuk dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, diperlukan komitmen pemerintah dan pihak swasta untuk dapat memberikan hasil bersifat jangka panjang. “Sampoerna bangga mendukung program pemerintah melalui pembinaan terhadap toko kelontong yang tergabung dalam SRC sebagai bagian UKM Indonesia. Kami berharap dapat terus mendukung SRC untuk berinovasi agar dapat terus meningkatkan daya saing usaha, sehingga mampu menggerakan roda ekonomi di Indonesia,” jelas Elvira Lianita, Direktur Urusan Eksternal Sampoerna.

Menurut riset UKM Center FEB UI, tantangan terbesar bagi UKM untuk berkembang adalah persaingan bisnis, perluasan akses pasar, dan perkembangan teknologi yang kian pesat. “Pemanfaatan teknologi dalam berbagai sektor ekonomi menjadikan pasar UKM tidak lagi terbatas wilayah dan waktu. Melalui kemunculan pasar komersial di media daring, para pelaku UKM dapat memperluas akses pasar yang bukan lagi menjadi tantangan, melainkan dapat ditangkap sebagai peluang oleh UKM, termasuk sektor retail,” ungkap T. M Zakir Sjukur Machmud, Ph.D, Kepala UKMC FEB UI.

Beragamnya tantangan yang dihadapi para pemilik toko kelontong kian mendorong SRC untuk terus berinovasi. Di tahun ke-11 hadir di Indonesia, SRC meluncurkan aplikasi “AYO SRC”, identitas baru, dan “Pojok Lokal”. Ketiganya merupakan upaya untuk membuka peluang kerja sama dan akses pasar tanpa batas bagi pelaku usaha retail dan pelaku UKM lokal.

Aplikasi “AYO SRC” merupakan terobosan inovatif untuk memudahkan akses para anggota SRC untuk saling berbagi ilmu bisnis, mendapat informasi mengenai pembinaan UKM Sampoerna, dan memudahkan proses pengelolaan toko. Melalui ini, Sampoerna ingin seluruh SRC menjadi lebih dikenal. “Peluncuran aplikasi “AYO SRC” turut mendukung proses literasi dan infrastruktur berbasis digital pada pengembangan bisnis dan penciptaan peluang. Hal ini dilaksanakan demi merealisasikan pencapaian Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di tahun 2020,” ujar Elvira.

“Kini kita menyambut era baru yang berlandaskan revolusi industri digital 4.0 dengan prinsip perubahan yang dinamis, transformative, serta berkemajuan. Salah satu contohnya seperti yang dilakukan oleh SRC melalui penggunaan aplikasi digital AYO SRC. Terobosan ini akan menjadi jembatan bagi perkembangan teknologi yang begitu pesat dengan kelangsungan UKM yang terus berkembang, sehingga para UKM bisa terus mendorong roda ekonomi di Indonesia menjadi lebih stabil,” tegas Airlangga. 

Roy N Mandey, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) menyampaikan sebagian besar peritel harus adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Saat ini ada perubahan pola belanja konsumen yang menuntut peritel juga fokus kepada digitalisasi. Masih banyak peritel lokal yang belum go digital. Padahal, jika UKM di Indonesia mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang masif dan cepat, ini dapat mendorong pertumbuhan UKM di Indonesia sebesar 12%,” tutur Roy N Mandey, Ketua Umum DPP APRINDO.

Selain itu, perkenalan identitas baru SRC adalah wujud semangat perubahan untuk terus berkembang sebagai toko kelontong masa kini hasil binaan Sampoerna. Dengan meluncurkan identitas baru, SRC mendorong lebih banyak keikutsertaan para pelaku usaha retail lainnya dalam pengembangan potensi lokal.

Sedangkan “Pojok Lokal” adalah salah satu bentuk nyata dukungan terhadap UKM lokal. Seluruh SRC menerapkan pendekatan usaha demi mendorong ekonomi masyarakat dengan mempromosikan produk UKM lokal di daerah setempat melalui “Pojok Lokal”. SRC mengajak masyarakat sekitar untuk berbelanja di toko kelontong yang lebih dekat dari rumah mereka sebagai salah satu upaya mendorong ekonomi kerakyatan di daerah melalui slogan “Berbelanja Dekat Rumah”.

“Dengan inovasi yang kami lakukan tahun ini, kami berharap keberadaan SRC di Indonesia membawa perubahan untuk mengembangkan usaha toko kelontong yang pada akhirnya membawa manfaat bagi komunitas, meningkatkan daya saing usaha, serta mampu menggerakkan roda ekonomi di daerah masingmasing,” tutup Elvira. (han)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>