Rupiah Menguat, BI: Efek Perang Dagang Mereda

Senin, 07 Januari 2019  18:36

Rupiah Menguat, BI: Efek Perang Dagang Mereda

Nanang Hendarsah

Jakarta (BM) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat mengalami penguatan pada Senin (7/1/2019). Data Reuters dolar AS tercatat Rp 13.990. Kemudian dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Rp 14.105.

Bank Indonesia (BI) menyebut sentimen positif dari kesepakatan perang dagang, perubahan sikap the Fed, dan berbagai perkembangan data ekonomi tersebut mendorong terjadinya pelemahan nilai tukar US$ secara broadbase, penguatan index saham global dan kenaikan yield US Treasury.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menyebut pelemahan dolar AS juga terjadi terhadap rupiah. Sehingga terjadi penguatan penguatan sekitar 1,33% atau Rp 190.

Dia menyebutkan sebelumnya The Fed tegas akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada 2019 setelah jatuhnya harga saham di AS.

"Kali ini The Fed menyiratkan lebih fleksibel dan akan menunggu perkembangan data ekonomi ke depan," kata Nanang, Senin (7/1/2019).

Lalu, The Fed juga siap melakukan perubahan dalam kebijakan bunga serta mulai melunak atas rencana proses penarikan likuiditas dari sistem keuangan atas rencana proses penarikan likuiditas dari sistem keuangan.

Sebagaimana diketahui, sebagai bagian dari proses normalisasi kebijakan moneter pasca krisis 2018, sejak Desember 2017 the Fed dalam proses melepaskan kembali surat surat berharga yang diterbitkan swasta, dibeli the Fed untuk mengtasi krisis keuangan 2008/2009.

Artinya tengah terjadi penarikan likuiditas dari sistem keuangan. Surat berharga milik swasta yang ada pada neraca the Fed sampai saat ini baru turun ke US$ 3,86 triliun per Januari 2018, dari US$ 4,2 triliun yang bertahan sejak Januari 2014. Bila penarikan lkuiditas dari sistem keuangan dilakukam terlalu cepat maka dapat menimbulkan keketatan dolar AS di seluruh dunia.

Meski kondisi ekonomi AS semakin solid, namun diperkirakan tidak akan tetap kuat menahan pelemahan ekonomi global bila ekonomi Eropa, Jepang, dan China semakin kehilangan tenaga.

Memang data ekonomi AS terakhir masih menunjukkan kondisi yang solid. Data Change in Nonfarm Payrolls bulan Desember 2018 meningkat melebihi ekspektasi pasar ke level 312K (est. 184K) dari bulan sebelumnya yang direvisi naik ke level 176K (prior 155K) atau peningkatan ke level tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Menurut Nanang, sektor industrinya mulai melemah, terindikasi dari penurunan indek Purchasing Manager Index (PMI) dan ISM (Institute of Supply Management). Bahkan berbagai indikator manufaktur di Eropa dan China semakin menunjukkan kemerosotan sebagai indikasi perang dagang mulai menimbulkan efek negatif.

Dia menambahkan tetap memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat, dan mengawal penguatan tersebut termasuk dengan membuka lelang domestic non deliverable forward (DNDF) pada pukul 8.30 dan dilanjutkan dengan intervensi bilateral melalui 8 broker secara "firm" meningkatnya aktivitas BI di pasar DNDF, selain untuk memastikan kurs offshore NDF terkendali, juga sebagai dukungan penunjuk bagi berkembangnya pasar DNDF agar lebin likuid dan efisien.

"Sudah terdapat 13 bank yang aktif di pasar interbank DNDF, sejumlah investor asing bertransaksi untuk hedging investasi di saham, dan sejumlah korporasi termasuk satu BUMN sudah melakukan transaksi," imbuh Nanang.

Selain dalam dollar USD/IDR, transaksi DNDF nasabah juga sudah ada yang melakukan dalam YEN/IDR dan Euro/IDT. "Bila transaksi DNDF ini terus berkembang dan banyak digunakan untuk hedging makan akan membantu men "smoothing" pembelian valas di dalam negeri, sehingga rupiah bisa lebih stabil," jelasnya.

 

APBN Apik

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi dikarenakan dampak positif dari realisasi APBN 2018.

Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan negara hingga akhir Desember 2018 tembus 102,5% atau setara Rp 1.942,3 triliun atau 102,5% dari target APBN yang sebesar Rp 1.894,7 triliun.

"Hari ini tentu karena kita by the end of the year 2018 kita baik posisi APBN bagus momentum growth bagus, stabilitas bagus, maka ini menimbulkan posisi Indonesia yang berbeda dengan negara-negara yang selama ini mengalami volatilitas dan vulnerabilitas lebih tinggi sehingga kita bisa gain (meningkat) atau bisa mendapatkan manfaat dalam bentuk capital inflow," kata Sri Mulyani di Komplek Istana, Jakarta, Senin (7/1/2019).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengaku akan tetap memantau pergerakan global yang masih penuh ketidakpastian dan akan berdampak pada perekonomian nasional di 2019.

"Kita juga terus melakukan kewaspadaan perubahan bisa terjadi tapi perubahan dari sisi arah kebijakan di AS apakah federal reserve apakah perdagangan, politik perdagangan AS terhadap RRT (China) itu semua akan menjadi faktor dinamis yang harus kita lihat," ungkap dia.

Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan penyebab nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Sebenarnya kan gini, itu kan sudah sejak awal November sebenarnya para analisis analis internasional itu sudah bilang," kata Darmin di Komplek Istana, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019).

 

Darmin bilang, dari banyaknya analis internasional yang membuat proyeksi mengenai nilai tukar rupiah, maka pada saat ini juga dipandang sebagai waktu yang tepat untuk membelinya. Sehingga, hal itu menjadi salah yang mendorong dolar AS mulai tumbang terhadap rupiah.

"Inilah waktunya beli rupiah. Itu sudah sejak itu tapi kan kemudian ada macam-macam. Menguat dulu, dari Rp 15.400 menjadi Rp 14.500. Berhenti dulu. Kemudian dalam sebulan itu makin banyak aja menulis analis-analis itu," jelas dia.

Di waktu yang bersamaan, kata Darmin, pemerintah pun menerbitkan surat utang. Penerbitan itu pun direspons para investor untuk membeli berdasarkan proyeksi para analis internasional terhadap nilai tuker rupiah.

"Ya istilah mereka rupiah harusnya overweight, waktunya dibeli. Kemudian pemerintah juga menerbitkan bond, itu ikut mempengaruhi. Karena dia bilang... Wah dia udah punya penerimaan tambahan. Sebelum ini kita beli dulu," kata Darmin.

Lebih lanjut Darmin mengungkapkan, bahwa melemahnya dolar AS terhadap rupiah pun masih memiliki ruang, walaupun tidak banyak.

"Masih sedikit, tapi masih ada ruang (rupiah menguat), walaupun nggak banyak," ujar dia. (dtf/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>