Sinyal Ekonomi China Melambat, Ekonomi RI Dapat Terganggu

Rabu, 06 Januari 2019  17:13

Sinyal Ekonomi China Melambat, Ekonomi RI Dapat Terganggu

Bhima Yudhistira

JAKARTA (BM) - Sinyal perlambatan ekonomi China yang mulai kuat  diperkirakan dapat mengganggu laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri, terutama dari sisi permintaan eksternal yakni ekspor.

Sinyal ditunjukkan oleh kekhawatiran sejumlah perusahaan multinasional, termasuk Apple yang mengeluhkan potensi penurunan penjualan perangkat seluler di Negeri Panda tersebut.

Kondisi ini diperkuat oleh data Biro Statistik Nasional China yang memperlihatkan Purchasing Managers' Index (PMI) turun menjadi 49,4 pada Desember 2018.  Realisasi ini merupakan angka PMI terendah sejak Februari 2016.

Tidak hanya itu, Caixin/Markit Manufacturing Purchasing Managers Index (PMI) menunjukkan performa industri China turun menjadi 49,7 pada Desember dari 50,2 pada November 2018.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengungkapkan selain data PMI yang menunjukkan bahwa perusahaan China tengah mengurangi ekspansi, potensi perlambatan pertumbuhan China ini juga ditambah dengan kondisi rebalancing di negara tersebut di mana pemerintah ingin fokus mendorong konsumsi domestik.

Menurutnya, pasar sudah membaca sinyal ini sejak tiga bulan terakhir. Tidak heran, SSE Composite Index melemah hingga 10,86% dalam kurun waktu tersebut. Semua ini merupakan dampak dari perang dagang yang mulai terasa.

"Efek perlambatan ini lebih besar ke Indonesia daripada AS [yang melambat] karena global supply chain Indonesia lebih ke China yang panjang, daripada AS," ujar Bhima, Minggu (6/1).

Rekonsiliasi Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping dinilai masih belum jelas. Batas waktu pengenaan kenaikan tarif kedua masih pada Maret 2019. Sementara itu, kenaikan tarif sebelumnya masih terus berlaku.

Artinya, Bhima menilai efek perbaikannya hanya sementara. Dalam hal ini, pemerintah bisa fokus mengantisipasi hal ini. Strategi yang dijalankan pemerintah tetap harus mencari pasar alternatif, di luar China.

"Kalau ekspor barang sulit diandalkan, bisa dorong ekspor jasa seperti pariwisata, ekspor tenaga kerja profesional, IT dan jasa konstruksi," tegas Bhima.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menegaskan perlemahan ekonomi China pasti akan berpengaruh ke Indonesia karena China adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Dengan demikian, Indonesia pasti akan menghadapi tantangan penurunan ekspor ke negara tersebut. "Tapi di sisi lain, ini bisa jadi peluang karena China juga perlu merelokasi pabrik dan mencari alternatif untuk sourcing produknya juga," ujar Shinta.

Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk dapat menjadi bagian dari supply chain China. Faktanya, Shinta melihat sudah ada sejumlah perusahaan China yang melakukan relokasi agar barangnya tidak kena label buatan China.

Dengan strategi ini, barang-barang tersebut aman dari kenaikan tarif yang ditetapkan Trump. "Bila ini terjadi seharusnya tidak akan terlalu masalah untuk pengusaha kita," ungkap Shinta.

Kesempatan ini bisa diraih juga tergantung bagaimana kesiapan Indonesia dalam bersaing dengan negara lain. Artinya, reformasi struktural harus tetap berjalan dan semua pemangku kepentingan harus dilibatkan.

 

Warning Sri Mulyani

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan ramalan ekonomi tahun 2019. "Banyak warning terhadap perekonomian 2019 yang harus diwaspadai. Misalnya warning di capital market bahwa ada potensi resesi dunia. Yield curve treasury yang memberi indikasi, memberi tanda-tanda bearish.

Trade policy AS menimbulkan ketegangan di dunia. Kita memasuki 2019 dengan sense ketidakpastian," kata Sri Mulyani dalam pemaparannya di Acara Property Outlook, Senin (17/12/2018).

Sri Mulyani menjelaskan, The Fed atau Bank Sentral AS, juga mengalami tekanan yang tidak mudah. Suku bunga The Fed pun arahnya cenderung naik. Selain itu, jumlah uang yang beredar terutama hard currency semakin ketat.

Kondisi ini tentu berpengaruh pada perekonomian negara emerging market, termasuk Indonesia. Salah satu sektor yang terpengaruh tren ini, ialah properti. Padahal, properti menjadi sektor yang cukup menentukan dalam pertumbuhan ekonomi.

"Properti terpengaruh tren ini. Di banyak negara, central bank secara sistematis dan penuh melakukan monetary property," jelas Sri Mulyani.

Bank Indonesia pun berusaha maksimal agar perekonomian Indonesia tetap stabil. BI merespons kondisi perekonomian global ini melalui berbagai kebijakan, baik dari sisi suku bunga, likuiditas, dan nilai tukar.

Bersamaan dengan itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan juga siap menerapkan instrumen fiskal.

"Kebijakan fiskal juga sangat berpengaruh, misalnya dari segi pajak. Semua rezim perpajakan akan menentukan apakah sektor properti tumbuh atau tidak. Untuk itu kita terus review dan evaluasi bagaimana mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan berkeadilan, namun tetap bisa menumbuhkan sektor konstruksi dan properti karena sektor ini memiliki multplier effect yang sangat tinggi." (bis/cnb/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>