Utang Luar Negeri RI Melambat, Capai Rp 5.021 T

Selasa, 15 Mei 2018  18:41

Utang Luar Negeri RI Melambat, Capai Rp 5.021 T

Sri Mulyani

Jakarta (BM) –  Bank Indonesia (BI) merilis data utang luar negeri (ULN) kuartal I 2018. ULN akhir kuartal I tercatat US$ 358,7 miliar atau setara dengan Rp 5.021 triliun (kurs Rp 14.000) yang terdiri dari gaungan utang pemerintah dan swasta.

Jumlah utang ini terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 184,7 miliar atau sekitar Rp 2.585 triliun. Kemudian untuk utang swasta tercatat US$ 174 miliar atau sebesar Rp 2.436 triliun.

BI menyebut jumlah ULN ini tumbuh 8,7% melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya 10,4%. "Perlambatan ini disebabkan oleh ULN pemerintah dan swasta yang lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya," tulis keterangan resmi BI dikutip, Selasa, (15/5/2018).

Bank sentral menyebutkan perkembangan ULN ini tetap terkendali dengan struktur yang sehat. Ini terlihat dari rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2018 yang tercatat di kisaran 34%.

Sementara itu berdasarkan jangka waktu, ULN Indonesia akhir kuartal I 2018 tetap didominasi ULN jangka panjang yang memiliki pangsa 86,1% dari total ULN.

"BI bersama pemerintah terus memantau perkembangan ULN dari waktu ke waktu untuk mengoptimalkan peran ULN untuk mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," jelas dia.

Melambatnya pertumbuhan ULN swasta terjadi akibat sektor industri penglolahan dan sektor pengadaan listrik, gas dan uap air panas. Pertumbuhan ULN sektor industri penglolahan pada kuartal I 2018 tercatat 4,4% dan 19,3% lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya.

Sementara itu untuk pertumbuhan ULN sektor pertambangan meningkat dan pertumbuhan ULN sektor keuangan relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya.

Hingga akhir kuartal I 2018, ULN pemerintah tercatat sebesar US$ 181,1 miliar yang terdiri dari SBN (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki oleh non-residen sebesar US$ 124,8 miliar dan pinjaman kreditur asing sebesar US$ 56,3 miliar.

ULN Pemerintah pada akhir triwulan I 2018 meningkat US$ 3,8 miliar dari kuartal sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama bersumber dari penerbitan Global Sukuk sebesar US$ 3 miliar, yang di dalamnya termasuk dalam bentuk Green Bond atau Green Sukuk Framework senilai US$ 1,25 miliar sejalan dengan komitmen pendanaan hijau yang ramah lingkungan.

Sementara di sisi SBN, investor asing masih mencatat net buy SBN pada kuartal I 2018. Perkembangan ini tidak terlepas dari kepercayaan investor asing atas SBN domestik yang masih tinggi antara lain ditopang peningkatan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Rating and Investment (R&I) pada tanggal 7 Maret 2018.

 

 

Neraca perdagangan

Sementara itu neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,63 miliar pada April 2018 dengan rincian ekspor US$ 14,47 miliar dan impor US$ 16,09 miliar.

Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan kenaikan impor disebabkan proyek infrastruktur. Sebab ia menilai proyek tersebut tentu membutuhkan barang modal dan bahan baku yang berasal dari luar negeri.

"Artinya, kalau proyek infrastruktur dan kemudian proyek-proyek investasi swasta lain yang non infrastruktur yang memang pertumbuhannya meningkat, itu pasti butuh barang modal dan barang baku. Jadi, kalau kamu lihat pertumbuhan barang bahan bakunya sama tingginya dengan barang konsumsi," ungkapnya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Lebih lanjut, ia mengatakan kehadiran proyek-proyek tersebut meningkatkan pembentukan modal domestik seperti bahan baku dan barang untuk menyelesaikan proyek infrastruktur dan proyek swasta.

"Iya jadi kan kelihatannya kan begini, proyek-proyek infrastruktur, di samping proyek-proyek investasi yang swasta yang lain, proyek investasi swasta yang lain itu ditunjukkan oleh meningkatkan pembentukan modal domestik," sambungnya.

Darmin menilai kenaikan tersebut tergolong positif untuk pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, hal tersebut berjalan dengan pertumbuhan investasi.

"Itu memang luar biasa kenaikannya. Tinggi sekali, tetapi dari segi perkembangan ekonomi artinya positif. Kenapa positif? Karena investasi berjalan, baik investasi swasta, maupun investasi dalam bentuk bangunan infrastruktur dan sebagainya," jelasnya.

"Itu menunjukkan hasil dari kenaikan investasi dan pembangunan infrastruktur itu. Itu tendensinya akan berlanjut," paparnya.

Lalu, Darmin menjelaskan berdasarkan data tersebut pemerintah juga mesti mendorong ekspor karena hal itu bisa berdampak terhadap neraca pembayaran.

"Nah jadi, memang yang sekarang ini berarti. Selain, mempercepat realisasi investasi dan pembangunan infrastruktur itu, yang dampaknya positif ya pemerintah harus mendorong ekspor, mengimbangi kenaikan impor itu, kalau tidak itu akan dampaknya bisa tidak terlalu baik terhadap neraca pembayaran," tutupnya.

 

Aksi Jual Saham Investor Asing

Di sisi lain, aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing berlanjut pada perdagangan hari ke-16 berturut berturut-turut, Selasa (15/5/2018), bahkan melampaui Rp1 triliun.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, total net sell oleh investor asing mencapai Rp1,16 triliun pada perdagangan pada Selasa (15/5).

Investor asing melakukan aksi jual sekitar 1,56 miliar lembar saham senilai Rp4,31 triliun. Adapun aksi beli investor asing tercatat 1,12 miliar lembar saham senilai sekitar Rp3,15 triliun.

Total nilai transaksi yang terjadi di lantai bursa mencapai sekitar Rp9,32 triliun dengan volume perdagangan tercatat sekitar 9,83 miliar lembar saham.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,83% atau 109,04 poin di level 5.838,12, setelah dibuka dengan pelemahan 0,356% atau 21,08 poin di level 5.926,08.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.833,63 – 5.940,42. Dari 579 saham yang diperdagangkan hari ini, sebanyak 153 saham menguat, 218 saham melemah, dan 209 saham stagnan.

Berdasarkan data Bloomberg, tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG berakhir di zona merah, dipimpin oleh sektor finansial yang menguat 2,96%, disusul sektor konsumer yang melemah 2,52%.

Adapun  hanya sektor tambang dan pertanian yang menguat masing-masing 0,72% dan 0,14% dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut.(bis/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>