Derai Air Mata di Pengajian Jemaah Korban First Travel

Selasa, 27 Agustus 2017  17:57

Derai Air Mata di Pengajian Jemaah Korban First Travel

Sutimah, jemaah asal Sunter, menceritakan kesedihannya gagal berangkat umrah.

Jemaah korban First Travel menggelar doa bersama di masjid Al-Hidayah, Pancoran, Jakarta Selatan. Selain doa bersama, juga dilakukan sosialisasi terkait Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Ratusan jemaah dari berbagai daerah mulai ramai mendatangi masjid sekitar pukul 08.00 WIB, Minggu (27/8/2017). Acara dimulai sekitar pukul 08.50 WIB diawali dengan pembacaan doa dan dilanjut dengan penjelasan perkembangan kasus penipuan First Travel.

Salah satu jemaah mengungkapkan, tujuannya mengikuti doa bersama ini adalah untuk meminta kemudahan dalam penyelesaian kasus First Travel yang menimpanya. "Tujuannya ya kita minta bantuan dari Allah, dan juga untuk memberi kejelasan ke jemaah kondisi First Travel saat ini dan sejauh mana langkah hukum yang sudah dihadapi," kata Ismet, agen First Travel caban

Pada acara tersebut, Dwi Librianto, salah satu jemaah First Travel yang ditunjuk sebagai kuasa hukum agen menyampaikan kepada jemaah untuk segera mendaftar sebagai kreditur untuk proses PKPU.

"Fungsi PKPU ini adalah untuk menstrukturisasi utang debitur dan baru dikabulkan jika sudah jatuh tempo. Jadi, bagi yang tidak ikut mengajukan tagihan, maka hak tagihnya hilang," jelas Dwi.

Dwi juga menjelaskan tugas jemaah dan agen saat ini adalah untuk melaporkan sebagai kreditur. Ia juga mengingatkan bagi jemaah yang ingin ikut untuk segera menyiapkan berkas yang diminta.

Acara ditutup dengan pembacaan doa bersama yang diikuti oleh seluruh jemaah. Ada yang terlihat menangis emosional. Usai acara, beberapa jamaah tampak menghampiri Dwi untuk meminta penjelasan lebih lanjut terkait proses pengadilan PKPU.

Salah satunya Sutimah, jemaah asal Sunter, Jakarta Utara, menceritakan hal yang membuatnya menangis saat melantunkan doa. Dia mengingat perjuangan dan pengorbanannya mengumpulkan uang untuk berangkat umrah.

"Saya cuma ibu rumah tangga, saya orang susah. Pengorbanan sekali saya mengumpulkan uang untuk umroh itu karena saya sangat ingin pergi umrah," ucap Sutimah sambil meneteskan air mata.

Sutimah mendaftar umrah melalui First Travel pada Januari 2016 dan dijanjikan akan berangkat pada Maret 2017. Sama halnya dengan jemaah lain, Sutimah juga hanya menerima janji kosong dari pihak First Travel dan tidak kunjung diberangkatkan.

"Orang First Travelnya janji-janji terus. Minta ada penambahan uang, penambahan-penambahan terus," kata Sutimah.

Di Sidoarjo

Sementara itu, di Sidoarjo-Jawa Timur, korban dugaan penipuan umrah oleh agen First Travel juga melakukan pertemuan di rumah korban First Travel Chotijah (41), warga Perumahan Sidokare Indah Blok B 5 Sidoarjo.

Terungkap, melalui cabang yang berlokasi di Perumahan Pondok Mutiara Blok K 2 B Sidoarjo, korban Fisrt Travel diperkirakan mencapai 2.502 orang yang berasal dari berbagai daerah.

Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang perwakilan korban agen Frist Travel Hermanto (62), warga Pucang Sidoarjo, pada saat melakukan pendataan di rumah korban First Travel Chotijah (41).

"Setelah kami mendengar ribut-ribut tentang First Travel, kemudian mendatangi kantor cabang yang berada di Perum Pondok Mutiara, ternyata jumlahnya sekitar 2.502 orang," kata Hermanto kepada wartawan di ruma Chotijah saat pendataan para korban, Minggu (27/8/2017).

Hermanto mengatakan jemaah korban sudah melapor ke Kapolresta Sidoarjo. Kapolresta, kata Hermanto, terkejut mendengar jumlah itu.

"Ketika kami menghadap bapak Kapolresta terkejut, bahwa korban dari agen First travel di Sidoarjo banyak sekali," terang Hermanto.

Hermanto menerangkan mulai hari ini pihaknya sudah menghubungi teman-teman yang gagal berangkat.

"Hari ini kami mengumpulkan data dan selanjutnya akan dilaporkan ke Polresta, meskipun data kami berupa transfer uang tersebut hanya fotokopi, karena tanda terima yang asli diminta oleh pengurus agen First Travel," terang Hermanto.

Hermanto menambahkan untuk teman-teman yang menjadi korban dari agennya First Travel ini sudah menyerahkan uang sebesar Rp19.500.000, dengan rincian untuk biaya umrah sebesar Rp14.300.000, untuk biaya pesawat Jakarta-Jeddah sebanyak Rp2.500.000, untuk biaya pesawat Surabaya ke Jakarta sebesar Rp2.300.000 dan tambahan lain sebesar Rp400.000.

"Kami tidak berurusan dengan First Travel, tapi dengan agennya, dan sudah menyetor biaya total sebesar Rp19.500.000 namun tidak ada tanda bukti yang resmi dari agen tersebut," jelasnya. (det/tit)

 

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>