Dikabarkan Bunuh Diri, Polri Tak Berwenang Usut Kematiannya

Senin, 14 Agustus 2017  18:21

Dikabarkan Bunuh Diri, Polri Tak Berwenang Usut Kematiannya

Johannes Marliem

Kasus meninggalnya Johannes Marliem di Amerika Serikat, menjadi sorotan banyak kalangan. Sebab, ia selama ini dikenal sebagai saksi kunci kasus korupsi e-KTP, dan menyimpan sejumlah rekaman pertemuan orang-orang yang terlibat dalam proyek e-KTP tersebut. FBI sendiri telah menyatakan, Johannes Marliem meninggal karena bunuh diri. Namun masih banyak yang mempertanyakan kejadian yang dianggap janggal itu.

Polri juga telah menegaskan tidak bisa ikut menyelidiki kasus kematian saksi kasus korupsi e-KTP, Johannes Marliem di Amerika Serikat, karena tidak punya wewenang. "TKP-nya di Amerika Serikat. Yang menangani otoritas di Amerika. Polri tidak ikut campur," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Senin (14/8).

Selain itu, kasus korupsi e-KTP adalah kasus yang ditangani KPK sehingga Polri tidak berhak ikut campur dalam penanganan kasus itu. "Itu terkait kasus yang ditangani KPK. Jadi Polri tidak berwenang," kata Setyo.

Namun Polri bersedia membantu bila Biro Investigasi Federal (FBI) meminta bantuan Indonesia. "Kecuali otoritas di sana atau FBI minta bantuan, baru kami bantu," katanya.

Johannes Marliem adalah direktur Biomorf Lone LCC Amerika Serikat, perusahaan penyedia layanan teknologi biometrik.

Johannes dikabarkan tewas di AS diduga akibat luka tembak. Johannes adalah penyedia alat Automatic Fingerprint Identification System (AFIS) dalam proyek KTP elektronik dan belum sempat dihadirkan untuk bersaksi pada persidangan.

Johannes disebut-sebut saksi penting untuk membongkar kasus megakorupsi e-KTP.

Kepada media, Johannes mengaku memiliki rekaman pertemuan dengan para perancang proyek e-KTP yang turut dihadiri Setya Novanto.

KPK memastikan penyidikan korupsi e-KTP jalan terus karena KPK memiliki bukti kuat untuk menyidik dua tersangka, yakni Setya Novanto yang saat itu Ketua Fraksi Partai Golkar dan Markus Nari.

Dalam dakwaan penuntut umum KPK kepada terdakwa Irman dan Sugiharto, Johanes Marliem disebut menerima 14,88 juta dolar AS dan Rp25,24 miliar dalam kaitannya dengan proyek sebesar Rp5,95 triliun itu.

Terkait bukti rekaman yang diklaim dimiliki Johanes Marliem, Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan belum mengetahuinya.

Johannes Marliem sebelumnya sempat disebut punya rekaman 500 GB soal kasus ini.

 

"Kami belum tahu secara persis informasinya sampai dengan ratusan GB tersebut," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (14/8/2017).

Yang pasti, kata Febri, KPK sudah mengantongi bukti yang meyakinkan soal kasus e-KTP.

Hal tersebut terbukti dengan vonis Pengadilan Tipikor yang menyatakan dua pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto bersalah.

"Dan memang terbukti ada korupsi e-KTP dengan indikasi kerugian negara Rp 2,3 triliun. Kalaupun nanti ada bukti-bukti lain dalam proses penyidikan dibuktikan dan itu memperkuat, tentu lebih baik," ujar Febri.

Nama Johannes Marliem mulai mencuat di media massa, ketika kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) diproses di meja hijau.

Nama Johannes Marliem disebut sebagai salah satu pengusaha yang ikut dalam proyek senilai Rp 5,9 triliun tersebut.

Pada Jumat (12/8/2017) malam, kabar kematian Johannes Marliem mulai dikabarkan media-media di Indonesia. Johannes dikabarkan tewas bunuh diri di kediamannya di Baverly Grove, Los Angeles, Amerika Serikat.

Namun, misteri sebenarnya mengenai kematian Marliem belum terungkap. Kasus tersebut saat ini masih ditangani oleh otoritas keamanan setempat.

 

Belum Pernah Jadi Saksi

Febri Diansyah menyatakan, sosok Johannes Marliem belum pernah dihadirkan dalam sidang kasus korupsi proyek e-KTP. Dalam persidangan untuk dua pejabat Kemendagri Irman dan Sugiharto pun, Johannes belum pernah menjadikan saksi.

"Johannes Marliem bukanlah saksi dalam proses tersebut. Jadi belum pernah dihadirkan sama sekali di persidangan," kata Febri, di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (14/8/2017).

Tak hanya untuk Irman dan Sugiharto, dalam daftar saksi untuk terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong, nama Johannes tidak termasuk sebagai saksi.

"Ada sekitar hampir 150 orang saksi di sana (untuk Andi Narogong). Dari seratusan saksi itu juga tidak ada nama Johannes Marliem, yang saya amati di sana," ujar Febri.

Febri mengatakan, KPK tidak pernah menyatakan Johannes sebagai saksi kunci di kasus e-KTP. "Bagi KPK sebenarnya kami tidak pernah menyebut istilah tersebut," ujar Febri.

Dalam kasus e-KTP, KPK sudah punya bukti permulaan yang cukup bahkan lebih, untuk menetapkan tersangka.

"Kami sudah mempunyai bukti permulaan yang cukup, bahkan lebih dari minimal dua alat bukti untuk menetapkan sampai dengan hari ini 5 tersangka," ujar Febri.

 

Harus Bertanggungjawab!

Ketua Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan bahwa institusi yang menjadikan status Johanes Marliem sebagai saksi kunci harus bertanggungjawab atas kematiannya.

Karena, saksi kunci sebuah mega kasus akan menghadapi ancaman sangat serius. Untuk menangkal ancaman itu, saksi kunci dan keluarganya patut mendapatkan perlindungan maksimal.

“Sangat mudah dipahami bahwa ketika penyidik sebuah kasus besar memosisikan seseorang sebagai saksi kunci kasus tersebut, pada saat itu pula para penyidik menempatkan orang itu dalam ancaman yang sangat serius, termasuk ancaman pembunuhan,” kata Bamsoet dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Senin (14/8).

 “Kehidupan seorang saksi kunci dan keluarganya tidak nyaman lagi karena terus dibayangi rasa takut. Apalagi jika nama dan profil saksi kunci itu sudah mendapatkan publikasi yang luas,”tambahnya.

 “Karena seorang saksi, apalagi saksi kunci, berhak mendapatkan perlindungan maksimal atau jaminan keamanan pribadi, keluarga dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman terkait dengan kesaksian yang akan atau sudah diberikan,”papar politikus Golkar itu.

“Kewajiban tentang perlindungan saksi ini tertuang dalam UU UU No. 31/2014 tentang Perubahan Atas UU No. 13/2006 Mengenai Perlindungan Saksi dan Korban,” pungkas anggota Pansus angket KPK itu.

 

Bunuh Diri

Setelah tiga hari sulit mendapatkan konfirmasi dari pihak berwenang di Amerika tentang insiden di Beverlly Grove, Los Angeles akhirnya Minggu sore waktu setempat, (14/8/2017) FBI menyatakan keterangan pers.

Rayna Hernandez Juru bicara Coroner Los Angeles County menyatakan identitas laki-laki yang bunuh diri di Los Angeles sebagai Johannes Marliem. Disebutkan dia meninggal karena menembak kepalanya sendiri atau disebut bunuh diri.

"Sebelumnya kematian ini menjadi kontroversi karena penyebutan dan identitas insiden di Beverlly Grove ini tidak pernah dikonfirmasi. Sebab semua pihak, baik di Indonesia maupun di Amerika sangat hati-hati mengeluarkan statemen tentang identitas pria ini," demikian laporan Eva jurnalis Voice Of Amerika pada Radio Suara Surabaya, Senin (14/8/2017)

Perselisihan di sebuah rumah di kawasan Beverlly Grove terjadi pada hari Rabu (9/8/2017) sore, waktu itu tim SWAT dan FBI atas laporan warga mengepung rumah tersebut.

"Di dalam rumah, seorang laki-laki mengancam akan melukai dirinya, dan dua orang lainnya di rumah itu. Selama sembilan jam laki-laki itu tidak mengizinkan polisi masuk. waktu itu tidak ada yang aware termasuk kami di VOA. Tapi begitu hari Jumat mendengar bahwa yang meninggal itu kata KPK adalah Johanes Marliem, baru semuanya aware dan insting kita bangkit. Kenapa kejadian yang menurut kami disini itu biasa, kok ada FBI, ini yang kami telusuri," terang Eva.

Dari penelusuran yang dilakukan VOA, ternyata sehari sebelumnya Selasa (8/8/2017) FBI telah melakukan penggeledahan di rumah Johanes Marliem.

"Sayangnya FBI tidak menjelaskan secara rinci penggeledahan itu untuk apa. Juru bicara FBI menyebutkan surat perintah penggeledahan bersifat tertutup dan sudah disegel," kata Eva.

Setelah terjadi perselisikan, tim SWAT Los Angeles menemukan jenazah Marliem di dalam rumahnya sekitar 02.00 pagi hari Kamis setelah dia mencegah polisi masuk ke rumahnya selama lebih dari sembilan jam.

"Statusnya di lock down, semua akses di Beverlly Grove ditutup sehingga tetangga juga ga bisa masuk, ini selama sembilan jam sampai Kamis dini hari, peristiwa ini akhirnya bisa dirundingka FBI dan polisi bisa masuk dan menemukan jenasah laki-laki yang setelah ditelusuri akhirnya pada Minggu sore mereka menyebut jenasah itu adalah Johanes Marliem, " tambahnya.

Selepas kejadian, seorang perempuan dan anak keluar dari rumah itu tanpa cedera. Polisi tidak menegaskan apakah mereka merupakan istri dan anak Marliem atau bukan, dan mereka sudah dibawa ke rumah sakit.

"Semua statemen sangat hati-hati, jadi nasip jenasah akan dikebumikan atau bagaimana, dipulangkan atau tidak kami juga belum jelas," kata Eva dari VOA. (akt/ssn/det/kom/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>