Importir: Produknya Tak Mengandung Babi

Senin, 19 Juni 2017  19:57

Importir: Produknya Tak Mengandung Babi

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito

Heboh mie instan yang mengandung babi mendapat respon cepat dari berbagai pihak.  BPOM menyatakan mencabut izin edar empat produk Samyang (mi instan U-Dong), Samyang (mi instan rasa Kimchi), Nongshim (mi instan Shin Ramyun Black), dan Ottogi (mi instan Yeul Ramen) yang diimpor PT Koin Bumi. Sementara, PT Korinus selaku importir jenis Samyang yang lain merasa terganggu dengan pemberitaan itu, dan menyatakan produknya tak mengandung fragmen babi. 
 
"Menanggapi news update yang sedang gempar gemparnya membicarakan tentang penarikan produk yang sangat familiar asal korea selatan Samyang, kami selaku importir yang ditunjuk oleh PT Samyang Korea akan menegaskan kembali bahwa produk Samyang yang kita impor adalah produk yang sudah lolos uji BPOM RI yang tidak mengandung Babi," demikian pernyataan resmi PT Korinus, Senin (19/6/2017).
 
PT Korinus dalam pernyataan itu mengatakan, saat ini sedang melakukan proses mengajukan label halal ke MUI. Adapun produk yang mereka distribusikan memang berbeda dengan Samyang yang dinyatakan mengandung babi.

"Kami pun sedang proses MUI dengan nomor registrasi 16349, Kami sebagai importer mie "Samyang" produk yang kami distribusikan sudah dalam ketentuan dari BPOM dengan no ML 331510033167 (Hot Chiken Ramen 70gr,105gr dan 140 gr) dan no ML 231510055167 (Hot Chiken Ramen Cheese 140 gr)," demikian pernyataan dari PT Korinus.

Manajemen PT Korinus merasakan keresahan dan operasional mereka terganggu dari imbas ditariknya Samyang jenis Kimchi dan U-Dong yang mengandung babi.
 
"Dan kami jelaskan kembali untuk produk Mie Samyang yang diimpor oleh PT Korinus mempunyai kemasan yang berbeda dari ke empat produk yang ditarik oleh BPOM RI waktu lalu, jelas dikarenakan kami impor Mie Samyang tersebut dengan line produksi yang berbeda pula. Overall, dengan adanya berita penarikan Samyang ini mengingatkan kembali kepada seluruh masyarakat khususnya para pecinta mie Samyang agar lebih hati-hati dalam memilih produk . Pastikan jika ingin membeli produk mie Samyang yang ada nama PT Korinus selaku importir resmi," pungkas manajemen Korinus.
 
Bekukan Izin Impor
Sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyatakan menarik izin edar produk mi asal Korea yang mengandung fragmen DNA babi. Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito menyebut hal ini sebagai sanksi administratif kepada importir tersebut.
 
"Kita lakukan penarikan izin edar dan juga meminta importir untuk segera menarik produk tersebut dari pasar. Ini adalah sanksi administrasi yang bisa segera kami lakukan itu," kata Penny di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (19/6/2017).
 
Untuk memastikan hal tersebut, Penny pun meminta kepala BPOM di setiap provinsi memastikan keempat produk mi, yaitu Samyang (mi instan U-Dong), Samyang (mi instan rasa Kimchi), Nongshim (mi instan Shin Ramyun Black), dan Ottogi (mi instan Yeul Ramen), tidak beredar di pasar.
 
Berdasarkan surat perintah penarikan yang dikeluarkan BPOM pusat, importir empat produk tersebut ialah PT Koin Bumi. Penny mengatakan importir tersebut telah menyalahgunakan izin edar yang diberikan BPOM.
 
"Kami lakukan pengawasan di jalur distribusi. Tapi ternyata ditemukan pelanggaran. Maka sanksinya pencabutan izin edar. Dan selanjutnya menarik semua (produk). Dan kita lihat ke depan sanksi lebih tegas apa yang bisa kita lakukan," ujarnya.
 
"Itu akan kita bekukan, dia tidak bisa impor tersebut dan kalaupun lakukan impor, pasti sudah masuk daftar blacklist kita," tutur dia.
 
Penny mengatakan pihaknya telah memberi peringatan kepada importir yang sebelumnya telah melanggar. Namun ternyata pelanggaran kembali dilakukan oleh importir lain.
 
Atas pelanggaran ini, BPOM pun membekukan izin impor untuk keempat produk mi asal Korea tersebut. Selain itu, BPOM akan memperketat proses registrasi bagi produk-produk tersebut.
 
"Jadi saya kira, kita akan sementara waktu, produk ini kita bekukan dulu untuk importirnya. Kemudian akan ada pengetatan dalam hal registrasi dan juga sebagai pengetatan juga," ungkapnya.
 
Saat ini, BPOM belum melanjutkan kasus tersebut ke ranah pidana. Penny mengimbau masyarakat ikut waspada terhadap produk-produk impor yang beredar di pasar dan melapor kepada BPOM.
 
"Untuk penindakan, hukum pidana tentu akan bekerja sama dengan kepolisian. Itu selalu kami lakukan. Untuk saat ini, kami sedang menarik izin edar sebagai sanksi administratif kami. Tapi kalau sudah ada indikasi ke arah pidana, kita akan ajak kepolisian. Satu lagi, aspek edukasi, preventif. Kami ingin masyarakat tetap waspada terhadap produk impor," tuturnya.
 
BPOM akan Perbaiki Sistem Registrasi Produk Terkait Kasus Samyang
Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan, pihaknya sudah menjelaskan kepada importir saat melakukan registrasi produk. BPOM juga sudah memberikan ketentuan pemasaran produk-produk tersebut.
 
"Jadi pada saat mereka mendaftarkan, registrasi sesuai ketentuan yang ada, untuk produk yang memang mengandung babi harus dijelaskan, bahwa mengandung bahan babi. Dan harus ditempelkan di labelnya. Dan pada saat di retail harus ditempatkan terpisah dan diberi tanda bahwa ini mengandung babi. Jadi harusnya aman seperti itu," kata Penny di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (19/6/2017).
 
Namun, empat produk mi yaitu Samyang (mie instan U-Dong), Samyang (mie instan rasa Kimchi), Nongshim (mie instan Shin Ramyun Black) dan Ottogi (mie instan Yeul Ramen) beredar bebas di pasaran.
 
Penny tidak menyebut lembaganya kecolongan dari beredarnya produk tersebut. Menurutnya, yang terjadi adalah pelanggaran dari importir produk tersebut.
 
"Saya tidak menggunakan kata kecolongan. Kalau itu kita tidak melakukan apa-apa. Ini ada satu ketentuan yang dilanggar," ujarnya.
 
Dia mengatakan belum akan membawa pelanggaran ini ke dalam ranah hukum pidana. Namun, lembaganya dapat memberikan sanksi administratif berupa pencabutan izin edar dan pembekuan izin impor atas keempat produk tersebut.
Selain itu, BPOM akan melakukan perbaikan dalam registrasi produk. Penny mengatakan, ke depan BPOM harus mengikuti perkembangan yang terjadi.
 
"Perbaikan akan terus dilakukan. Ini juga warning kita semua, bahkan untuk diperketat. Aspek registrasi akan mengikuti kekinian. Karena perkembangan zaman dan teknologi serta perkembangan kejahatan," ucap dia.
 
Dia mencontohkan hal yang dapat dilakukan ialah dengan melakukan uji yang lebih intensif. Pengujian terhadap produk tidak lagi dilakukan secara acak (random).
 
Hal ini dilakukan karena ada importir yang tetap melanggar. Pengetatan uji ini dilakukan kepada importir yang telah tercatat melakukan pelanggaran. (det/tit)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>