Iron Man: Bisa Picu Perang Dunia III

Selasa, 05 September 2017  17:48

Iron Man: Bisa Picu Perang Dunia III

Elon Musk

Senjata nuklir yang kabarnya dimiliki oleh Korea Utara membuat negara tersebut menjadi momok menakutkan Korea Selatan, Jepang, dan bagi banyak negara barat, bahkas Amerika Serikat. Namun menurut Elon Musk, ada hal yang lebih menakutkan dari itu, yaitu kecerdasan buatan (AI).

Elon Musk kembali menyerukan bahaya teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Dia mengatakan, teknologi tersebut bisa mengancam manusia di masa depan dan memicu Perang Dunia III.

"China, Rusia, dan negara lain segera menyusul dengan ilmu komputer yang kuat. Persaingan untuk keunggulan AI di masing-masing tingkat nasional akan memicu Perang Dunia III," tulis Musk melalui akun Twitter @elonmusk.

Cuitan pria yang kerap disebut sebagai Iron Man di dunia nyata tersebut merupakan tanggapannya terhadap pidato Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai kecerdasan buatan yang disebut sebagai masa depan umat manusia.

"Kecerdasan buatan adalah masa depan, tak hanya bagi Rusia, tapi juga untuk seluruh umat manusia. Hadir dengan peluang besar, tapi juga ancaman yang sulit diprediksi. Siapapun yang menjadi pemimpin di bidang ini akan menjadi penguasa dunia," kata Putin dalam pidatonya di depan para pelajar Rusia.

Bulan lalu, Musk bergabung bersama lebih dari 100 ahli AI. Mereka menyerukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melarang persenjataan robot. Dikutip dari Cnet, Selasa (5/09/2017), Musk sangat percaya pada ancaman AI. Dia pun menjalankan program Open AI yang mendorong pengembangan AI agar dapat diawasi publik.

Bos Tesla dan perusahaan teknologi luar angkasa Space X ini juga memiliki proyek sampingan seperti Neuralink, yang bertujuan untuk menciptakan interface otak komputer untuk membuat manusia lebih kompetitif dalam menghadapi AI yang baru muncul.

Pada Agustus lalu, lewat akun Twitternya, Musk juga menyebutkan bahwa teknologi AI adalah ancaman yang lebih berbahaya ketimbang Korea Utara.

 

Lebih Bahaya Ketimbang Korut

Meski sempat adu argumen dengan Mark Zuckerberg, namun bos Tesla itu bersikukuh pada pandangannya soal AI, dengan menyebut teknologi itu adalah ancaman yang lebih berbahaya ketimbang Korea Utara.

Hal ini diutarakan pria berjuluk Iron Man itu melalui akun Twitternya, di mana ia mengingatkan agar orang-orang memberi perhatian lebih pada keamanan AI. Sebelumnya ia pun sudah sering mengutarakan hal senada, demikian dikutip dari Ubergizmo, Senin (14/8/2017).

"Jika anda tak memperhatikan keamanan AI, anda harus memperhatikannya. Risikonya jauh lebih besar ketimbang Korea Utara," tulis Musk pada akun @elonmusk.

Soal perkembangan AI, Musk ada di pihak pengembangan yang 'aman'. Hal ini ditunjukkan dengan menyuntikkan dana pada OpenAI, yang merupakan organisasi non profit yang mempromosikan pengembangan semacam itu.

OpenAI sendiri sebelumnya sempat bikin heboh dengan mengembangkan bot pemain Dota 2 yang bisa mengalahkan jajaran pemain Dota 2 top dunia. Bagi OpenAI, ini adalah sebuah pencapaian tersendiri,

Mereka bertujuan menciptakan artificial intelligence (AI) yang berguna untuk kehidupan manusia. OpenAI sendiri belajar bermain Dota dengan cara bermain melawan sesama AI, dan cuma membutuhkan waktu selama dua minggu.

 

Pelarangan Senjata Otonom

Elon Musk memimpin langsung 116 ahli dari 26 negara, menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melarang senjata otonom.

Melalui surat terbuka, Musk dan kawan-kawannya mendesak PBB bereaksi guna melarang pengembangan dan penggunaan robot pembunuh. Dalam hal ini, senjata otonom yang dimaksud adalah drone, tank, hingga senapan otomatis yang dimanfaatkan sebagai robot pembunuh. Sebab, baru-baru ini PBB memulai diskusi formal mengenai senjata otonom tersebut.

Surat terbuka kepada PBB ini termasuk desakan dari para pendiri perusahaan kecerdasan buatan atau artifical intelligence (AI) dan robotika. Pria yang sering disebut sebagai Iron Man di dunia nyata ini didaulat sebagai pemimpin gerakan.

Mereka mengkhawatirkan dampak dari negara-negara yang berlomba-lomba mengembangkan senjata otonom. Dikutip dari The Guardian, Senin (20/8/2017) senjata otonom dapat memicu peperangan, setelah ditemukannya mesiu dan senjata nuklir.

"Setelah dikembangkan, senjata otonom yang mematikan akan memungkinkan menimbulkan konflik senjata dalam skala yang lebih besar dari sebelumnya, dan rentang waktu yang lebih cepat dari yang dapat dipahami manusia. Ini bisa menjadi senjata teror, senjata yang dilanggar dan digunakan teroris terhadap populasi yang tidak bersalah dan senjata yang digunakan untuk cara yang tidak diinginkan," demikian isi dari surat terbuka tersebut.

Para ahli ini mengungkapkan senjata otonom yang mematikan, baiknya masuk ke dalam daftar senjata yang dilarang oleh konvensi PBB mengenai Certain Conventional Weapons (CCW) pada 1983.

"Kami tidak punya waktu lama untuk bertindak. Begitu kotak pandora ini dibuka, akan sulit ditutup," tegas mereka.

Sedangkan Musk bukan sekali ini protes berkaitan dengan AI. Sebelumnya, bos SpaceX itu secara vokal menyerukan regulasi proaktif tentang AI karena dianggap jadi ancaman terbesar bagi manusia.

 

Zuckerberg Mengecam

Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg mengkritisi CEO SpaceX Elon Musk. Apa yang membuat dua orang kaya dan genius itu berbeda pendapat? Ternyata soal kecerdasan buatan atau artificial intelligence.

Kritikan Zuckerberg ini terdengar tatkala mengadakan tanya jawab di Facebook Live. Ada seseorang yang menanyakan perihal masa depan AI dengan mengutip pernyataan dari Musk. Selama ini, Musk memang sering mengumbar soal bahaya AI atau robot di masa depan.

Zuckerberg pun memberi tanggapannya. Dia berusaha agar tak menyebutkan nama bos SpaceX dan perusahaan mobil listrik Tesla yang sering dijuluki Iron Man tersebut.

"Kurasa orang-orang yang pesimis dan mencoba menghidupkan skenario kiamat ini, aku tidak mengerti. Ini benar-benar negatif dan dalam beberapa hal, kupikir itu sangat tidak bertanggungjawab," ujar Zuck, Selasa (24/7/2017).

Suami dari Priscilla Chan ini mencontohkan AI sebenarnya sudah merasuk kehidupan sehari-hari dan sudah bermanfaat. Misalnya membantu mendiagnosa penyakit atau penemuan obat-obatan.

"Aku memiliki pendapat cukup kuat mengenai hal ini, aku benar-benar optimis. Teknologi selalu bisa digunakan untuk kebaikan dan keburukan, dan Anda harus berhati-hati membangunnya. Tapi orang-orang malah berdebat untuk memperlambat proses pembangunan AI," tuturnya.

Sebelumnya, Musk sempat ketakutan akan perkembangan AI di masa mendatang. Menurutnya, kecerdasan buatan harus segera dikendalikan.

"Aku telah terekspos kecerdasan buatan yang paling canggih dan kupikir orang-orang harus sangat khawatir olehnya. Kecerdasan buatan adalah kasus langka di mana kupikir kita harus proaktif dalam regulasinya," kata Musk. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>