Memilih Pemimpin karena Kelompok Termasuk Bias Kognitif

Sabtu, 27 November 2016  19:08

Memilih Pemimpin karena Kelompok Termasuk Bias Kognitif
Susah mengindentifikasi penyebab tunggal soal bagaimana seseorang memilih pemimpin dalam suatu proses pemilihan umum yang demokratis. Agama dan ideologi bisa jadi mempengaruhi preferensi politik seseorang, tetapi hal-hal yang sangat pragmatis pun boleh jadi akan menjadi faktor yang menentukan pilihan seseorang. Bahkan, dalam khasanah neurosains, bisa terjadi bias kognitif yang mempengaruhi pilihan orang pada saat di dalam bilik suara.
 
Pakar ilmu otak (neurosains), Rizki Edmi Edison, PhD, punya pendapat menarik soal bagaimana seseorang memilih pemimpin. Kebanyakan orang memilih pemimpin atau kepala daerah, katanya, tidak berdasarkan atas pilihannya sendiri. Boleh jadi pilihan itu lebih karena keterkaitannya dengan kelompok dia biasa bergaul.
 
"Itu yang disebut bias kognitif. Masyarakat memilih pemimpin politik berdasarkan pilihan kelompok, bukan pilihannya sendiri seperti alasan dia menyukai tokoh dimaksud," kata Kepala Pusat Neurosains Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) itu pada seminar "Neuropolitics Beyond Human Mind" di Uhamka, Jakarta, Sabtu.
 
Selain berdasarkan kelompok, orang memilih pemimpin bisa juga karena murni atas dasar latar belakang si calon pemimpin itu sendiri atau karena rekam jejak perilaku dari calon yang dipilih itu, ujar Edmi.
 
Ia mengatakan neurosains merupakan ilmu tentang saraf otak dan perilaku manusia yang sudah biasa digunakan di negara maju dalam seleksi calon pemimpin maupun dalam survei sosial elektabilitas calon pemimpin.
 
Sementara itu, pakar psikologi Cleoputri Al Yusainy PhD dari Universitas Brawijaya mengatakan dengan neurosains bias-bias kognitif seseorang bisa terlihat, misalnya tentang pilihan yang berbeda antara apa yang terungkap dan apa yang diinginkan di kepalanya.
 
"Jika survei dilakukan hanya melalui kuesioner, responden yang diwawancarai tidak terlihat apakah benar-benar dengan pilihannya. Tapi dengan neurosains yang ada di balik kepalanya akan tampak," katanya.
 
Neurosains, ujarnya, juga biasa digunakan dalam pemilihan calon pemimpin di negara maju, karena dengan neurosains, calon yang diwawancarai akan terlihat ekspresinya, misalnya apakah mudah panik dan apakah konsisten antara yang ada di pikiran dan perilakunya.
 
Neurosains, ujar dia, dilengkapi dengan peralatan pemindai otak yang mampu mendeteksi dan mengukur sinyal-sinyal listrik yang dihasilkan dari aktivitas otak tersebut dan merekonstruksi citranya serta menerjemahkannya.
 
Menurut Cleo, keunggulan seorang pemimpin merupakan standar yang diharapkan masyarakat seperti bagaimana mengambil keputusan, bagaimana bisa mempengaruhi orang, bagaimana mengimplementasi kebijakannya, dan lain-lain. (ant/nii)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>