Mengaku Idenya Dicuri Facebook, Kaya Raya Berkat Bitcoin

Senin, 04 Desember 2017  17:45

Mengaku Idenya Dicuri Facebook, Kaya Raya Berkat Bitcoin

Tyler dan Cameron Winklevoss

Jakarta (BM) - Nama Tyler dan Cameron Winklevoss mendadak jadi perbincangan se antero jagad, gegara melejitnya nilai tukar mata uang  virtual Bitcoin. Sebelumnya, keduanya pernah menjadi sorotan karena berseteru dengan CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Si kembar Winklevoss mengklaim Zuckerberg mencuri ide mereka. Berdasarkan cerita mereka, awalnya keduanya meminta Zuck menyelesaikan kode software untuk situs jejaring sosial ciptaan mereka, ConnectU.

Saat itu, baik si kembar maupun Zuck masih sama-sama berkuliah di Harvard University pada 2003. Bukannya memenuhi permintaan mereka, Zuck menurut penuturan si kembar, malah mencuri kode dan ide mereka, kemudian meluncurkan Facebook pada Februari 2004.

Gugatan Winklevoss bersaudara selanjutnya mengantarkan mereka menandatangani kesepakatan dengan Facebook, yang menyatakan mereka berhak mendapatkan uang tunai USD 20 juta dan mendapat bagian saham USD 45 juta, atau USD 36 per saham.

Namun kemudian, si kembar menuduh Facebook telah menyesatkan mereka melalui kesepakatan ini. Itulah sebabnya, melalui pengadilan banding mereka kembali menuntut. Menurut keduanya, mereka berhak mendapat bagian yang lebih besar.

Proses banding berlanjut, pada akhirnya Winklevoss bersaudara memutuskan untuk mengakhiri perseteruan melawan Facebook dan Zuck pada Juni 2011. Mereka menyetujui pembayaran di muka dari Facebook senilai USD 65 juta.

Baru-baru ini nama keduanya disebut-sebut sebagai juragan Bitcoin terkaya. Keduanya disebut-sebut sudah memahami potensi Bitcoin sejak lama.

Pada 2013, mereka membeli 1% dari seluruh Bitcoin yang ada pada saat itu senilai USD 11 juta. Sejak itu, nilai Bitcoin merangkak naik dan hingga kini melonjak 10.000%. Bitcoin yang dimiliki si kembar Winklevoss diyakini sudah menembus angka USD 1 miliar.

Di luar itu, kembar Winklevoss dikenal sebagai atlet mendayung. Keduanya pernah bertanding di Olimpiade Beijing pada 2008. Selain itu, profesi utama mereka saat ini adalah entrepeneur internet.

ConnectU yang sempat bermasalah karena berseteru dengan Facebook, pada akhirnya tetap mereka jalankan, bersama lulusan Harvard University lainnya Divya Narendra. Kesibukan lain dari keduanya adalah menjadi venture capitalist.

 

Generasi Milenial

CEO Bitcoin Indonesia Oscar Dharmawan mengakui adanya peningkatan jumlah pengguna bitcoin. Ini terjadi sejalan dengan peningkatan nilai mata uang virtual tersebut dalam beberapa pekan terakhir, bahkan hingga menembus rekor tertinggi.

Oscar menyatakan para pengguna pada Bitcoin Indonesia didominasi oleh generasi milenial. Mereka adalah generasi yang rata-rata berusia 17 sampai 35 tahun. "Rata-rata dari generasi milenial khususnya mahasiswa," jelas Oscar.

Ia mengungkapkan, kondisi tersebut terjadi lantaran kebanyakan orang yang memahami teknologi blockchain adalah mereka yang terpelajar dan masih muda. Pasalnya, memahami teknologi blockchain bukan hal yang mudah.

Oscar pun memandang, setidaknya ada tiga hal yang membuat generasi milenial, termasuk mahasiswa, tertarik dengan teknologi blockchain.

Pertama, teknologi ini berjalan secara desentralisasi dan tidak bergantung pada satu server. "Transaksi berjalan peer-to-peer. Jadi, selama ada internet, sistem tetap dapat berjalan normal. Itu impresif," tutur Oscar.

Selain itu, apabila transaksi tidak bisa dilakukan di Indonesia, pengguna dapat melakukan transaksi di negara lain. Generasi milenial, imbuh Oscar, hidup di era internet di mana negara tidak dipandang sebagai batasan.

Kedua, generasi milenial cenderung sudah tidak terlalu tertarik dengan emas. Mereka, kata Oscar, memandang emas sebagai instrumen investasi yang repot dan sulit untuk ditransaksikan.

"Tidak seperti cryptocurrency yang bahkan bisa jual-beli di Rp 1.000. Mereka menganggap cryptocurrency seperti emas digital," ungkap Oscar.

Ketiga, generasi milenial meyakini bahwa blockchain adalah teknologi masa depan. Hal ini serupa dengan yang terjadi pada beberapa dekade lalu ketika internet diyakini sebagai masa depan.

"Dulu internet dicecar pada tahun 1990-an sebagai hype dan mirage belaka oleh generasi yang lebih tua, tapi ternyata sekarang internet bagian dari DNA kita," terang Oscar.

 

Nilai Menguat

Sepanjang tahun 2017 ini, nilai mata uang virtual bitcoin telah menguat lebih dari 1.000 persen. Belum lama ini, nilai bitcoin bahkan sempat menembus 11.000 dollar AS atau setara kira-kira Rp 148,5 juta.

Di Indonesia, ada sejumlah tempat penjualan dan pembelian bitcoin. Salah satunya adalah Bitcoin Indonesia di laman bitcoin.co.id yang saat ini jumlah pengguna atau user-nya sudah mencapai lebih dari 66.000.

CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan menyebut, sejak nilai bitcoin melejit ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, bitcoin.co.id mengalami peningkatan jumlah pengguna secara sangat signifikan. Namun, ia tak menyebut secara rinci terkait peningkatan jumlah pengguna.

"Peningkatan jumlah user pastinya ada. Saat ini kami memiliki 600.000 member," kata Oscar ketika, Senin (4/12/2017).

Namun demikian, Oscar mengaku banyak juga investor yang salah paham dalam mengartikan bitcoin atau teknologi blockchain. Ia mengatakan, kerap kali teknologi blockchain disamakan dengan pemasaran multilevel atau multilevel marketing (MLM).

Padahal, kata Oscar, teknologi blockchain sudah diaplikasikan pada sejumlah perusahaan besar berskala global dalam berbagai bidang. Perusahaan tersebut antara lain bergerak di bidang teknologi hingga perdagangan berbasis daring.

"Perusahaan teknologi sekelas IBM, Alibaba, dan Microsoft saja mulai mengaplikasikan blockchain di berbagai hal," jelas Oscar.

Bitcoin Indonesia didirikan sejak tahun 2008 silam. Nilai bitcoin pada Bitcoin Indonesia saat ini mencapai Rp 161 juta.

 

Bursa Berjangka

Pusat perdagangan terbesar mata uang digital bitcoin terbesar di dunia, CME, mengumumkan bakal segera meluncurkan bursa berjangka bitcoin. CME kabarnya sudah mengantongi izin dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS.

Selain CME, kompetitornya, yakni Cboe Futures Exchange, juga akan meluncurkan kontrak bitcoin. Cantor Exchange juga telah memperoleh sertifikat kontrak baru untuk opsi penjualan bitcoin biner.

Pada Jumat (1/12/2017) lalu, nilai bitcoin bertengger pada posisi 10.539 dollar AS atau setara sekira Rp 142,2 juta. Sebelumnya, nilai bitcoin juga sempat anjlok 20 persen ke level 9.021 dollar AS atau setara sekitar Rp 121,7 juta setelah sempat pula menembus level tertinggi 11.377 dollar AS atau sekitar Rp 153,5 juta.

Pengumuman CME muncul sejalan dengan langkah beberapa bursa berjangka lainnya yang buru-buru meluncurkan produk derivatif bitcoin. Saham CME pun menguat 1,7 persen ke level tertingginya pada Jumat.

Sementara itu, Nasdaq berencana meluncurkan bursa berjangka bitcoin pada kuartal II 2018 mendatang. Nasdaq akan mengatur harga berdasarkan 50 sumber bitcoin di seluruh dunia.

Sementara itu, Cboe saat ini menggunakan satu sumber bitcoin. Adapun CME saat ini menggunakan 4 sumber, ujar juru bicara Nasdaq.

Penguatan nilai bitcoin sangat signifikan dan fenomenal pada tahun 2017 ini. Sejak awal tahun, nilai bitcoin sudah menguat lebih dari 1.000 persen, namun volatilitasnya pun tinggi. (kom/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>