Pancasila Harus Dilestarikan Generasi Muda

Selasa, 13 Juni 2017  19:43

Pancasila Harus Dilestarikan Generasi Muda

Jeffrey A Winters

Jakarta (BM) - Pancasila sebagai dasar negara tidak hanya menjadi doktrin yang harus dihapal, tetapi juga harus dipahami dan dilestarikan khususnya oleh generasi muda.
 
"Hal tersebut dilakukan untuk mencegah masuknya ideologi-ideologi baru yang belum tentu sesuai dengan bangsa Indonesia," ujar Profesor Ilmu Politik Universitas Northwestern, Jeffrey A Winters, saat ditemui usai diskusi tertutup di Jakarta, Selasa.
 
Ia mengatakan nilai-nilai Pancasila harus dipahami dan diamalkan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat mengingat tantangan yang dihadapi oleh Indonesia saat ini.
 
Kasus Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi ujian terhadap ideologi Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika.  "Pemerintah perlu mendefiniskan ulang ideologi Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika terhadap kondisi masyarakat saat ini," ujar dia.
 
Sebelumnya pemerintah membentuk unit kerja pembinaan ideologi pancasila untuk mendorong masyarakat agar lebih mencintai, memahami Pancasila sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
 
Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengungkapkan Presiden Joko Widodo telah menerbitkan dan menadatangani Perpres Nomor 54 tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.
 
Program pembinaan tidak dilaksanakan secara dogmatis seperti masa lalu, tapi lebih disinergikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
 
Pembinaan ideologi Pancasila ini juga akan diprogramkan masuk dalam kurikulum pendidikan.
 
Pelajaran Yugoslavia
Pada bagian lain, Winters mengatakan toleransi dan perdamaian yang selama ini tercipta di Indonesia harus terus terjaga untuk menjadi contoh yang indah bagi dunia, kata ahli politik Jeffrey A Winters.  "Kerukunan umat beragama di Indonesia merupakan karunia yang harus dicontoh oleh dunia. Jika Indonesia mampu menjaga kerukunan umat beragama di tengah keanakeragaman suku, budaya, maupun bahasa, Indonesia layak menjadi contoh bagi negara lain," katanya.
 
Karena di belahan dunia lainnya, kata dia, banyak orang yang berpikir untuk hidup dalam satu kelompok, etnis maupun agama yang sama.  "Kita dapat memetik pelajaran yang baik terkait pecahnya Yugoslavia. Negara itu terdiri dari berbagai etnis, bangsa maupun bahasa. Serentetan gejolak dan politik menyebabkan pembubaran Yugoslavia," ujar Winters.
 
Yugoslavia bubar dan berakhir pada berdirinya negara Slovenia, Kroasia, Bosnia Herzegovina, Serbia, Montenegro dan Makedonia.  "Yugoslavia meninggalkan pesan bahwa kita tidak harus hidup bersama karena kita berbeda. Kita harus membenci satu sama lain karena kita berbeda," kata dia.
 
Namun hal tersebut berbeda di Indonesia, ia mengatakan, hidup berdampingan dan saling menghormati antar umat beragama merupakan hal indah.  "Menjadi berbeda itu tidak berbahaya. Hidup berdampingan meskipun berbeda itu indah. Untuk hidup secara berdampingan, setiap individu tidak harus mempunyai persamaan suku, budaya, maupun agama," kata dia.
 
Apabila Indonesia mampu mempertahankan toleransi, kata dia, hal tersebut menjadi contoh yang menakjubkan bagi dunia.  "Namun apabila Indonesia tidak mampu menjaga toleransi ini maka akan berdampak sangat luas. Jadi kami dari pihak luar berharap Indonesia mampu menjaga toleransi antar umat beragama," kata dia. (azi/ant/nii)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>