Positif Mengandung Babi,BPOM Cabut Izin Mi Instan Asal Korea

Jumat, 18 Juni 2017  19:50

Positif Mengandung Babi,BPOM Cabut Izin Mi Instan Asal Korea

Mie instant merk Samyang yang diproduksi Samyang Crop Kangwon-Do Korea.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencabut  izin edar empat jenis mi instan asal Korea Selatan yang dinyatakan  positif mengandung babi.  Keempat produk mengandung babi tersebut, yakni Mi Instan Samyang rasa U-Dong, Mi Instan Samyang rasa Kimchi, Mi Instan Nongshim varian Shin Ramyun Black, dan Mi Instan Ottogi varian Yeul Ramen. Keempat produk ini diimpor oleh PT Koin Bumi. 

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito, mengatakan importir sudah melanggar ketentuan yang ada. Menurut Penny, importir pada saat registrasi tidak menyampaikan bahwa produk yang mereka edarkan mengandung babi atau turunannya. 
"Kalau mengandung babi, sewaktu diregistrasi sudah harus melaporkan ke kami. Maka akan saya kasih nomor registrasi sendiri khusus untuk yang mengandung babi dan satunya lagi yang tidak mengandung babi," kata Penny, Minggu (18/6).
Tapi, kata Penny, setelah mendapat nomor registrasi dan surat izin impor, importir mengimpor produk yang tidak sesuai. Informasi adanya kandungan babi pada empat produk mi instan asal Korea ini diketahui oleh BPOM dalam pengawasan saat barang sudah masuk ke pasar (post-market). 
Selain itu, Penny menyebut ada juga laporan dari masyarakat atas produk-produk ini. Setelah dicek dan dilakukan uji laboratorium, ternyata memang positif mengandung babi.
BPOM sudah berkomunikasi dengan importir keempat produk ini, yakni PT Koin Bumi. Kepada importir, BPOM telah meminta kepada importir yang bersangkutan untuk melakukan penarikan produk-produk tersebut dari peredaran.
Penarikan produk merupakan konsekwensi karena BPOM sudah mencabut izin edar produk-produk tersebut. "Kalau sudah dicabut izin edarnya itu barang sudah ilegal. Jadi harus segera ditarik dari peredaran, karena bisa dikenai sanksi importirnya kalau sampai ditemukan produk tanpa izin edar masih ada," kata Penny.
Surat BPOM Nomor IN.08.04.532.06.17.2432 tertanggal 15 Juni 2017, menyatakan, berdasarkan hasil sampling dan pengujian terhadap mi instan asal Korea, beberapa produk menunjukkan hasil positif (+) mengandung fragmen DNA spesifik babi namun tidak mencantumkan peringatan "Mengandung Babi" pada label.
 
Cermat 
Masyarakat diminta untuk cermat dalam memilih produk agar tidak salah memilih produk yang mengandung barang haram.
 “Masyarakat harus lebih berhati-hati dan lebih cermat dalam memilih produk yang tersebar di Indonesia saat ini,” ujar Wakil Direktur LPPOM MUI Pusat, Sumunar Jati.
Ia mengatakan kini di Indonesia telah banyak produk-produk impor yang belum berserifikasi oleh LPPOM MUI. Oleh karena itu, apabila ingin mendapatkan produk-produk yang aman, masyarakat harus cermat apakah produk tersebut sudah memiliki labelisasi halal dari LPPOM MUI.  ''Jangan hanya karena tidak tertulis babi, maka produk itu dianggap aman,'' katanya.
Padahal, katanya, kemajuan teknologi membuat banyak hal bisa dilakukan. Seperti, bumbu yang dipakai berasal dari unsur-unsur babi walau hanya sedikit saja.
Maka dari itu, cara yang lebih aman dalam mengkonsumsi suatu produk adalah yang sudah berlabelisasikan halal LPPOM MUI khususnya produk-produk yang tersebar di ritel-ritel Indonesia.
 “Selain itu, sosialisasi, komunikasi serta edukasi kepada masyarakat sangat perlu,'' katanya. ''Tetapi langkah-langkah tersebut tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja, melainkan seluruh lembaga dan badan hingga masyarakat harus saling memberikan edukasi dan sosialisasi kepada yang lainnya.''
 
Jelaskan Ke Publik 
Langkah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menarik beberapa mie instan asal Korea Selatan yang diduga mengandung babi perlu didukung dan diapresiasi. Tindakan menarik mie instan merk Samyang (U-Dong), Samyang (Kimchi), Nongshim, dan Ottogi merupakan salah satu upaya perlindungan konsumen yang memang sudah semestinya rutin dilakukan. Terlebih, di saat melaksanakan ibadah puasa seperti ini.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay menjelaskan bahwa mie instan mengandung babi boleh saja dijual di Indonesia, asalkan ada label yang jelas menyebut hal itu.
"Tapi kalau tidak ada labelnya, ini menjadi masalah, sebab bisa saja dibeli dan dikonsumsi orang Islam. Sementara dalam ajaran Islam, daging babi betul-betul diharamkan. Ada ketidakjujuran yang dilakukan oleh importirnya," jelasnya, Minggu (18/6).
Saleh juga mempertanyakan kinerja BPOM dalam mengawasi peredaran mie tersebut. Ini mengingat izin impor bisa diperoleh jika pengusaha impotir terlebih dahulu meminta izin kepada berbagai instansi terkait, termasuk kepada BPOM untuk melihat tingkat keamanan pangan yang akan diimpor tersebut.
"Waktu mengeluarkan izin, apakah BPOM tidak mengecek ini. Mestinya soal kandungannya juga harus diperiksa. Kenapa setelah masuk ke Indonesia baru kemudian ada temuan seperti ini?," tanyanya.
Oleh karena itu, politisi PAN ini mendesak BPOM untuk menjelaskan ke publik mengenai waktu peredaran mie-mie tersebut di tanah air. Ditakutkan mie-mie tersebut telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat tanpa mengetahui bahwa ada kandungan babi di dalamnya. Kalau itu betul, bisa jadi ini kelalaian pihak BPOM untuk melakukan antisipasi.
"Apresiasi kita pada BPOM tidak mengurangi upaya kita untuk mengoreksi berbagai hal yang dianggap tidak benar. Ini harus betul-betul menjadi perhatian BPOM. Perlu ada penjelasan resmi dari BPOM," pungkasnya. (rep/rmo/tit)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>