Survei: Komunis dan LGBT Paling Tak Disuka

Senin, 29 Januari 2018  18:06

Survei: Komunis dan LGBT Paling Tak Disuka

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, memaparkan hasil survei di acara diskusi panel, di Jakarta Senin (291/).

Jakarta (BM) –  The Wahid Foundation mengadakan penelitian nasional bertema 'Tren Toleransi Sosial-Keagamaan di Kalangan Perempuan Muslimin Indonesia'. Hasilnya, kelompok komunis serta kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dinilai sebagai kelompok yang paling tidak disukai muslim Indonesia. Yahudi menyusul di urutan ketiga sebagai kelompok yang tak disukai muslimin dan muslimah.

"Pada survei Maret-April 2016 lalu, nomor satu (yang tak disukai) adalah LGBT, kemudian komunis. Pada tahun ini (survei Oktober 2017), yang tak disukai adalah komunis disusul LGBT," kata Direktur The Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman (Yenny) Wahid di Hotel JS Luwansa, Jl HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (29/1/2018).

Pada survei 2016, dalam satuan persen, berturut-turut sepuluh kelompok paling tak disukai adalah LGBT (26,1), komunis (16,7), Yahudi (10,6), Kristen (2,2), Syiah (1,3), China (0,4), Wahhabi (0,5), Katolik (0,4), Buddha (0,4), dan Konghucu (0,1).

Pada survei Oktober 2017, yang dipaparkan sekarang, berturut-turut sepuluh kelompok yang paling tak disukai adalah komunis (21,9), LGBT (17,8), Yahudi (7,1), Kristen (3,0), Ateis (2,5), Syiah (1,2), China (0,7), Wahhabi (0,6), Katolik (0,5), dan Buddha (0,5).

Yenny mencoba menganalisis penyebab komunis naik ke peringkat pertama kelompok yang paling dibenci. Menurutnya, itu tak bisa dilepaskan dari dinamika politik dewasa ini.

"Ini hubungannya memang kalau kita lihat dengan isu-isu yang dipakai untuk menyerang Presiden Jokowi. Jadi intinya ini hubungannya politik sebenarnya," kata Yenny.

Yenny mengarahkan perhatiannya pada sentimen negatif terhadap masyarakat Cina alias Tionghoa. Ternyata umat Islam tak terlalu benci terhadap China bila dilihat dari survei tahun lalu dan tahun ini.

"Walaupun dengan begitu kental retorika yang menghantam Pak Basuki Tjahaja Purnama (eks Gubernur DKI yang dibui karena divonis menista agama), retorika anti-China ternyata nggak signifikan hasilnya, yakni hanya 0,4 dan 0,7%," kata Yenny.

Lain halnya dengan sentimen negatif terhadap masyarakat Cina, kebencian terhadap komunis, Yahudi, bahkan LGBT, hanya bersemayam di imaji. Muslim Indonesia sebenarnya jarang menemui hal tersebut.

"Menurut ahli dari Australia, ini dikategorikan sebagai kelompok yang terimajinasikan. Ini tidak riil, tidak kelihatan. Terbukti (kebencian terhadap) China nggak tinggi, karena China bisa kelihatan langsung," kata Yenny.

"Begitu yang riil ini kelihatan, maka mereka bisa mengukur, bukan sekadar imajinasi lagi," kata dia.

Dia mengaitkan kebencian yang menghinggapi muslim Indonesia dengan kebencian yang menghinggapi masyarakat Eropa. Bagi masyarakat Eropa, yang jarang bertemu muslim, mereka malah membenci muslim ketimbang membenci kelompok lain. Soalnya mereka tak pernah mengenali muslim secara baik. Maka solusi atas hal ini adalah komunikasi dalam arti yang luas.

"Penting untuk mengatur ruang-ruang perjumpaan, ruang-ruang dialog, sehingga menjadi nyata soal layakkah 'mereka' ditakuti? Apakah betul 'mereka' menjadi ancaman?" kata Yenny.

Survei dilakukan pada 6-27 Oktober 2017, dengan melibatkan 1.500 responden laki-laki dan perempuan di 34 provinsi. Teknik yang digunakan adalah multistage random sampling. Margin of error kurang-lebih 2,6% pada tingkat kepercayaan 95%. Metode survei dilakukan via wawancara.

Survei dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), didukung UN Women dan Wahid Foundation. Ini adalah bagian dari program UN Women yang didukung pemerintah Jepang bertajuk 'Perempuan Berdaya, Komunitas Damai Indonesia 2017-2018'.

Sebesar 54,7% proses survei dilakukan di Jawa. Selain itu, survei dilakukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Nusa Tenggara, dan Bali. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>