14 Bank Dibobol, Kerugian Rp 14 T

Senin, 24 September 2018  18:01

14 Bank Dibobol, Kerugian Rp 14 T

Para tersangka saat rilis kasus pembobolan dana nasabah di Jakarta, senin (24/9).

Jakarta (BM) – Polisi mengungkap kasus penipuan yang melibatkan 14 bank, dengan kerugian ditaksir mencapai Rp 14 triliun. Adalah Lembaga Penjamin Kredit PT SNP diduga telah menipu 14 bank dalam proses pendanaan kredit.

"Kasus pidana pembobolan 14 bank selama sekian periode waktu oleh PT SNP. Kerugian sekitar Rp 14 trilun," ucap Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di gedung Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (24/9/2018).

Polisi menahan lima orang pejabat dari PT SNP. Mereka yang ditahan yaitu Direktur Utama PT SNP berinisial DS, Direktur keuangan berinisial RA, Direktur Operasional berinisial AP, Manajer Akuntansi berinisial CDS, dan seorang perempuan berinisial AS yang menjabat Asisten Manajer Keuangan.

"Tiga orang lagi sebagai DPO. Kita sudah identifikasi, sekarang masih dalam proses pengejaran,"

Wadirtipideksus Bareskrim Polri Kombes Daniel Tahi Monang Silitonga di lokasi yang sama.

Daniel menerangkan, PT SNP memanipulasi daftar kreditur kepada bank. Hal ini diketahui setelah salah satu bank melaporkan mengalami kerugian.

"Daftar pembiayaan ini di-mark up. Ditambah (daftar orang), diubah (jumlah kreditannya) atau diulangi (daftarnya). Ini diajukan ke beberapa bank," ucap Daniel.

Dari 14 bank yang diduga ditipu, baru satu bank yang melaporkan kerugian. Bank tersebut merasa telah ditipu sebanyak Rp 450 miliar.

"Salah satu bank, inisial P, melaporkan secara resmi. Dia mengalami kerugian Rp 450 miliar dan macet," ucap Daniel.

Selanjutnya, polisi akan berkoordinasi dengan beberapa bank yang telah bekerja sama dengan PT SNP. "Tidak menutup kemungkinan, ada dari pihak bank yang bisa dijadikan tersangka karena terlibat," ucap Daniel.

Masalah PT Sun Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) mencuat ke publik saat perusahaan tersebut mengalamai kesulitan keuangan.

Cerita ini bermula dari gagal bayar (default) Medium Term Notes yang diterbutkan SNP Finance pada 9 Mei dan 14 Mei. Total kewajiban bunga utang yang harus dibayar mencapai Rp 6,75 miliar dari dua seri MTN.

Seri MTN V SNP Tahap II senilai Rp 5,25 miliar jatuh tempo 9 Mei 2018 dengan nilai pokok Rp 200 miliar yang terbit Februari 2018 dengan Rating Pefindo idA/Stable dengan kupon 10,5%. Kedua bunga MTN III seri B senilai Rp 1,5 miliar yang diliris 13 November 2018 senilai Rp 50 miliar dengan kupon 12,12% dengan Rating idA/Stable.

Menurut data dari KSEI, seluruh nilai MTN sebesar Rp 1,852 triliun dengan jatuh tempo dan seri yang berbeda. Nilai MTN yang jatuh tempo 2018 sebesar Rp725 miliar dengan 5 seri. Sementara MTN yang jatuh tempo 2019 sebesar Rp 817 miliar dengan 10 Seri dan yang jatuh tempo 2020 sebesar Rp 310 miliar dengan 4 seri. Semua dengan rating idA/Stable dari Pefindo.

Cerita kemudian berlanjut, ternyata perseroan juga seret membayar utang kepada para krediturnya. Tak tanggung-tanggung nilai kredit SNP Finance ke 14 bank mencapai Rp 6 triliun.

Bank-bank besar ikut memberikan kredit kepada SNP Finance. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyalurkan kredit senilai Rp 1,4 triliun dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyalurkan sekitar Rp 200 miliar ke SNP Finance.

Takut masalah membesar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya membekukan kegiatan usaha PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).

Lalu muncul pertanyaan kenapa bank-bank besar tersebut berani dan percaya memberikan utangan kepada SNP Finance. Kemana afiliasi usaha SNP Finance, dan siapa figur hebat yang dijadikan pegangangan?

SNP Finance merupakan salah satu anak usaha Columbia Grup, perusahaan terkemuka di bidang penjualan tunai dan kredit di Indonesia. Columbia didirikan oleh Leo Chandra, 75 tahun, pada tanggal 28 Februari 1982.

Keluarga Leo Chandra merupakan salah satu pengusahan yang awalnya bergeraka di bidang perdagangan. Pada tahun 1950-an kegiatan yang dilakukan adalah sebagai importir Philips, Grundig, dan beberapa produk elektronik merek Eropa di Indonesia dan mendirikan "Rasie Electronics", sebagai distributor ke seluruh Indonesia.

Sebelumnya, pada era 1930 kakek Leo mulai berbisnis peralatan elektronik. Lalu orang tua Leo meneruskan bisnis itu dengan membuka toko kelontong di Binjai, Sumatra Utara pada tahun 1940.

Di toko inilah Leo mulai belajar bisnis dengan membantu ayahnya menjual aneka kebutuhan sehari-hari hingga obat-obatan. Setelah 15 tahun di Binjai, Leo dan keluarganya hijrah ke Medan lantaran sang ibu meninggal dunia.

Ayah dan paman Leo lantas membuka toko baru. Ayah Leo membuka toko kelontong di Medan, sedangkan pamannya membuka toko elektronik di Jakarta.

Pada tahun 1970 saat produk Jepang mulai masuk ke Indonesia, Rasie Electronics mengambil kesempatan bagus dengan menjadi dealer berbagai merek seperti Sharp, Hitachi, Toshiba, Mitsubishi, National (sekarang Panasonic) dan Pioneer.

Dalam sejarahnya kemudian, nama sudah Columbia Cash & Credit bagi kalangan konsumen kelas menengah bawah cukup populer. Setelah berkecimpung selama lebih dari 35 tahun, Columbia jadi solusi bagi kalangan menengah bawah untuk pemenuhan kebutuhan non primer, seperti produk-produk elektronik dan perabot rumah tangga dengan cara cicilan.

Sempat beberapa kali menjadi korban kerusuhan tak menyurutkan niat Leo Chandra berbisnis. Jaringan toko kredit Columbia telah mampu bertahan selama 35 tahun dengan total 500 cabang. Omzet usahanya mencapai Rp 2 triliun per tahun.

Pada tahun 2002, Leo mengakuisisi PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) untuk menyokong pembiayaan secara kredit. Saat ini, perusahaan pembiayaan ini memiliki sekitar 72 cabang. Klien utama SNP adalah konsumen Columbia.

Dari sinilah awal mulanya SNP Finance berkecimpung bersama Grup Columbia membiayai pembelian kredit untuk masyarakat menengah bawah. (det/cnb/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>