Antonio, Penyebar Hoaks Kerusuhan 1998 Seorang Residivis

Minggu, 07 April 2019  18:40

Antonio, Penyebar Hoaks Kerusuhan 1998 Seorang Residivis

Antonio Banerra (kaus tahanan) di Polda Jatim

Surabaya (BM) - Polisi menangkap pemilik akun Facebook Antonio Banerra, sang penyebar hoaks pada Sabtu (6/4) malam. Di laman Facebooknya, Antonio mengajak masyarakat memilih salah satu paslon pada Pilpres 2019 dan mengaitkannya dengan kerusuhan 1998.

Dalam statusnya di Facebook, Antonio juga menyebarkan hoaks jika tak memilih paslon tersebut, tragedi kerusuhan 1998 dan perkosaan massal kepada etnis Tionghoa akan terulang.

Pihak lepolisian menyebut pemilik akun Facebook Antonio Banerra sebagai seorang residivis. Selain itu, tersangka juga sebelumnya pernah bekerja sebagai sales di sebuah TV Kabel.

"Yang bersangkutan memang seorang residivis," kata Kasubdit V Cyber Crime Polda Jatim AKBP Cecep Susatya saat konferensi pers di Mapolda Jatim, Surabaya, Minggu (7/4/2019).

Menurut Cecep, Antonio yang memiliki nama asli Arif Kurniawan Radjasa terjerat kasus perampasan sekitar 10 tahun yang lalu. Meski begitu, ia tidak memberikan informasi lebih detail mengenai kasus tersebut.

"Kasus perampasan sudah sekitar 10 tahun yang lalu di Jawa Timur," imbuhnya.

 

Penangkapan

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan penangkapan tersangka dilakukan karena seminggu sebelumnya ada laporan yang masuk. Untuk itu, polisi langsung bergerak cepat agar penyebaran hoaks tidak menimbulkan luka dan keresahan di masyarakat.

"Atensi Mabes Polri atensi Polda Jatim sama terhadap akun yang namanya Antonio Banerra ini. Ini pengaduan sudah satu minggu yang lalu sudah masuk ke Bareskrim dan humas Polri dari berbagai netizen dan masyarakat," kata Barung kepada awak media, Minggu (7/4/2019).

Barung melanjutkan, apa yang di-posting Arif alias Antonio telah menimbulkan keresahan dan membuka luka lama bangsa Indonesia soal tragedi 1998 kepada etnis tertentu. "Yang betul-betul digarisbawahi mengapa pimpinan Polri, pimpinan Polda Jatim Bapak Irjen Pol Luki Hermawan sangat konsen terhadap kasus ini. Ini menjadi sesuatu perhatian kita semua untuk melakukan penangkapan terhadap manusia ini," imbuh Barung.

"Sehingga salah satu yang kita lakukan hari ini bagaimana menampilkan orang-orang rasis di Indonesia tidak lagi berada di sini. Kita sudah rasis kalau sudah menyinggung suku, agama, dan ras," tambahnya.

Dikatakan Barung, untuk ancaman hukuman tersangka akan dikenakan 28 ayat 2 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang ITE. Dan karena hukumannya di atas 5 tahun, polisi langsung melakukan penahanan.

"Pasal yang kita kenakan tetap yang tertinggi 28 ayat 2 Undang-Undang nomor 19 tahun 2016 tentang ITE. Ancamannya di atas 5 tahun sehingga kita bisa menahan yang bersangkutan," pungkasnya.

Dalam pengakuannya kepada polisi, Arif alias Antonio mengaku tidak ingin kejadian 1998 seperti yang menimpa keluarganya kembali terulang. Pernyataan tersebut dibenarkan Arif saat dirilis di Mapolda Jatim, Surabaya.

"Ya kalau sementara keterangannya seperti itu," kata Arif Minggu (7/4/2019).

Namun Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera mengatakan pihaknya belum bisa menyimpulkan motif Arif membuat hoaks. Pihaknya meminta waktu untuk lebih mendalami motif pelaku.

"Berikan kesempatan penyidik untuk mendalami. Motif dan lain sebagainya masih didalami, kenapa? Karena baru semalam tertangkap," imbuh Barung.

Sebelum ditangkap polisi pada Sabtu (6/4) malam, Arif sempat mengubah nama akun Facebooknya. Dari Antonio Banerra menjadi Gatot Kaca.

"Ya kemarin sempat diganti dengan akun (nama) Gatot Kaca Facebooknya," kata Kasubdit V Cyber Crime Polda Jatim AKBP Cecep Susatya dalam konferensi pers di Mapolda Jatim.

Akun tersebut dibuat sekitar tahun 2015. Kepada polisi. Arif mengaku hanya menggunakan media sosial Facebook dan baru pertama kali menyebarkan hoaks.

Barung kemudian menambahkan kasus ini bisa menjadi peringatan bagi masyarakat agar tak melakukan hal-hal SARA. Selain itu, dia ingin masyarakat lebih pintar dalam bersosial media dengan tidak membagikan berita hoaks.

"Yang perlu dicatat tidak ada lagi rasis-rasis di negara Indonesia. Karena Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama dan bangsa," pungkasnya.

 

Tukang Ngaco

Pakar hukum tata negara Mahfud MD angkat bicara terkait penangkapan pemilik akun Facebook Antonio Banerra yang menyebar hoaks terulangnya kerusuhan 1998. Menurutnya hal itu harus mendapat antisipasi dari semua pihak agar tidak terulang lagi.

"Saya baru dengar. Nah itu yang harus kita antisipasi. Makanya kita harus ngaji. Ngaji itu memahami sambil berdoa jadi kalau kampanye-kampanye seperti yang umum dilakukan itu kan emosi," kata Mahfud usai jumpa pers persiapan Ngaji Kebangsaan bersama Slank dan Ustad Yusuf Mansur di Surabaya, Minggu (7/4/2019).

"Nah, kita berangkat dari kesadaran yang dalam bahwa Pemilu itu sarana mencapai tujuan. Pemimpin itu diperoleh dari kesepakatan itu saja," imbuh mantan ketua MK.

Meski menyarankan semua pihak agar mengantisipasi terulangnya kerusuhan 1998, Mahfud mengaku peristiwa kelam itu tidak akan pernah terjadi lagi. Sebab hasutan hoaks itu hanya dari orang yang ngaco saja.

"Saya kok tidak melihat ada faktor yang kuat terjadi seperti tahun 1998. Itu hanya orang yang ngaco saja. Betul, saya kira pembuat hoaks ditangkap saja," pungkasnya. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>