Direktur Tersandung Kasus Korupsi, KrakatauSteel Kooperatif

Kamis, 24 Maret 2019  17:18

Direktur Tersandung Kasus Korupsi, KrakatauSteel Kooperatif

Kenneth Sutardja

Cilegon (BM) - Direktur Teknologi PT Krakatau Steel (KS) Wisnu Kuncoro tersandung kasus korupsi. Pihak manajemen perusahaan akan kooperatif menghadapi kasus yang membelit direkturnya tersebut.  "Dengan adanya dugaan suap ini, maka Manajemen Krakatau Steel menghormati dan menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang berlaku dan mendukung upaya-upaya pemberantasan korupsi serta bersikap kooperatif kepada KPK," kata Direktur Utama PT Krakatau Steel, Silmy Karim dalam keterangan persnya, Minggu (24/3/2019).

Dugaan suap itu, lanjut Silmy membuat prihatin lingkungan KS. Pasalnya, pihaknya saat ini tengah membenahi internal perusahaan pabrik baja itu.

"Segenap Manajemen PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merasakan keprihatinan yang mendalam atas kasus ini, karena saat ini Krakatau Steel tengah gencar melakukan pembenahan internal dan perbaikan kinerja Perseroan dengan mengedepankan profesionalisme dan good corporate government di segala bidang serta praktik manajemen yang bebas dari segala konflik kepentingan," katanya.

Meski demikian, pihak perusahaan akan membantu proses hukum yang sedang berjalan di KPK. KS sendiri menyerahkan sepenuhnya kepada penegak hukum hingga kasusnya tuntas.

"Manajemen Krakatau Steel akan membantu sepenuhnya proses hukum yang dilakukan oleh KPK dan berharap proses ini segera selesai sehingga Perseroan segera dapat memenuhi target, baik produksi baja untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional," ujarnya.

"Manajemen Krakatau Steel menjamin bahwa penegakan hukum yang sedang berlangsung ini tidak akan mengganggu program kerja perusahaan, pengembangan yang sedang dikembangkan dan pencapaian target tahun 2019," lanjutnya.

Dalam kasus ini, Wisnu Kuncoro dan Alexander Muskitta (AMU) dari swasta, diduga sebagai penerima. Lalu, Kenneth Sutardja (KSU) dan Kurniawan Eddy Tjokro (KET) alias Yudi swasta, diduga sebagai pemberi. Ketiganya telah ditahan oleh KPK. Sementara itu, Kurniawan Eddy Tjokro masih buron.

Kuncoro dan Alexander selaku pihak penerima dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pihak yang diduga pemberi Kenneth dan Kurniawan disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Tak Ganggu Kinerja

Ditahannya Wisnu Kuncoro diklaim tidak mengganggu operasional perusahaan. Tahun ini, perusahaan telah menggelontorkan USD 432 juta untuk belanja modal.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyatakan proses produksi pun berjalan dengan lancar dan tanpa masalah, di mana anggaran diperbanyak untuk proyek hot strip mill 2 di Cilegon. Pabrik hot strip mill 2 ini diprediksi selesai April mendatang.

"Anggaran sebagian besar untuk induk usaha terutama proyek hot strip mill 2 di Cilegon. Pabriknya nanti akan selesai target April 2019," ungkapnya saat konferensi pers di Jakarta, Minggu (24/3).

Sementara, Silmy tidak khawatir bila kasus suap akan menghambat target, karena menurutnya faktor yang mempengaruhi kinerja perusahaan adalah pasar dan kondisi ekonomi. Apalagi, Krakatau Steel adalah salah satu perusahaan BUMN sektor baja yang sudah kokoh.

"Target kami produksi baja 10 juta ton juga matang-matang saja, lancar. Intinya kasus yang menimpa rekan kami murni masalah pelanggaran Good Corporate Governance. Kita sedang berusaha melakukan perbaikan internal untuk itu," imbuhnya.

Silmy menyatakan, ketika dirinya ditawarkan menangani Krakatau Steel, dia menyatakan dasar untuk melakukan hal itu adalah dengan menerapkan transformasi ke arah penerapan "Good Corporate Governance" (GCG), yang dinilai merupakan modal kuat untuk mengembalikan kejayaan Krakatau Steel.

Untuk itu, Silmy juga mengajak baik dalam hal-hal formal maupun informal dalam menyebarkan semangat pembenahan ini melalui berbagai upaya perbaikan dari segala lini perusahaan BUMN tersebut.

"Saya selaku pimpinan dan rekan kerja sangat prihatin (terhadap operasi tangkap tangan KPK) dan ini tentunya kami tidak ingin terjadi. Kami cukup kaget, terus terang BoD (dewan direksi) sangat baik dan sangat kompak dalam membangun kembali kejayaan Krakatau Steel," jelasnya.

Namun, dia menegaskan pihaknya akan mendukung apapun yang dilakukan oleh KPK karena bagaimanapun penegakan hukum merupakan salah satu tonggak yang dibawa pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sebagai dasar membangun bangsa.

 

Harta Rp 14,6 M

Wisnu Kuncoro diketahui memiliki harta senilai Rp 14.638.045.481. Dilihat di situs Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Wisnu terakhir kali melaporkan harta yang dimiliki pada tanggal 29 Maret 2018. Saat melaporkan kekayaannya Wisnu sudah berstatus direktur di PT Krakatau Steel.

Data LHKPN menunjukkan Wisnu memiliki harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan yang tersebar di beberapa wilayah seperti di Tangerang, Jakarta Selatan, Bandung, Kota Surakarta, hingga Kota Cilegon. Totalnya Rp 5.505.815.001.

Wisnu juga memiliki harta bergerak seperti logam mulia yang berasal dari hasil sendiri yang diperoleh dari tahun 1997 sampai dengan 2009, dengan nilai jual Rp.460.000.000. Dia juga memiliki alat transportasi senilai Rp. 270.000.000 berupa mobil Toyota Kijang Innova tahun 2005 dan mobil Toyota Yaris tahun 2013.

isnu juga tercatat memiliki alat transportasi berupa mobil Toyota Kijang tahun 2005, mobil Toyota Yaris tahun 2013, mobil Honda Brio tahun 2015, dan motor Honda Vario tahun 2014. Jika ditotal seluruhnya senilai Rp. 296.000.000.

Ada juga harta bergerak lainnya yang dimiliki Wisnu senilai Rp. 460.000.000, surat berharga senilai Rp. 2.697.307.639, dan kas senilai Rp. 5.678.922.841.

Dalam LHKPN yang dilaporkan, Wisnu tercatat tidak sama sekali tidak memiliki utang. (det/mer/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>