Kasus Mafia Bola, HS Diduga Minta Rp 140 Juta

Rabu, 09 Januari 2019  17:32

Kasus Mafia Bola, HS Diduga Minta Rp 140 Juta

Argo Yuwono

Jakarta (BM) –  Mantan manajer Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fatah, melaporkan petinggi PSSI berinisial IB kepada Satgas Anti Mafia Bola. Imron diminta mengirimkan sejumlah uang oleh IB.  Dalam persoalan tersebut diduga ada keterlibatan Mantan Ketua Umum Pengprov PSSI Jawa Timur HS yang meminta uang Rp 140 juta.

Pertandingan delapan besar Liga Remaja Piala Soeratin seri nasional pada 2009 itu dijadwalkan bergulir pada November. Lewat penawaran, tuan rumah dijatuhkan kepada Perseba Super Bangkalan pada Oktober 2009.

Proses mengajuan itu dilakukan oleh Imron Abdul Fattah yang saat itu menjabat sebagai manajer Perseba Super Bangkalan. Imron memintanya kepada PSSI melalui Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI). Waktu itu, Ketua BLAI dijabat oleh IB. Muncul opsi, Persib menjadi tuan rumah jika Perseba tak sanggup memenuhi pembayaran.

"Selanjutnya, korban bertemu dengan saudara HS selaku Ketua Pengda (sekarang Asprov) PSSI Jawa Timur di Surabaya. Dan pada saat itu, saudara HS meminta sejumlah uang sebesar Rp 140 juta sebagai syarat meloloskan Perseba Bangkalan sebagai tuan rumah," ujar Juru Bicara Tim Satgas Anti Mafia Bola Kombes Argo Yuwono, Rabu (9/1/2019).

Imron memenuhi persyaratan tersebut. Dia mentransfer ke rekening IB pada Oktober 2009.

"Transaksi pertama tanggal 5 Oktober 2009 sebesar Rp 40 juta," katanya.

Imron mentransfer kembali uang sebesar Rp 25 juta pada 13 Oktober 2009. Pada tanggal 6 November 2009, dia mentransfer kembali uang Rp 50 juta.

"Selanjutnya, pada November, saat korban berada di Jakarta, dihubungi oleh terlapor IB selaku Ketua BLAI meminta kepada korban uang sebesar Rp 25 juta sebagai tambahan uang untuk persetujuan pelaksanaan pertandingan Delapan Besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional 2009 yang akan dilaksanakan di Bangkalan," kata dia.

Imron kemudian mengirimkan uang tersebut ke rekening IB. Namun belakangan, Imron baru tahu untuk menjadi tuan rumah tidak perlu mengeluarkan uang.

"Pada Desember 2009 setelah dilaksanakan pertandingan delapan besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional 2009 di Bangkalan, korban baru mengetahui dan tersebut tidak ada ketentuan untuk melakukan pembayaran," tuturnya.

Argo mengatakan terus mendalami laporan Imron. Tim Satgas berencana memeriksa sejumlah saksi terkait untuk mendalami laporan Imron itu.

Terkait mafia bola, Wakil Ketua Satgas Anti-Mafia Bola Brigjen Pol Kreshna Murti menyebut bahwa ada banyak wasit di sepak bola liga Indonesia yang terlibat pengaturan skor.

"Ada beberapa wasit kami berita acara [periksa], mereka mengatakan, beberapa dari mereka terlibat [...] Katanya wasit itu [yang terlibat] agak banyak," kata Krishna di Yogyakarta, Rabu (9/1/2019).

Menurut Krishna sejumlah wasit yang terlibat ada yang karena terpaksa ikut pengaturan skor, ada yang karena sukarela dan ada juga yang terlibat karena takut.

Namun dari sejumlah wasit yang diperiksa ada pula yang tidak terlibat tetapi mengetahui adanya praktek pengaturan skor.

"Mereka tidak terlibat tetapi mereka tahu ada permainan. Itu yang kami juga akan gali," ujar Krishna

Satgas Anti-Mafia bola telah menangkap satu tersangka kasus dugaan pengaturan skor yakni wasit yang memimpin pertandingan Persibara vs PS Pasuruan di Liga 3 2018.

“Kami tangkap Senin (7/1), inisial N, saat dia berada di sarana olahraga Garut,” ujar Ketua Tim Media Satgas Anti-Mafia Sepakbola, Kombes Pol Agus Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Selasa (8/1/2019). Diketahui, N ialah wasit Nurul Safarid. (tri/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>