Polda Jatim Bongkar Industri Pengolahan Merkuri Berbahaya

Selasa, 13 Agustus 2019  19:54

Polda Jatim Bongkar Industri Pengolahan Merkuri Berbahaya

Kelima Tersangka Mengenakan Baju Oranye Usai Diamankan Di Mapolda Jatim.

SURABAYA (BM) - Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim menggerebek industri pengolahan bahan berbahaya dan beracun (B3) jenis merkuri di Sidoarjo. Merkuri ini diduga diproduksi ilegal dan dijual secara bebas.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, sebanyak 5 tersangka diamankan diantaranya, AW (41), AB (49), AH (35), AS (50), dan MR (35). Kelima tersangka diduga terlibat dalam penjualan merkuri yang tergolong bahan berbahaya.

Selain menangkap kelima tersangka, polisi juga menyita sebanyak 200 kg merkuri siap jual. “Para tersangka kami tangkap di tempat yang berbeda. Tersangka AW kami amankan di rumahnya di Sidoarjo. Di rumah tersebut, kami juga temukan pengemasan merkuri tanpa izin,” ujar Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan, Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim di Mapolda Jatim, Selasa (13/8/2019).

Ia menjelaskan, kasus penjualan merkuri ini terbongkar setelah polisi mendapati adanya kegiatan pengemasan air raksa oleh tersangka AW pada Sabtu (6/8/2019) lalu. Setelah diselidiki, ternyata aktivitas tersebut ternyata tidak memiliki izin. 

“Dari tersangka AW, kami mengorek informasi asal merkuri. Dari sana kami menangkap tersangka AB di sebuah hotel di Surabaya. Di hotel tersebut AB menjual merkuri ke wilayah Jatim. Setelah itu, petugas memeriksa tersangka AB untuk mengungkap di mana pengolahannya,” kata Yusep.

Berbekal pengakuan AB, polisi lantas mengecek lokasi pengolahan batu cinnabar (bahan baku merkuri). Hasilnya, ditemukan kegiatan pengoIahan dan pemurnian batu cinnabar yang bukan dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). 

Yusep mengatakan pengungkapan berawal dari cyber patrol timnya. Hal ini karena merkuri dipasarkan melalui media sosial. Selain itu, ada temuan produk merkuri dalam bentuk kemasan merek Gold di pasaran. Diketahui, produk resmi dari Jerman tersebut ilegal.

"Tim kemudian melakukan undercover buy dan mengamankan seorang di Sidoarjo. Indonesia melarang produksi merkuri. Artinya, tidak ada produksi merkuri. Kalau butuh, harus impor," imbuhnya.

Selain itu, Yusep mengatakan pihaknya menemukan kegiatan pengolahan dan pemurnian batu cinnabar menjadi merkuri. Ternyata hal ini dilakukan oknum yang tidak memegang IUP atau izin dari pemerintah.

"Diketahui bahwa produsen berasal Sulawesi Tenggara. Di sana ditemukan merkuri kemasan dan alat-alat pemurnian merkuri dibuat dari batuan cinnabar. Dari hasil pemeriksaan, batu cinnabar ini diperoleh di Propinsi Maluku," tambahnya.

Yusep menyebut praktik ini telah berjalan sejak 2006. Dia memaparkan merkuri dibuat dari setiap 1 ton batu cinnabar yang dicampur dengan sianida dan bijih besi, yang kemudian menjadi 500 kilogram merkuri. Sementara itu, polisi telah mengamankan merkuri merk Gold sebanyak 414 kilogram.

Tak hanya itu, polisi juga mengamankan beberapa barang yang digunakan untuk proses pembuatan merkuri. Ada pula ponsel, buku tabungan, kartu ATM, hingga kemasan untuk menjual merkuri yang turut disita.

“Dari situ kami mengamankan AH, produsennya. Tak hanya itu, dua orang pembeli juga turut ditangkap. Mereka yakni AS dan MR. Merkuri ini dijual via online, di mana untuk ukuran 1 kg seharga Rp1,5 juta,” tegasnya.

Atas perbuatannya, kelima tersangka dikenai beberapa pasal, mulai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Penambangan Mineral dan Batu Bara Pasal 161 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1), Pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal 104 ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

Selain itu, pelaku dikenai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan Pasal 106. Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) dengan pidana penjara paling lama 4 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 10 miliar.

 

Dijual Rp 1,5 Juta Per Kg

Dari pengakuan tersangka, merkuri dipasarkan Rp 1,5 Juta untuk kemasan 1 kilogram.

Kasubdit IV Tipidter AKBP Rofiq Ripto Himawan memaparkan merkuri yang diproduksi di Sidoarjo kebanyakan dijual di luar Jawa. Merkuri ini digunakan untuk bahan baku pertambangan emas sebagai tambahan dalam proses penyulingan.

"Merkuri bahan baku pendukung pertambangan emas, karena yang paling butuh dengan merkuri adalah pertambangan emas," kata Rofiq saat rilis di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Selasa (13/8/2019).

"Beda lagi kalau merkuri digunakan oleh kosmetik, itu bahannya dengan bentuk berbeda. Dan pertambangan emas di Jatim ada beberapa titik, paling banyak di luar Jawa. Makanya proses pendistribusian di Jatim cuma 20 persen, 80 persen luar Jawa. Kalimantan, NTT, Papua, cuma produksinya yang dirasa paling secure oleh pelaku itu di tanah Jawa, karena tidak terlalu banyak pertambangan," imbuhnya.

Ia menyampaikan merkuri sangat berbahaya bagi masyarakat. Meskipun dampaknya tidak langsung dirasakan, merkuri bisa menyerang genetik manusia. Selain itu, Rofiq menambahkan, merkuri telah dilarang di Indonesia sejak 2017.

"Karena merkuri tidak bisa dirasakan secara langsung dampaknya. Dia proses berdampak pada manusia berdasarkan siklus yang sangat panjang, tapi menyerang genetik," lanjutnya.

Adapun untuk pengirimannya, Rofiq mengatakan, menggunakan kapal laut ke lokasi, yang kebanyakan di luar Jawa. "Dari Sidoarjo langsung di kirimkan ke pelaku pertambangan, arahnya ke Kalimantan. Kirimnya pakai kapal laut," pungkasnya.(arf/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>