Polisi Amankan 1 Truk Rangkaian Bom

Rabu, 16 Mei 2018  19:02

Polisi Amankan 1 Truk Rangkaian Bom

Barang-barang yang disita dari rumah Dita

Surabaya (BM) - Polisi menggeledah rumah para pelaku pemboman di Surabaya dan terduga teroris di Sidoarjo. Dari operasi itu, polisi menemukan rangkaian bom sebanyak hampir satu truk.

"Saat ini sudah dikumpulkan, lalu didisposal untuk jadi barang bukti. Sekarang rangkaian ini tidak didisposal dulu, tapi masih disimpan di Mako Brimob karena jumlahnya banyak," kata Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera saat jumpa pers di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (16/5/2018).

Penemuan ini ujar Barung, usai Densus 88 menemukan satu koper bom pipa yang berjumlah total 54 bom yang sudah dijinakkan. Dalam satu truk ini, terdiri dari ratusan rangkaian bom yang ditemukan dari rumah pelaku pengeboman, rumah para teroris yang ditangkap atau rumah kontrakan teroris yang telah dilumpuhkan polisi.

Namun ketika ditanya detail jumlahnya, Barung mengatakan belum bisa memastikan jumlahnya karena hingga saat ini, bom tersebut belum didisposal atau dijinakkan.

Saat ini jelas Barung, 1 truk bom-bom tersebut dibawa ke Markas Brimob Watu Kosek Mojokerto untuk didisposal. Pengiriman tersebut sudah dilakukan sejak pukul 07.31 WIB.

"Yang jelas jumlahnya banyak. Pagi tadi dibawa ke Watu Kosek kalau sudah didisposal baru kami detailkan. Barang bukti terlalu banyak. kesimpulannya lebih dari satu truk," tegasnnya.

Pasca bom meledak di tiga gereja Surabaya, Densus 88 melakukan penggedahan di rumah para pelaku pengeboman. Selain itu, Densus 88 juga melakukan penangkapan terhadap para terduga teroris di Surabaya dan Sidoarjo.

 

Spanduk Kecaman

Banyaknya baliho dan spanduk kecaman terhadap aksi teror bom di 3 gereja dan Mapolrestabes Surabaya mendapat tanggapan Wali Kota Tri Rismaharini. Spanduk itu sebagai bentuk solidaritas warga.

"Mungkin warga marah, kesal. Saya bisa pahami itu dengan menuangkan amarahnya," kata Risma pada, Rabu (16/5/2018).

Risma menilai kecaman teror bom berupa spanduk dan baliho menunjukkan sikap warga yang mempunyai solidaritas dan kebinekaan yang tinggi antar umat beragama. "Selama ini saya berusaha menciptakan kerukunan antar warga, antar umat. Tapi dengan kejadian teror bom itu, tidak hanya saya pribadi tetapi warga juga terpukul, saya yakin itu," ungkapnya.

Solidaritas tinggi warga Surabaya kata Risma juga ditunjukkan dengan aksi donor darah pasca bom di 3 gereja. "Seperti halnya aksi donor darah itu, saya, Pemkot tidak pernah memerintahkan. Tetapi dari sifat solidaritas warga, empati warga sendiri," ungkapnya.

Wali Kota perempuan pertama di Surabaya ini juga mengajak warga tidak hanya mengecam aksi teror bom saja. Tetapi juga ikut mengajak berperan aktif dengan meningkatkan kewaspadaan di tingkat pemukiman dan aktif melaporkan, jika melihat kejanggalan di wilayah masing masing," pungkas Risma.

Aksi teror bom di Surabaya mendapat kecaman dari warga Surabaya. Mereka menumpakan kecaman terhadap pelaku dan aksi teror melakui baliho dan spanduk yang dipasang di beberapa sudut Kota Pahlawan. Salah satunya baliho dengan ukuran besar bertuliskan, "Teroris Jancuuk!!".

 

Imbauan

Terpisah, Forum Lintas Agama mengimbau agar masyarakat untuk tidak main hakim sendiri.  Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak menggeneralisasi dan menyimpulkan jika wanita bercadar atau pria berjenggot dan bercelana 'cingkrang' adalah teroris.

"Ini beredar informasi dan persepsi yang salah di masyarakat bahwa celana cingkrang identik dengan teroris. Padahal tidak gampang mengidentifikasi mereka teroris atau bukan. Karena itu kami mengimbau pada masyarakat untuk tidak bermain hakim sendiri," ujar Ketua Forum Lintas Agama Ali Maschan Moesa saat jumpa pers di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Rabu (16/5/2018).

Didampingi perwakilan dari agama Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, hingga penganut Kepercayaan, Ali juga meyakinkan agar umat Kristen dan Katolik tak lagi takut untuk menjalankan ibadah saban Minggu. Ia menjamin bahwa seluruh umat beragama akan bahu-membahu saling menjaga.

"Yang penting hari Minggu kami sepakat yang dari gereja jangan takut, bahwa kami juga yakin tidak akan ada apa-apa, kami akan mengerahkan Banser dan kami umat Islam juga sudah siap," papar Ali.

Ali juga menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian yang sigap menangani, menjaga hingga membuat kondisi menjadi kondusif.

"Apresiasi yang sangat luar biasa kepada Polri yang sigap dan tuntas menyelesaikan masalah tanggal 13 kemarin," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Badan Musyawarah Gereja Seluruh Indonesia Agus Susanto mengatakan akibat bom yang meledak di tiga gereja itu muncul trauma sosial pada para jemaat. Namun ia mengimbau agar para jemaat tidak takut datang ke gereja.

"Kondisi secara internal saat ini masih trauma, karena saya berharap trauma berakhir dan para jemaat mulai lagi melakukan aktivitas di gereja. Tidak usah takut datang ke gereja, gereja sudah aman," lanjutnya.

 

14 Terduga Teroris

Sementara itu, Polda Jawa Timur telah merilis identitas terduga teroris yang ditangkap dan dilumpuhkan dalam tiga hari ini. Total sebanyak 18 orang ditangkap oleh anggota Densus 88.

Diungkapkan Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera, 18 orang yang tertangkap tersebut kini diamankan di Mako Detasemen Gegana.

"Semua diamankan di Mako Detasemen Gegana sebanyak 18 orang. Rinciannya 14 terduga teroris, 3 orang saksi dan 1 orang anak balita," ujar Barung di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Rabu (16/5/2018).

Berikut nama-nama 18 orang yang ditangkap :

1. Rizky Ardian Sulanjana, ditangkap saat pulang kerja di depan Graha pena pada Senin, (14/5) sekitar pukul 16.00 WIB

2. Abdullah Mashuri, ditangkap di Jalan Sidotopo Lor, Surabaya, saat mengirim roti pada Senin (14/5) sekitar pukul 08.00 WIB

3. Miftahul Munif, ditangkap saat akan berangkat kerja di bawah Jembatan Suramadu pada Senin (14/5) pukul 08.30 Wib

4. Boy Arfianza, ditangkap di rumahnya di daerah Lebak Rejo Utara 7/47, Kenjeran, Surabaya, Senin, (14/5) pukul 12.30 WIB

5. Agus Satrio Widodo, ditangkap di rumah kontrakan RT 02/RW 02, Kel. Urangagung, Sidoarjo bersama Ilham Fauzan (sudah meninggal) pada Senin (14/5) pukul 07.30 WIB.

6. Damayanti (istri Agus Satrio Widodo), ditangkap bersama dengan Agus Widodo, Ilham Fauzan dan Bety Rinawati Brojo di rumah kontrakan Agus Widodo pada Senin, (14/5)

7. Bety Rinawati Brojo, ditangkap bersama dengan Agus Widodo, Ilham Fauzan dan Damayanti di rumah kontrakan Agus Widodo pada hari Senin, (14/5)

8. Abdul Kahfi, ditangkap saat pulang kerja dari pasar Pandaan di Jalan Juanda, Jogosari, Pandaan, Pasuruan pada Selasa, (15/5)

9. Kristianto/Abi, ditangkap pada perjalanan di Jalan Tenaga, Turirejo, Kepuharjo, Karangploso, Malang pada Selasa (15/5) sekitar pukul 08.30 WIB

10. Wahyu Mega Wijayanti (istri Samsul Arifin atau Abu Umar), ditangkap di rumah kontrakan pada Selasa (15/5) sekira pukul 03.00 WIB bersama Samsul Arifin.

11. Syaqif Constantin Arsalan, ditangkap saat keluar rumah di Pucang Indah Lestari IV Jalan Srikaya A-28 RT.8/RW.2 Kebonagung, Purworejo, Pasuruan pada Selasa, (15/5)

12. Samsul Arifin atau Abu Umar, ditangkap di rumah kontrakan Selasa, (15/5) pukul 03.00 WIB bersama istrinya.

13. Emil Lestari (istri Ilham Fauzan) dan 1 orang anak umur 1 tahunan, diamankan pada saat penggeledahan rumah Ilham Fauzan pada hari Selasa, (15/5) sekitar pukul 19.30 Wib.

14. Suyanti (perempuan/istri Dedi Sulistiantono), diamankan pada saat penggeledahan rumah Ilham Fauzan pada Selasa, (15/5) sekitar pukul 19.30 Wib.

15. Ilham Fauzan atau Wicang (meninggal), ditangkap di rumah kontrakan Agus Widodo sata mengantar paket bom ke rumah Agus Widodo.

16. Budi Satrio, (meninggal dunia) melawan saat hendak ditangkap di rumah daerah Perum Puri Maharani blok A 3 no.A411, Masangan wetan, Sukodono, Sidoarjo hari Senin, (14/5) sekira pukul 07.30 WIB

17. Dedi Sulistiantono (meninggal dunia), ditangkap di Manukan kulon blok 19H/19, RT 11/RW 03, Manukan Kulon, Tandes, Surabaya. Pelaku melawan dengan senjata tajam saat berusaha ditangkap di rumah kos pada Selasa, (15/5) sekitar pukul 17.20 WIB

18. Anak balita yang tidak disebutkan namanya

Polisi telah melepas beberapa terduga teroris yang tidak terbukti memiliki bom atau terlibat dalam jaringan teroris. Mereka yakni Arifin dan istrinya Ida, warga Jalan Kapi Sraba XI, Pakis, Kabupaten Malang. Juga warga Lebak Rejo yang sempat menjadi saksi yakni Boy Arfiansyah (29) dan Deniar Faurizal (28). (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>