Polisi Ungkap Kedok Penjualan Bayi Via Medsos

Rabu, 10 Oktober 2018  18:49

Polisi Ungkap Kedok Penjualan Bayi Via Medsos

Para tersangka pelaku perdagangan anak

Surabaya (BM) – Polisi mengungkap praktik perdagangan anak lewat media sosial di wilayah hukum Kota Surabaya. Ironisnya, para pelaku menggunakan kedok yayasan peduli anak untuk 'melariskan dagangannya'.

Empat tersangka telah diamankan tim Polrestabes Surabaya. Yaitu: Alton Phinandita, warga Sawunggaling Sidoarjo; ibu yang menjual bayinya yakni LA atau Ica (22), warga Bulak Rukem Surabaya; bidan nonaktif Ni Ketut Sukawati (66) warga Badung, Bali; dan pembeli bayi, Ni Nyoman Sirait (36), warga Badung Bali.

Ada fakta yang cukup mencengangkan tentang Alton Phinandita (29), pelaku perdagangan bayi melalui media sosial instagram. Ternyata, Alton merupakan lulusan program studi (prodi) pendidikan kesejahteraan keluarga.

Bekal dari bangku kuliah ini lah yang membuat Alton membuat akun instagram berkedok konsultasi masalah rumah tangga. Dia membuka ruang bagi siapa saja yang ingin membagi cerita melalui instagram.

Alton pun mahir menjadi konsultan pasutri yang ingin memiliki anak, memberi solusi anak-anak muda yang hamil di luar nikah agar tidak menggugurkan kandungannya, atau orang-orang yang tak mampu menghidupi anaknya. Dengan perlahan, Alton mengarahkan orang-orang ini untuk terlibat dalam perdagangan anak melalui media sosial instagram.

Hal ini juga dibenarkan Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya AKP Agung Widoyoko. Selain ilmu di bangku kuliah, Agung mengatakan Alton sempat bekerja di bidang sosial. Ini membuatnya mahir dalam melancarkan aksi.

"Dulunya dia kuliah di kesejahteraan keluarga. Lalu kerja di bidang sosial. Lalu punya niatan mau buka konsultasi itu, lewat instagram. Tapi ilegal. Alasannya agar tidak ada lagi ibu-ibu yang menggugurkan bayinya. Mau dibantu dicarikan orang tua asuhnya," kata Agung di Surabaya, Rabu (10/10/2018).

Alton pun berdalih ingin membantu ibu dari bayi-bayi yang tak diinginkan agar tidak stres hingga tega menggugurkan bayinya. Bagi Alton, masih banyak orang di luar sana yang ingin memiliki buah hati.

Namun sayang, aksi Alton ini terhitung menyimpang dan ilegal. Proses adopsi tak bisa dilakukan dengan menukar sejumlah rupiah dengan sebuah nyawa. Tetapi harus melewati beberapa proses menggunakan jalur pengadilan.

"Dia tahu kalau ini salah. Tapi dia mikirnya tujuan untuk membantu ibu bayi supaya tidak stres dan menggugurkan bayinya. Padahal kalau adopsi harus pakai jalur pengadilan. Tidak segampang ini," kata Agung.

Agung menambahkan penangkapan Alton juga lantaran dia mematok tarif dalam jasa konsultasi yang dia berikan. Untuk setiap bayi yang diserahkan kepada adopter, Alton mematok harga Rp 22,5juta. Uang ini dia bagi tiga, Rp 15 juta untuk ibu bayi, Rp 5 juta untuk perantara, dan sisanya Rp 2,5 juta untuknya.

Perdangangan bayi ini pun telah berlangsung kurang lebih tiga bulan. Alton mengaku sudah ada empat bayi yang dijualnya. Tak hanya di Surabaya, Alton juga menjual bayi-bayi ini wilayah lain seperti Semarang hingga Bali.

 

Penangkapan

Penangkapan berawal dari hasil penyelidikan tim siber Jatanras yang melakukan patroli siber. Lewat sebuah akun Instagram, Alton menawarkan jasa konsultasi dan memberi solusi, misalnya terkait permasalahan anak yang lahir di luar nikah hingga pasangan yang ingin menggugurkan kandungannya.

Alton kemudian memiliki solusi kepada korban agar tidak menggugurkan kandungan karena banyak yang berminat.

"Dari akun tersebut akhirnya ada peminat yang mau mengadopsi anak dan transaksi dilanjutkan melalui WhatsApp," papar Sudamiran saat rilis di Mapolrestabes Surabaya, Jalan Sikatan, Surabaya, Selasa (9/10/2018).

Untuk meyakinkan pembeli, pelaku memposting foto testimoni yang dibuatnya secara fiktif. Akun Alton ini memiliki 600 pengikut. Dari ratusan pengikut, beberapa di antaranya adalah penjual bayi sekaligus pembelinya.

"Akun Instagram ini mengajak orang-orang agar tidak menggugurkan kandungannya atau anak di luar nikah. Bahkan, anak-anak yang terlantar, bisa diserahkan ke pelaku untuk dicarikan orang tua asuh. Dari pengembangan, kami mengamankan empat pelaku. Satu pemilik akun, lalu penjual bayi atau ibunya, terus ada bidan yang terlibat sebagai perantara antara pembeli, dan satu orang pembeli," lanjutnya.

Perdagangan anak ini ternyata sudah bergulir selama tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut, ada empat bayi yang dijual oleh pelaku. Peminatnya tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga daerah lain seperti Semarang dan Bali.

Namun dari empat bayi yang sudah dijual, polisi hanya bisa mengamankan satu bayi laki-laki berusia 11 bulan yang dijual ke Bali, pada awal September 2018.

"Pada akun Instagramnya, pelaku mencantumkan nomor WhatsApp. Jadi proses transaksi terjadi di WA. Orang yang minat mau menjual atau membeli langsung menghubungi pelaku. Ini bukti percakapannya. Kalau sudah deal, pembeli akan membayarnya. Kalau foto-foto di Instagram ini pelaku ambil gambar-gambar biasa, supaya tertarik masyarakat dan percaya dengan pelaku," kata Sudamiran.

Ica, salah satu pelaku yang juga ibu dari bayi 11 bulan yang berhasil diamankan polisi setelah dijual, mengaku tega melakukan hal ini karena terlilit hutang dan tagihan arisan online.

"Saya nikah siri. Saya terpaksa soalnya kebelit utang," ujarnya.

Ica menceritakan, awalnya ia berniat curhat kepada Alton sebagai seorang istri siri dengan tiga anak yang terbelit utang. Namun Alton kemudian menganjurkan Ica untuk menukarkan anaknya dengan uang Rp 15 juta.

Bayi laki-laki yang sebelumnya dirawat tante Ica pun akhirnya dibawanya. Ica mengaku ingin mengajak anaknya rekreasi. Namun, Ica akhirnya pergi dengan Alton ke Bali untuk menemui wanita yang akan membeli bayinya.

Wanita itu adalah Ni Nyoman Sirait (36). Pertemuan itu terjadi bersama perantara, pensiunan bidan, Ni Ketut Sukawati (66).

"Saya dapat Rp 15 juta. Uangnya buat ngelunasin utang-utang," jelasnya.

Sedangkan Ni Nyoman Sirait yang juga pembeli mengaku cara ini ditempuh semata karena ingin memiliki anak laki-laki. "Saya pingin punya anak laki-laki," kata Sirait sembari terisak.

Sirait mengaku selama tujuh tahun menikah, ia belum dikaruniai buah hati. Begitu melihat akun medsos yang dikelola Alton, ia dan suami memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi.

Menurut Sirait, ia memilih untuk membeli bayi melalui Instagram lantaran niat awalnya hanya untuk membantu sang ibu bayi, Ica.

Sirait pun disarankan temannya, Ni Ketut Sukawati (66) untuk berkonsultasi dengan Alton. Akhirnya, kesepakatan pun terjadi dan Sirait menyetujui biaya pembelian bayi sebesar Rp 22,5 juta.

"Saya ganti biaya persalinan habis Rp 22,5 juta," paparnya.

Uang sebesar Rp 22,5 juta itu akhirnya dibagi tiga. Ica mendapat Rp 15 juta, Alton memperoleh Rp2,5 juta, sisanya Rp5 juta merupakan jatah Sukawati.

Sudamiran menjelaskan praktik semacam ini termasuk dalam tindak pidana karena tidak melalui jalur hukum. Sebab adopsi anak seharusnya ditempuh melalui jalur pengadilan. Apalagi transaksi ini melibatkan sejumlah uang.

"Ada transaksi di dalamnya dengan sejumlah uang yang dikirim melalui transfer. Akun ini juga tidak berbadan hukum atau ilegal. Harusnya kalau adopsi itu kan ada pengajuannya, lewatnya pengadilan. Tidak bisa semaunya sendiri. Harus diproses secara hukum," kata Sudamiran.

Ditambahkan Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya AKP Agung Widoyoko memaparkan jika pelaku juga mencoba menghilangkan bukti. Caranya, dengan membuat surat penyerahan bayi lengkap dengan meterai.

"Untuk menghilangkan pidananya, pelaku membuat sebuah surat pernyataan penyerahan bayi. Ada meterainya juga. Tapi sama saja, ada transaksi disana dan ini ilegal," tandas Agung.

Kasus ini akhirnya terbongkar pada awal bulan Oktober dan seluruh pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Keempat tersangka terancam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara," tutup Sudamiran. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>