7 Negara Arab Putuskan Hubungan dengan Qatar

Selasa, 06 Juni 2017  19:58

7 Negara Arab Putuskan Hubungan dengan Qatar
JAKARTA (BM) - Tindakan Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Libya, dan Uni Emirat Arab yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar diikuti Yaman dan Maladewa. Mereka menuding Qatar melakukan langkah yang mengganggu keamanan kawasan Teluk.
 
Mereka menuding Qatar mendukung kelompok-kelompok teroris seperti Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dan Al Qaeda.  Pemutusan hubungan diplomatik tetap terjadi meski tuduhan itu telah disangkal Qatar.
 
Kantor berita Arab Saudi SPA, menyebutkan, Riyadh telah menutup perbatasannya dan memutus seluruh kontak darat, laut, dan udara dengan negara di Semenanjung Arab itu.
 
Qatar menyebut keputusan itu tak bisa dibenarkan dan tidak didasarkan pada fakta-fakta.
Langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini dipandang sebagai perpecahan serius antara negara-negara kuat di Teluk, yang juga merupakan sekutu-sekutu dekat Amerika Serikat.
 
Belakangan, terjadi peningkatan ketegangan antara negara-negara Teluk dan negara tetangga mereka, Iran. Saudi menuduh Qatar bekerja sama dengan milisi yang didukung Iran.
 
Pemutusan hubungan diplomatik dimulai Bahrain, kemudian Arab Saudi pada Senin pagi (5/6/2017). Kemudian disusul sekutu lainnya.
 
SPA mengutip pejabat yang mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil untuk melindungi keamanan nasional dari bahaya terorisme dan ekstremisme.
 
Tiga negara Teluk, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi memberikan waktu dua pekan bagi semua warga negara Qatar yang berada di negara-negara itu untuk meninggalkan wilayah mereka.
 
Uni Emirat Arab memberi waktu 48 jam kepada para diplomat Qatar untuk meninggalkan negara itu.
Abu Dhabi menuduh Qatar mendukung, mendanai, dan merangkul terorisme, ekstremisme dan organisasi sektarian, kata kantor berita negara itu, WAM.
 
Maskapai penerbangan Etihad Airways, Emirates dan Flydubai akan menghentikan semua penerbangan ke dan dari ibu kota Qatar, Doha mulai Selasa (6/6/2017).
 
Tiga negara Teluk mengatakan, mereka menutup wilayah udara dari Qatar Airways.
Kantor berita Pemerintah Bahrain mengatakan, mereka memutus hubungan diplomatik karena Qatar mengganggu keamanan dan stabilitas negeri itu, serta ikut campur dalam urusan dalam negeri Bahrain.
 
Menurut SPA, koalisi militer negara-negara Arab yang dipimpin Saudi yang memerangi pemberontak Yaman di Houthi juga mengusir Qatar dari aliansi itu karena praktik-praktik Qatar yang memperkuat terorisme.
 
Pemutusan hubungan dengan Qatar terkesan berlangsung tiba-tiba, namun tidak terjadi begitu saja. Sebab, ketegangan telah berkembang selama bertahun-tahun, dan terutama dalam beberapa pekan terakhir.
 
Dua pekan yang lalu, negara-negara itu memblokade situs berita Qatar, termasuk Al Jazeera.
Media Pemerintah Qatar memuat pernyataan kontroversial yang disebut dikemukakan oleh Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang mengkritik Arab Saudi.
 
Namun, Pemerintah di Doha menyebut bahwa itu pernyataan palsu, dan menudingnya sebagai suatu kejahatan siber yang tercela.
 
Sebelumnya, pada tahun 2014, Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab menarik duta besar mereka dari Qatar selama beberapa bulan sebagai protes atas tudingan campur tangan dalam urusan dalam negeri mereka.
 
Secara lebih luas, ada dua faktor kunci yang mendorong keputusan itu: hubungan Qatar dengan kelompok-kelompok Islam radikal, dan peran Iran, seteru Arab Saudi.
 
Kendati Qatar bergabung dengan koalisi AS melawan ISIS, para pemimpin Syiah Irak menuding bahwa mereka memberikan dukungan finansial kepada ISIS.
 
Orang-orang kaya di Qatar diyakini memberikan sumbangan besar kepada ISIS, sementara Pemerintah Qatar memberi bantuan uang dan senjata kepada kelompok Islam garis keras di Suriah.
 
Qatar juga dituduh memiliki hubungan dengan kelompok yang sebelumnya dikenal sebagai Front al Nusra, yang berafiliasi dengan al-Qeida.
 
SPA menuduh Qatar mendukung kelompok-kelompok ini, serta mendukung Ikhwanul Muslimin yang dilarang di berbagai negara Arab.
 
Qatar pun disebut terus menerus mempromosikan pesan dan gagasan kelompok-kelompok itu melalui media mereka.
Arab Saudi, sebuah negara Sunni, juga menuduh Qatar mendukung militan Syiah di Bahrain dan Provinsi Qatif di timur Arab Saudi.
 
Qatar berulang kali menolak tudingan kaitan mereka dengan Iran.
Arab Saudi juga telah dituduh mendanai ISIS, secara langsung atau dengan tidak mencegah kiriman uang donor swasta ke kelompok tersebut. Tuduhan ini juga dibantah Saudi.
 
Dalam beberapa hari terakhir, Perdana Menteri Inggris Theresa May mendapat tekanan dari partai pesaing untuk mempublikasikan sebuah laporan yang diduga berfokus pada pendanaan Saudi terhadap kelompok-kelompok ekstremis Inggris.
 
Qatar Mengecam
Pemerintah Qatar mengecam tindakan Arab Saudi dan tujuh negara lain yang memutuskan hubungan diplomatik dengannya.
 
 “Langkah-langkah tersebut mengecewakan karena didasarkan pada klaim dan tuduhan yang sebenarnya tidak memiliki dasar," demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar seperti dikutip Al-Jazeera TV yang berbasis di Qatar, seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin 5 Juni 2017.
 
Ditambahkan bahwa Qatar tengah menghadapi kampanye kebohongan dan rekayasa. "Kampanye penghasutan ini didasarkan pada kebohongan-kebohongan yang telah mencapai tingkat rekayasa luar biasa," demikian statemen Kementerian Luar Negeri Qatar.
 
Padahal selama ini, ujar Kemlu Qatar, sebagai anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC), Doha menghormati kedaulatan negara-negara lain dan tidak mencampuri urusan mereka.
 
Doha pun bersumpah pengucilan itu, "tak akan mempengaruhi kehidupan warga dan penduduk Qatar.”
Pemutusan hubungan dengan Qatar pertama kali diumumkan oleh pemerintah Bahrain yang kemudian diikuti oleh Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab. Setelah itu pemerintah Libya timur, pemerintahan terasing Yaman, Maladewa dan Mauritius ikut serta dalam aksi pengucilan ini.
 
Langkah serentak Arab Saudi cs ini seiring tudingan negara-negara Teluk bahwa Qatar mendukung agenda Iran, yang merupakan rival utama Saudi cs. (kom/tem/tit)
OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>