Bahas Pembunuhan Khashoggi, Direktur CIA Terbang ke Turki

Selasa, 23 Oktober 2018  18:15

Bahas Pembunuhan Khashoggi, Direktur CIA Terbang ke Turki

Direktur CIA Gina Haspel

Ankara (BM) – Kasus kematian wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi, menjadi sorotan dunia. Hingga kini, belum terungkap secara jelas kronologi, dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tragedi itu. Amerika Serikat yang menjadi sekutu Arab Saudi, mengirimkan Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA), Gina Haspel, ke Turki untuk membahas penyelidikan kematian Jamal Khashoggi.

Kunjungan dilakukan saat AS menyelidiki peran putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), dalam kasus ini.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (23/10/2018), informasi soal kunjungan Haspel ini disampaikan dua sumber yang memahami isu ini kepada Reuters. Disebutkan dua sumber itu, Haspel terbang ke Turki pada Senin (22/10) waktu setempat. CIA sendiri enggan mengomentari laporan ini.

Namun diketahui kunjungan Haspel dilakukan saat Presiden Turki Recep Tayyip bersiap mengumumkan hasil penyelidikan awal atas kasus Khashoggi. Juga di tengah semakin memuncaknya keraguan terhadap penjelasan Saudi bahwa Khashoggi tewas dalam perkelahian di Konsulat Saudi di Istanbul.

Di sisi lain, kedatangan Haspel ini dilakukan saat badan-badan keamanan AS dan Eropa sedang menyelidiki peran putra mahkota Saudi dalam kasus Khashoggi ini. Hingga kini badan-badan keamanan AS dan Eropa disebut masih belum memiliki gambaran lengkap atas apa yang sebenarnya terjadi di Konsulat Saudi setelah Khashoggi masuk ke dalamnya pada 2 Oktober lalu.

Dalam pernyataan pada Senin (22/10) waktu setempat, Presiden AS Donald Trump menyatakan masih tidak puas dengan penjelasan Saudi soal kematian Khashoggi. Diungkapkan Trump bahwa AS memiliki 'orang-orang intelijen top' di Turki dan Saudi untuk mencari fakta soal kasus Khashoggi.

"Saya berbicara kepada putra mahkota (Saudi MBS-red). Kita punya orang-orang di Arab Saudi saat ini. Kita punya orang-orang intelijen top di Turki. KIta akan lihat apa yang kita dapatkan. Saya akan tahu banyak, besok," ucap Trump.

Dilaporkan Reuters bahwa enam pejabat AS dan negara-negara Barat meyakini MBS sepenuhnya bertanggung jawab atas kasus Khashoggi. Terlebih MBS berperan mengawasi aparat keamanan Saudi. Namun keyakinan itu berhadapan dengan kurangnya bukti-bukti yang kuat.

Sejumlah pejabat keamanan negara Barat yang enggan disebut namanya, menyebut mereka masih belum tahu pasti bagaimana Khashoggi tewas dan ke mana jenazahnya dibawa. Meskipun media-media banyak memberitakan soal bukti rekaman audio yang dimiliki otoritas Turki, menurut para pejabat keamanan itu, badan-badan pemerintahan AS maupun Eropa belum mendapat akses pada bukti-bukti semacam itu.

Bagi negara-negara Barat sekutu Saudi, pertanyaan utama terkait kematian Khashoggi adalah apakah MBS ikut bertanggung jawab. Pekan lalu, Trump menyebut MBS 'jelas-jelas' menyangkal mengetahui soal hilangnya Khashoggi.

Namun dituturkan dua sumber yang memahami laporan intelijen negara-negara Barat, keyakinan para pakar pemerintahan negara-negara Barat soal keterlibatan MBS sangat didasari pada penilaian peran dominan MBS dalam pemerintahan Saudi saat ini.

"Sulit untuk mengatakan bahwa MBS tidak tahu soal ini," sebut sumber keamanan negara Barat kepada Reuters.

Kendati demikian, menurut sumber keamanan itu, laporan badan intelijen AS dan sekutunya soal detail instruksi spesifik dari MBS dalam kasus Khashoggi, masih belum mencapai tahap kesimpulan. Pertanyaan yang masih belum terjawab adalah apakah operasi Saudi di Istanbul memang bertujuan untuk membunuh Khashoggi atau apakah rencana awalnya hanya untuk menculik dan membawanya pulang ke Saudi.

Disebutkan sumber keamanan itu, para pejabat Turki memberikan informasi-informasi verbal soal bukti-bukti yang mereka dapatkan terkait kematian Khashoggi, kepada para pejabat AS dan negara Barat lainnya. Satu sumber keamanan negara Eropa menyebut informasi yang diberikan Turki 'sangat detail dan mereka terdengar percaya diri'.

 

Serukan Pengusiran Dubes

Anggota Kongres Amerika Serikat terus mendesak pemerintah AS untuk menerapkan konsekuensi berat terhadap Arab Saudi terkait kasus pembunuhan wartawan kawakan, Jamal Khashoggi.

Senator Dick Durbin bahkan menyerukan pengusiran Duta Besar (Dubes) Saudi untuk AS, Pangeran Khalid bin Salman dikarenakan kasus Khashoggi. Senator level tertinggi kedua partai Demokrat di Senat AS tersebut juga mengecam Presiden Donald Trump yang menerima -- meski kemudian menyatakan tidak puas -- penjelasan Saudi terkait tewasnya Khashoggi di gedung Konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

"Satu-satunya orang di dunia selain kerajaan Saudi yang tampaknya menerima "penyelidikan" Saudi adalah Presiden Trump," tulis Durbin di akun Twitter-nya seperti dilansir media Turki, Anadolu Agency, Selasa (23/10/2018).

"Kita harus mengusir Dubes Saudi untuk AS sampai ada penyelesaian penyelidikan pihak ketiga atas penculikan dan pembunuhan Jamal Khashoggi," imbuhnya dalam postingan di Twitter.

Khashoggi (60), jurnalis senior dan kolumnis The Washington Post, menghilang sejak masuk ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober. Setelah selama dua pekan terus membantah, otoritas Saudi pada Sabtu (20/10) lalu akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas dalam perkelahian di gedung konsulat.

Namun dalam penjelasan terpisah pada Minggu (21/10) waktu setempat, Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, menyatakan otoritas Saudi tidak tahu di mana jenazah Khashoggi saat ini.

Secara terpisah, seorang pejabat senior Saudi yang enggan disebut identitasnya menuturkan kepada Reuters, Khashoggi tewas dicekik dalam intimidasi yang dilakukan tim khusus dari Saudi. Jenazah Khashoggi disebut dibungkus dengan karpet dan diserahkan ke warga lokal untuk dibuang.

Pejabat senior yang sama juga menyebut bahwa usai Khashoggi tewas, salah satu anggota tim sempat menyamar menjadi Khashoggi untuk mengecoh. Anggota tim itu memakai pakaian Khashoggi dan berjalan keluar lewat pintu belakang agar seolah-olah Khashoggi telah keluar dengan selamat dari Konsulat Saudi. Belum ada tanggapan resmi dari otoritas Saudi terkait pernyataan pejabat senior mereka ini.

 

Pembunuhan Terencana

Sementara itu, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan dalam pernyataannya di hadapan anggota Parlemen dari partai yang berkuasa Turki (Selasa, 23/10), mengatakan, Pembunuhan Jamal Khashoggi merupakan tindakan yang telah direncanakan beberapa hari sebelumnya.

Dia mengatakan, Turki memiliki bukti kuat bahwa Khashoggi terbunuh dalam pembunuhan terencana di Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu.

Lebih lanjut Erdogan mengatakan bahwa tiga tim yang terdiri dari 15 warga Arab Saudi telah tiba di Istanbul, Turki dengan penerbangan terpisah pada hari-hari dan jam-jam menjelang waktu pembunuhan.

Sehari sebelum pembunuhan, jelasnya, beberapa anggota dari kelompok itu pergi ke hutan Belgrad, dekat Konsulat Arab Saudi di Istanbul. Lokasi itu pekan lalu digeledah oleh polisi Turki mencari jasad Khashoggi.

Dia juga menjelaskan bagaimana tim tersebut telah mengeluarkan kamera keamanan dan rekaman pengawasan dari gedung konsulat sebelum kedatangan Khashoggi.

 

Ungkap Secara Lengkap

Kerajaan Arab Saudi berkomitmen mengusut kematian jurnalis Jamal Khashoggi yang diduga dibunuh di Konsulat Turki di Istanbul.  Tim investigasi yang dikirim atas perintah Presiden Raja Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud terus melakukan penelusuran lebih dalam.

Usai berdiskusi secara tertutup selama dua jam, Menteri Luar Negeri Adel Bin Ahmed Al-Jubeir mengatakan, bukti  pembunuhan Khashoggi telah disampaikan oleh jaksa penuntut umum, dan hasil investigasi telah disampaikan berdasarkan apa yang terjadi di lapangan.

"Ditemukan 18 tersangka sudah ditahan dan diberi sejumlah pertanyaan. Dan enam pejabat senior Pemerintah Saudi sudah diberhentikan dari posisi mereka," ungkap Menlu Al-Jubeir saat memberikan pernyataan persnya di hadapan Menlu Retno Marsudi dan awak media di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (23/10).

Namun demikian, Menlu Al Jubeir tidak menyebutkan apakah enam pejabat senior tersebut terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Dari pernyataan jaksa penuntut umum, Menlu Al-Jubeir meyakini hal itu sebagai langkah awal dari perjalanan panjang kasus Khashoggi ke depan.

Dikatakan, Kerajaan Arab Saudi berjanji akan melakukan investigasi secara lengkap tanpa ada yang dikurangi demi mengungkap kebenaran sesungguhnya kematian Khashoggi. (det/mer/rmo/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>