Bom Sri Lanka Tewaskan 290 Orang, Medsos Diblokir

Senin, 22 April 2019  17:37

Bom Sri Lanka Tewaskan 290 Orang, Medsos Diblokir

Colombo (BM) - Otoritas Sri Lanka pada Senin (22/4) menyatakan, sedikitnya 290 orang tewas dalam rangkaian serangan bom hari Minggu (21/4) dan lebih 500 lainnya mengalami luka-luka.

Bom meledak di beberapa gereja ketika ibadah Paskah sedang berlangsung dan di beberapa hotel yang populer di kalangan warga asing. Serangan teror itu merupakan aksi kekerasan terburuk di Sri Lanka sejak berakhirnya perang saudara 10 tahun lalu.

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi polisi mengatakan mereka telah menangkap 13 warga Sri Lanka sehubungan dengan aksi teror tersebut.

Investigasi awal mengindikasikan bahwa pelaku bom bunuh diri melakukan setidaknya tiga serangan. Media Sri Lanka memberitakan, sepuluh hari sebelumnya sudah beredar peringatan dari dinas rahasia negara itu kepada pihak-pihak terkait bahwa ada ancaman serangan teror kelompok militan Islam terhadap gereja-gereja.

Namun Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe kepada media mengatakan, dia tidak tahu-menahu soal peringatan itu. Pemerintah mengatakan sedang menyelidiki kemungkinan adanya peringatan intelijen yang diabaikan oleh dinas keamanan.

Hari Senin pihak berwenang mencabut jam malam yang sebelumnya diberlakukan dan mengatakan, mereka berhasil menjinakkan bom rakitan yang ditemukan di bandara internasional Kolombo.

Rangkaian serangan teror itu menimbulkan kekhawatiran akan timbulnya kembali kekerasan komunal yang sering melanda negara itu. Polisi melaporkan pada Minggu malam (21/4) bahwa sebuah masjid di barat laut menderita serangan bom bensin dan dua toko milik Muslim di barat menjadi sasaran aksi pembakaran.

Kementerian Luar Negeri Jerman mengatakan akan "bekerja sangat intensif" untuk mencari tahu apakah ada warga negara Jerman yang terbunuh atau terluka. Setidaknya 27 warga asing diberitakan tewas dalam serangan teror itu, di antaranya warga Amerika Serikat, Jepang dan India.

 

Pemblokiran media sosial

Pihak berwenang Sri Lanka memblokir layanan media sosial Facebook, WhatsApp dan Instagram hari Senin (22/4) dengan alasan untuk menghentikan penyebaran "laporan berita-berita palsu" di berbagai platform mengenai serangan Minggu Paskah.

Pihak berwenang mengatakan pemblokiran akan dilakukan sampai ada kesimpulan cukup jelas dari penyelidikan atas rangkaian serangan bom itu. Pemblokiran juga diberitakan terjadi pada YouTube dan Snapchat, namun tidak pada Twitter.

Langkah itu bukan yang pertama kali dilakukan pemerintah Sri Lanka. Bulan Maret 2018 pemerintah juga memberlakukan pemblokiran media sosial selama seminggu karena khawatir bahwa platform media sosial akan digunakan untuk menggerakkan kekerasan anti-Muslim di wilayah tengah negara itu.

 

Bom Bunuh Diri

Otoritas Sri Lanka masih terus menyelidiki serentetan serangan bom tersebut. Para penyidik setempat untuk saat ini meyakini keterlibatan tujuh pengebom bunuh diri dalam serangan bom mematikan di sejumlah gereja dan hotel mewah setempat.

Seperti dilansir Reuters, Senin (22/4/2019), seorang pejabat senior Divisi Forensik pemerintahan Sri Lanka, Ariyananda Welianga mengatakan, dua pengebom bunuh diri beraksi di hotel mewah Shangri La yang ada di Colombo. Lima pengebom bunuh diri lainnya beraksi di tiga gereja dan dua hotel lainnya.

Satu hotel lainnya dan sebuah rumah di pinggiran Colombo juga diguncang ledakan, namun belum diketahui secara pasti bagaimana serangan dilakukan. "Penyelidikan masih terus berlangsung," sebut Welianga dalam pernyataannya.

Hingga saat ini belum ada kelompok maupun pihak tertentu yang mengklaim bertanggung jawab atas serentetan ledakan bom itu. Namun sekitar 24 orang yang semuanya warga negara Sri Lanka telah ditangkap polisi terkait serentetan ledakan bom tersebut.

Ledakan-ledakan bom yang terjadi dalam waktu nyaris bersamaan pada Minggu (21/4) waktu setempat itu, sebagian besar terjadi saat digelarnya ibadah perayaan Paskah atau saat jam sarapan buffet di hotel-hotel mewah yang menjadi target.

Total ada delapan ledakan bom yang terjadi sepanjang Minggu (21/4) waktu setempat. Empat bom dilaporkan meledak pada waktu bersamaan, yakni sekitar pukul 08.45 waktu setempat. Dua bom lainnya meledak beberapa menit kemudian. Tercatat, enam ledakan pertama terjadi dalam waktu sekitar 20 menit.

Dua ledakan lainnya menyusul beberapa jam kemudian, atau pada Minggu (21/4) sore waktu setempat.

Dari 290 korban tewas sejauh ini, otoritas Sri Lanka menyebut sedikitnya 32 orang di antaranya merupakan warga negara asing. Mereka dilaporkan berasal dari Inggris, Amerika Serikat, Turki, India, China, Denmark, Belanda dan Portugal.

Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena, sedang berada di luar negeri saat serangan bom ini terjadi. Namun dia telah memerintahkan digelarnya Rapat Dewan Keamanan Nasional pada Senin (22/4) waktu setempat. Perdana Menteri (PM) Ranil Wickremsinghe akan memimpin rapat tersebut.

Jam malam antara pukul 20.00 waktu setempat hingga pukul 04.00 waktu setempat di Colombo yang sebelumnya diberlakukan sejak Minggu (21/4) waktu setempat, telah dicabut sejak Senin (22/4) pagi waktu setempat.

Namun pemblokiran akses terhadap media sosial dan layanan chat termasuk Facebook dan WhatsApp masih diberlakukan oleh pemerintah Sri Lanka. Pemblokiran ini dimaksudkan untuk mempersulit penyebaran informasi, di tengah kekhawatiran menyebarnya kekerasan komunal.

Diketahui bahwa kepolisian setempat melaporkan adanya serangan bom molotov ke sebuah masjid setempat dan aksi pembakaran dua toko milik warga muslim setempat, di dua lokasi berbeda pada Minggu (21/4) malam waktu setempat.

Yang terbaru, militer Sri Lanka dilaporkan menemukan sebuah bom rakitan di dekat gerbang terminal kedatangan di bandara setempat. Juru bicara Angkatan Udara Sri Lanka menyebut temuan ini didapat saat para personel sedang membersihkan rute dari Bandara Colombo untuk persiapan kepulangan Presiden Sirisena. Bom rakitan itu akhirnya dihancurkan dalam ledakan terkendali.

 

Polri Perkuat Pengamanan

Di dalam negeri, Polri meminta masyarakat tetap tenang pasca-bom di Sri Lanka yang menewaskan sedikitnya 290 orang. Polri mengatakan ancaman teroris dalam negeri sudah diantisipasi sejak jauh hari oleh Densus 88 Antiteror dan Satgas Antiteror di jajaran polda.

"Pasca kejadian teroris di Sri Lanka, Kepolisian Republik Indonesia jauh sebelum kejadian itu atau pasca di Sibolga (Sumatera Utara), sudah melakukan mapping, profiling dan identifikasi terhadap sleeping-sleeping cell yang ada di Indonesia," terang Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).

Dedi menuturkan kegiatan monitoring telah diperkuat sejak jaringan teroris Abu Hamzah diungkap. Dedi menegaskan Densus 88 Antiteror telah berpengalaman dalam hal memitigasi pergerakan teroris.

"Penguatan terhadap monitoring terus dilakukan baik dari seluruh Satgas Antiteroris dan radikalisme di polda-polda dengan Densus 88, dan stakeholder terkait, terus melakukan monitoring sleeping cell maupun di beberapa wilayah," jelas Dedi.

"Masyarakat diharap untuk tenang dan percayakan kepada kepolisian yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun untuk melakukan antisipasi dan penegakkan hukum terhadap kelompok teroris yang ada di Indonesia," sambung Dedi. (ap/afp/rtr/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>