China Sepakat, Tak Kirim Banyak Tenaga Kerja ke Indonesia

Senin, 27 November 2017  18:57

China Sepakat, Tak Kirim Banyak Tenaga Kerja ke Indonesia

Wakil Perdana Menteri Cina Madame Liu Yandong di Taman Safari Indonesia, Minggu (26/11/2017).

JAKARTA (BM) – Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri China Liu Yandong di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (27/11/2017). Jusuf Kalla meminta pemerintah China meninjau kebijakan “ekspor” tenaga kerja ke Indonesia yang lazim dilakukan oleh para investornya ketika berinvestasi di Indonesia.

“Saya katakan tadi investasi Anda bagus, cuma jangan terlalu banyak bawa tenaga kerja,” ujar Kalla usai pertemuan it

Menanggapi hal itu, tutur Kalla, Liu menyetujui permintaan tersebut. Bahkan China setuju untuk melatih tenaga kerja Indonesia baik di dalam negeri maupun di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Indonesia menaruh perhatian serius kepada isu investasi dan tenaga kerja dari China. Sebab selama ini, kata Kalla, para investor China membawa ribuan tenaga kerja ke Indonesia.

“Saya bilang jangan begitu. Harus dilatih dulu tenaga-tenaga kita dan dia (Liu Yandong) setuju menggunakan tahap-tahap itu,” tutur Wapres.

Peta investasi di Indonesia sendiri telah mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Melejitnya China sebagai raksasa ekonomi dunia menjadi penyebabnya.

Kini, Negeri Tirai Bambu itu sudah berada di posisi ketiga sebagai negara dengan investasi terbesar di Indonesia. Hanya kalah dari Singapura dan Jepang.

Padahal Investasi China 4 tahun lalu peringkat ke-13.

Sepanjang 2016 lalu, nilai investasi China di Indonesia mencapai 2,7 miliar dollar AS dengan 1.734 proyek. Di atasnya ada Jepang yang mencapai 5,4 miliar AS dengan 3.320 proyek, dan Singapura mencapai 9,2 miliar dollar AS dengan 5.874 proyek.

Adapun Amerika Serikat (AS) hanya duduk diperingkat ke-6 dengan nilai investasi di Indonesia mencapai 1,2 miliar dollar AS.

 

Tawarkan Nuklir

Usai pertemuan, Wapres mengatakan, salah satunya yang dibicarakan yaitu pengembangan teknologi nuklir.

 

“Saya katakan bahwa kita masih banyak gempa, jadi tidak mudah untuk nuklir di Indonesia. Harus betul-betul teknologi yang sangat tinggi untuk bebas dari gempa seperti itu,” ujar Wapres.

Isu pengembangan teknologi nuklir menjadi salah satu isu yang dibawa Liu Yandong.

Bahkan tutur Wapres, otoritas China sudah melakukan pertemuan dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Dalam acara itu, kata Wapres, hadir rektor-rektor dari berbagai universitas di Indonesia, 45 orang ilmuan asal China, dan 15 menteri asal China.

Kunjungan delegasi China itu dinilai Wapres sangat besar dan wajar lantaran kedua negara memiliki hubungan yang sama-sama saling membutuhkan.

China adalah pasar ekspor batu bara Indonesia, sementara Indonesia adalah pasar besar bagi produk-produk asal China.

Selain nuklir, RI dan China juga membahas isu lain yaitu investasi, kependudukan, pendidikan, pariwisata hingga olahraga.

Berbagai isu yang dibawa Liu Yandong tidak terlepas dari Hasil Kongres Partai Komunis China.

“China mempunyai target bagaimana tahun 2020, 2035 dan 2050 harus menjadi negara yang sangat kuat. Artinya ingin menggambarkan bahwa dia ingin melebihi Amerika lah,” kata Wapres. (kom/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>