Dengar Rekaman Pembunuhan Khashoggi, Saudi Terkejut

Selasa, 13 November 2018  17:17

Dengar Rekaman Pembunuhan Khashoggi, Saudi Terkejut

Erdogan

Ankara (BM) - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, otoritas intelijen Arab Saudi terkejut setelah mendengarkan rekaman pembunuhan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi.  Erdogan sendiri menyebut isi rekaman pembunuhan itu 'sungguh mengerikan'.

Seperti dilansir Hurriyet Daily News dan Reuters, Selasa (13/11/2018), Erdogan juga menyerukan kepada otoritas Saudi untuk mengambil tindakan konkret terhadap pelaku pembunuhan Khashoggi.

"Semua pihak yang meminta, telah mendengarkan rekaman audio pembunuhan ini. Badan intelijen kami tidak menutupi apapun. Selain Arab Saudi, Amerika Serikat, Prancis, Kanada, Jerman dan Inggris telah mendengarkan rekaman ini," tegas Erdogan.

"(Isi) Rekaman ini sungguh mengerikan. Bahkan, pejabat intelijen Saudi terkejut saat dia mendengarkan rekaman ini, dia berkata 'Pria ini (pelaku-red) mungkin menggunakan heroin, hanya pria dengan heroin yang bisa melakukan hal seperti itu'," imbuh Erdogan kepada wartawan usai kembali dari Paris, Prancis.

Saat ditanya lebih lanjut soal reaksi pejabat intelijen Saudi, Erdogan kembali menyatakan bahwa pejabat Saudi itu terkejut ketika mendengarkan rekaman audio ini.

"Iya. Pria itu (pejabat Saudi-red) terkejut ketika dia mendengarkannya. Ada semacam realitas soal ini. Ada orang-orang yang berupaya memutarbalikkan kebenaran ini, terlepas apapun faktanya," ujar Erdogan.

Lebih lanjut Erdogan menyebut bahwa Jaksa Agung Saudi yang beberapa lalu mengunjungi Istanbul untuk membahas kasus Khashoggi justru terkesan menunda-nunda penyelidikan, meskipun ada cukup bukti dan informasi. "Putra Mahkota berkata 'Saya ingin membuat terang insiden ini dan akan melakukan apapun yang diperlukan.' Dia memberitahu utusan khusus saya. Kita menunggu dengan sabar," kata Erdogan.

Erdogan menambahkan, Turki akan terus menindaklanjuti kasus Khashoggi dan terus menanyakan soal keberadaan jenazah Khashoggi. Erdogan kembali menyatakan keyakinan bahwa pelaku pembunuhan Khashoggi ada di antara 18 orang yang kini ditahan Saudi.

"Pelaku tentu di antara 18 orang ini. Siapa lagi? Orang yang memberikan perintah. Seperti saya katakan sebelumnya, terlepas dari para pelaku, orang yang memberikan perintah kepada mereka harus ditemukan," tandasnya.

 

Turki dan Prancis Bertikai

Terkait rekaman pembunuhan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi, Turki dikabarkan bertikai dengan Prancis. Turki menyebut komentar Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian 'tak bisa diterima' dan 'tak sopan' karena menuduh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan 'permainan politik'.

Erdogan, pada Sabtu (10/11), mengungkapkan bahwa Turki telah menyerahkan sejumlah rekaman terkait pembunuhan Khashoggi kepada beberapa negara. Negara-negara yang dimaksud adalah Arab Saudi, Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jerman.

Dalam wawancara dengan televisi France 2 pada Senin (12/11), Menlu Le Drian menyebut dirinya 'untuk saat ini tidak menyadari' adanya informasi yang diberikan oleh Turki. Saat ditanya apakah Erdogan berbohong, Le Drian menjawab: "Itu berarti dia (Erdogan-red) memiliki permainan politik untuk dimainkan dalam situasi ini."

Seperti dilansir AFP, Selasa (13/11/2018), komentar Le Drian itu memancing kegeraman Turki. Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun, dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu sama-sama memberikan pernyataan keras atas komentar tersebut.

"Kami mendapati ini tidak bisa diterima bahwa dia menuduh Presiden Erdogan 'memainkan permainan politik'," sebut Altun dalam pernyataan tertulis kepada AFP. "Jangan lupakan bahwa kasus ini sudah ditutup-tutupi jika bukan karena upaya penuh tekad dari Turki," imbuhnya.

Dituturkan Altun bahwa otoritas Turki menyerahkan bukti terkait pembunuhan Khashoggi kepada sejumlah negara, termasuk Prancis. "Saya mengonfirmasi bahwa bukti terkait pembunuhan Khashoggi juga diserahkan kepada lembaga terkait pada pemerintahan Prancis," imbuhnya.

Menurut Altun, seorang perwakilan dari intelijen Prancis telah mendengarkan rekaman audio dan memeriksa informasi detail termasuk transkrip percakapan pada 24 Oktober lalu.

"Jika ada miskomunikasi antara berbagai lembaga pemerintahan Prancis, itu bergantung pada otoritas Prancis, bukan Turki, untuk mengurusi persoalan itu," tegasnya. "Turki terus melanjutkan penyelidikan kasus ini agar semua detail terungkap," tandas Altun.

Secara terpisah, Menlu Cavusoglu menyebut tuduhan dari Menlu Le Drian itu mengarah pada 'ketidaksopanan'. "Tidak cocok dengan keseriusan seorang Menteri Luar Negeri," ujarnya sembari menuduh Menlu Le Drian telah 'melanggar wewenangnya'

Memberikan tanggapan, Kementerian Luar Negeri Prancis menyebut adanya 'kesalahpahaman'. Disebutkan bahwa informasi yang disediakan Turki belum mengarah pada 'kebenaran seutuhnya', termasuk soal siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

"Yang kami pedulikan adalah kebenaran seutuhnya, bukan hanya rekaman dari Turki ... kebenaran seutuhnya juga dicari di Riyadh dan dalam pertukaran dengan mitra-mitra kami yang lain," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Prancis.

 

Menlu Inggris Temui Raja Salman

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Huntu menemui Raja Salman dan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS). Salah satu pembahasan pertemuan itu terkait kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Seperti dilansir laman AFP, Selasa (13/11/2018), Hunt mengatakan bahwa dunia internasional bersatu atas pembunuhan Khashoggi di konsulat Arab Saudi yang berada di Turki, pada 2 Oktober 2018 lalu. Kasus tersebut diakuinya belum ada titik terang.

"Jelas tidak dapat diterima pembunuhannya, (kasus Khashoggi) masih belum jelas," ujar Hunt.

Hunt meminta pemerintah Arab Saudi untuk bekerja sama dengan Turki untuk menyelidiki kasus pembunuhan tersebut. Sehingga keluarga dan dunia internasional mengetahui lebih detail terhadap kasus tersebut.

"Kami mendorong pihak berwenang Saudi untuk bekerja sama dengan penyelidikan Turki dalam kematiannya, sehingga bisa memberikan keadilan bagi keluarganya dan dunia," jelas dia.

Sebelumnya otoritas Turki telah menyerahkan bukti rekaman terkait pembunuhan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi kepada sejumlah negara. Arab Saudi menjadi salah satu negara penerima rekaman itu.

Seperti dilansir CNN dan Hurriyet Daily News, Senin (12/11), hal tersebut diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum terbang ke Paris, Prancis untuk menghadiri peringatan Perang Dunia I.

"Kami telah menyerahkan sejumlah rekaman. Kami memberikannya kepada Arab Saudi, kepada Amerika Serikat, kepada Jerman, Prancis dan Inggris -- kami memberikannya kepada mereka semua," sebut Erdogan.

Sebelumnya, otoritas Turki telah menyerahkan bukti rekaman terkait pembunuhan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi kepada sejumlah negara. Arab Saudi menjadi salah satu negara penerima rekaman itu.

Diketahui bahwa sumber-sumber Turki sebelumnya menyebut otoritas Turki memiliki rekaman audio yang menunjukkan momen penting pembunuhan Khashoggi di dalam Konsulat Saudi di Istanbul.

Seperti dilansir CNN dan Hurriyet Daily News, Senin (12/11/2018), hal tersebut diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebelum terbang ke Paris, Prancis untuk menghadiri peringatan Perang Dunia I.

"Kami telah menyerahkan sejumlah rekaman. Kami memberikannya kepada Arab Saudi, kepada Amerika Serikat, kepada Jerman, Prancis dan Inggris -- kami memberikannya kepada mereka semua," sebut Erdogan. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>