Dunia Kutuk Pembantaian 58 Warga Palestina

Selasa, 15 Mei 2018  12:48

Dunia Kutuk Pembantaian 58 Warga Palestina

Warga Palestina memprotes pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jerusalem, Senin, 14 Mei 2018.

Gaza (BM) - Setidaknya 58 warga Palestina tewas akibat tindakan brutal pasukan Israel dalam bentrokan saat aksi-aksi demo di perbatasan Gaza. Insiden tragis itu terjadi saat ribuan demonstran Palestina memprotes pemindahan Kedutaan Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Seperti dilansir media Anadolu Agency, Selasa (15/5/2018), negara-negara bereaksi atas peristiwa tragis yang terjadi pada Senin (14/5) waktu setempat tersebut. Kecaman keras disampaikan Turki yang mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari sebagai solidaritas untuk Palestina. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengutuk "tragedi kemanusiaan" di Gaza tersebut, seraya menyebut kekerasan Israel terhadap demonstran Palestina sebagai genosida.

Erdogan juga mengatakan, pemerintah AS telah kehilangan perannya sebagai penengah di Timur Tengah dengan keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sementara itu, meski tidak mengutuk kekerasan di Gaza, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan, puluhan warga Palestina, termasuk anak-anak telah tewas akibat tembakan Israel. "Israel harus menghormati hak untuk berdemo secara damai dan prinsip proporsionalitas dalam penggunaan kekuatan," tutur Mogherini.

Kantor Perdana Menteri (PM) Inggris dalam statemennya menyatakan prihatin atas kekerasan di Gaza. "Kami prihatin akan laporan-laporan kekerasan dan hilangnya nyawa di Gaza," demikian statemen kantor PM Inggris.

Senada dengan itu, Kementerian Luar Negeri Jerman menyatakan "terkejut dan sangat prihatin" atas kekerasan di Gaza yang menewaskan puluhan warga Palestina. Meski tidak mengutuk Israel, namun Jerman menyerukan otoritas Israel untuk berhenti menggunakan peluru asli terhadap para demonstran damai.

"Israel berhak untuk membela dirinya sendiri dan mengamankan pagar (perbatasan Gaza) dari penyusupan. Namun prinsip proporsionalitas berlaku. Itu termasuk hanya menggunakan peluru asli ketika metode-metode pencegahan lain yang kurang kuat tidak berhasil dan dalam keadaan adanya ancaman nyata," demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Jerman.

Kementerian menekankan, warga di Jalur Gaza punya hak untuk melakukan aksi-aksi demo damai, namun juga mengingatkan untuk tidak melakukan tindakan yang memperkeruh situasi.

Pemerintah Mesir pun mengutuk kekerasan Israel terhadap para demonstran Palestina. Mesir menyebut langkah tersebut sebagai "eskalasi serius" yang bisa memicu konsekuensi berbahaya.

Hal senada disampaikan pemerintah Qatar yang mengutuk kekerasan Israel sebagai "pembantaian". Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Lulwah al-Khater mengatakan, negaranya "menyerukan kekuatan regional dan internasional untuk menekan Israel agar menghentikan pembunuhan tersebut".

Di Iran, Menteri Luar Negeri Javad Zarif menyebut kekerasan Israel terhadap para demonstran Palestina itu "memalukan". Zarif pun menyebut Jalur Gaza yang selama satu dekade ini berada di bawah embargo Israel dan Mesir sebagai "penjara terbuka di dunia".

Kecaman juga disampaikan pemerintah Bahrain yang mengingatkan adanya bahaya besar dan reaksi negatif atas kekerasan Israel. Kementerian Luar Negeri Bahrain menegaskan penolakannya atas penggunaan kekerasan dalam menghadapi para demonstran damai.

Sementara itu, pihak Gedung Putih justru menyalahkan kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza atas bentrokan yang menewaskan 58 warga Palestina itu. Gedung Putih menyebut upaya propaganda Hamas telah memicu bentrokan maut di perbatasan Gaza.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (15/5/2018), juru bicara Gedung Putih, Raj Shah, menuding para pemimpin Hamas melakukan 'upaya propaganda mengerikan dan sangat disayangkan' yang memicu bentrokan di Gaza, saat AS sedang membuka Kedutaan Besar (Kedubes) yang baru di Yerusalem.

Pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem menjadi langkah yang memicu kemarahan warga Palestina.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Shah juga menyatakan AS menolak bergabung dengan negara-negara lainnya, termasuk Prancis dan Inggris, dalam menyerukan Israel untuk lebih menahan diri saat menangani unjuk rasa warga Palestina.

Gedung Putih malah menegaskan posisi pemerintahan Presiden Donald Trump yakni Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri, saat menanggapi bentrokan di perbatasan Gaza dan Israel.

"Tanggung jawab untuk kematian tragis ini ditanggung langsung oleh Hamas," sebut Shah. "Hamas secara sengaja dan dengan sinis memprovokasi respons ini," imbuhnya.

Seperti diketahui, pada Senin (14/5) tercatat sebagai hari paling berdarah bagi warga Palestina sejak tahun 2014. Kementerian Kesehatan Palestina juga menyebut sedikitnya 58 demonstran Palestina tewas dan sekitar 2.700 orang lainnya luka-luka, akibat terkena peluru sungguhan dan gas air mata.

Bentrokan terjadi di Gaza saat aksi warga Palestina memprotes pembukaan Kedubes AS di Yerusalem dan memperingati 'Nakba' atau 'malapetaka' ketika ratusan ribu warga Palestina terusir dari rumah-rumah mereka pada tahun 1948.

Militer Israel dalam pernyataannya menyebut pihaknya menanggapi aksi kekerasan dari demonstran untuk mempertahankan perbatasan Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut tindakan tegas Israel merupakan pertahanan diri dalam melawan Hamas. (det/kom/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>