FPK UINSA Kupas Masyarakat Sehat dalam Konsep Islam

Selasa, 09 Oktober 2018  22:30

FPK UINSA Kupas Masyarakat Sehat dalam Konsep Islam

Kadinkes Jatim Kohar Hari Santoso menerima cinderamata dari Rektor UINSA Prof Masdar Hilmy SAg MA PhD. (BM/HARUN EFFENDY)

SIDOARJO (BM) - Kegaduhan di masyarakat menjadi cermin kondisi kesehatan mental suatu Negara. Dan Indonesia yang mayoritas Muslim menjadi bagian penting dari eksistensi masyarakat itu sendiri. Namun, apakah masyarakat kita telah benar-benar sehat secara mental maupun spiritual?


Berangkat dari pertanyaan tersebut, Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) menggelar seminar internasional tentang masyarakat sehat dalam konsep Islam di GreenSA Inn Hotel, Jln Raya Juanda, Selasa (9/10) malam.

Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan UINSA, Dr dr Hj Siti Nur Asiyah MAg, menjelaskan, pihaknya ingin mengingatkan kaitan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDGs) telah menjadi bagian dari program yang didukung pemerintah.

“Sejak diadopsi di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2015, Indonesia telah mendukung SDGs. Pemerintah telah menunjukkan komitmen yang kuat dan mengambil tindakan awal, termasuk menghubungkan sebagian besar target dan indikator SDGs,” kata Siti Nur Asiyah.

Dalam seminar bertajuk “Promoting Health for Sustainable Development Goals 2030 for Islamic Civilization” ini menghadirkan sejumlah pembicara. Seperti Dr Khadizah Binti Haji Abdul Mumin dari Universitas Brunei Darussalam dan Prof Dr Jas Laile Zuzana Binta Jaafar Dari Univeritas of Malaya, Malaysia.

Lainnya, Prof Dr Ir Hardinsyah MS dari ITB Bogor, Prof Dr Ridwan Amiruddin dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Dr Ede Surya Darmawan SKM M.DM dari Universitas Indonesia, dengan pembicara kunci dari Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Timur dan Rektor UINSA Prof Masdar Hilmy SAg MA PhD. Keseluruhan materi berlangsung Rabu, (10/10) pukul 08.00 WIB.

“Seminar menyangkut kesehatan dan nutrisi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental dan kesehatan masyarakat. Kami ingin membantu terwujudnya peradaban masyarakat muslim yang sehat, cerdas dan berkualitas, serta mampu mendukung pelaksanaan pembangunan di Negara kita sebagai bagian dari masyarakat dunia,” kata Siti Nur Asiyah.


Usai acara pembukaan, Kepala Dinkes Jatim Kohar Hari Santoso mengatakan, kesehatan itu tidak hanya dilakukan oleh dinas kesehatan, tetapi masyarakat harus bergerak bersama. “Harapan dari kegiatan ini menjadi pemicu dari kalangan akademisi yang menular ke masyarakat luas supaya menjaga kesehatan, promosi kesehatan,” katanya.


Salah satu ukuran kesejahteraan masyarakat itu, masih Kohar, indeks pembangunan manusia, indikatornya angka harapan hidup, yang rata-rata di Indonesia 70 tahun, masuk pada Negara berkembang, namun persoalannya bagaimana terus menjaga perkembangan ini merata ke seluruh Indonesia.


“Untuk Jawa Timur, angka kematian ibu hamil sampai melahirkan paling rendah di Indonesia, sedang untuk kabupaten/ kota di Jatim yang angka kematian ibu hamil melahirkan tinggi di wilayah tapal kuda, dan Madura. Kalau Surabaya, terbilang juga tinggi, namun kebanyakan dari warga pendatang, yang belum pendataan kesehatan,” ujarnya.


Oleh sebab itu, dirinya menghimbau kepada masyarakat untuk mendatangi tenaga-tenaga kesehatan yang ada. “Di Jawa Timur hampir 100 persen ibu melahirkan sudah dengan petugas kesehatan tetapi datangnya masih sering terlambat sehingga membawa resiko pendarahan, dan tekanan darah naik,” tuturnya. (har)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>