Gempuran di Ghouta Masih Berlanjut

Selasa, 27 Februari 2018  18:02

Gempuran di Ghouta Masih Berlanjut

Seorang pria berjalan di antara bangunan yang hancur akibat serangan udara dari rezim pemerintah Suriah di Ghouta Timur.

Damaskus (BM) - Meski Rusia telah menyerukan jeda kemanusiaan selama lima jam per hari, namun pertempuran masih terus berlanjut di Ghouta Timur, Suriah. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut situasi ini sangat tidak menguntungkan bagi organisasi kemanusiaan.

"Kami mendapat laporan pagi ini, pertempuran terus berlanjut di Ghouta Timur," sebut juru bicara Kantor Koordinasi Bantuan Kemanusiaan PBB (OCHA), Jens Laerke, dalam briefing di Jenewa, Swiss, seperti dilansir Reuters, Selasa (27/2/2018).

"Jelas situasi di lapangan tidak mendukung bagi konvoi (kemanusiaan) bisa masuk atau evakuasi medis bisa keluar," imbuhnya.

Laporan dari kelompok pemantau konflik Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, menyebut sejumlah helikopter menjatuhkan dua bom di salah satu wilayah di Ghouta Timur dan sebuah pesawat tempur menggempur wilayah lainnya, selama jeda kemanusiaan berlangsung.

Namun seorang sumber militer Suriah menyangkal adanya serangan udara.

Ratusan orang telah tewas dalam gempuran udara selama 10 hari terakhir di Ghouta Timur, kawasan di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak. Gempuran di Ghouta Timur ini tercatat sebagai yang paling mematikan sepanjang konflik Suriah yang telah memasuki tahun ke-8.

Pada Sabtu (24/2) lalu, Dewan Keamanan PBB meloloskan resolusi terbaru yang isinya menyerukan gencatan senjata selama 30 hari di seluruh wilayah Suriah. Namun gencatan senjata ini tidak berlaku untuk sejumlah kelompok militan yang sedang diperangi pasukan Suriah di Ghouta Timur.

"Ini menjadi pertanyaan hidup dan mati -- jika memang ada pernyataan hidup dan mati -- kita membutuhkan gencatan senjata 30 hari di Suriah seperti diinginkan Dewan Keamanan (PBB)," ucap Laerke.

Rusia yang merupakan sekutu rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad menyerukan jeda kemanusiaan selama 5 jam pada Selasa (27/2) waktu setempat. Hal ini dimaksudkan untuk membuka jalur aman bagi para korban luka untuk dievakuasi dan warga sipil untuk mengungsi.

Syrian Observatory dan warga setempat melaporkan situasi di Ghouta Timur awalnya cukup tenang saat jeda kemanusiaan dimulai pada Selasa (27/2) pukul 09.00 waktu setempat. Namun setelah itu, gempuran dilaporkan kembali berlanjut.

Serang Suriah

Dari London dikabarkan, pemerintah Inggris akan mempertimbangkan untuk ikut serta dalam serangan militer Amerika Serikat terhadap Suriah, jika ada bukti senjata kimia digunakan terhadap warga sipil.

Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dalam wawancara dengan radio BBC. Dia berharap Inggris dan negara-negara Barat lainnya tak akan berpangku tangan jika memang terjadi serangan kimia di Suriah. Johnson pun mendukung serangan terbatas jika ada "bukti tak terbantahkan" mengenai keterlibatan pemerintah Suriah.

"Jika kita tahu bahwa itu (serangan kimia) telah terjadi, dan kita bisa menunjukkannya, dan ada usulan aksi di mana Inggris bisa berguna, maka saya pikir kita harus serius mempertimbangkannya," ujar Johnson seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (27/2/2018).

Johnson mengatakan, dirinya mendukung keputusan pemerintah AS melancarkan serangan rudal ke target-target pemerintah Suriah pada tahun 2017 lalu. Serangan rudal itu dilakukan AS setelah hampir 100 orang, termasuk anak-anak, tewas dalam serangan gas di kota Khan Sheikhoun yang dikuasai pemberontak. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuding pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan yang menggunakan gas sarin tersebut.

 

Hentikan Serangan

Pemerintah Amerika Serikat mendesak Rusia untuk menggunakan pengaruhnya guna memastikan dihentikannya serangan-serangan mematikan di Ghouta Timur, Suriah.

"Rezim Suriah dan pendukung Rusia dan Iran-nya, terus menyerang Ghouta Timur, pinggiran Damaskus yang padat penduduk, meskipun gencatan senjata diserukan oleh Dewan Keamanan PBB," demikian disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert dalam cuitan di Twitter seperti dilansir kantor berita AFP, Selasa (27/2/2018).

"Rezim mengklaim pihaknya memerangi para teroris, namun justru meneror ratusan ribu warga sipil dengan serangan-serangan udara, artileri, roket dan serangan darat. Penggunaan klorin sebagai senjata rezim hanya memperparah penderitaan penduduk sipil," imbuh Nauert.

"#Rusia punya pengaruh untuk menghentikan operasi-operasi tersebut jika memilih untuk memenuhi kewajibannya di bawah #gencatan senjata DK PBB," tulisnya mengenai resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata selama 30 hari di Suriah.

Namun sejak resolusi yang dikeluarkan DK PBB pada Sabtu (24/2) waktu setempat tersebut, serangan-serangan terus dilancarkan di Ghouta Timur.

"Amerika Serikat menyerukan penghentian segera operasi penyerangan dan akses mendesak bagi para pekerja kemanusiaan untuk merawat yang terluka dan mengantarkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan," tandas Nauert.

Kawasan Ghouta Timur yang dikuasai pemberontak, terus dikepung dan dibombardir militer Suriah selama beberapa pekan terakhir. Sedikitnya 520 warga sipil terbunuh dalam satu minggu terakhir dalam serangan beruntun itu.

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Rusia turut mendukung gencatan senjata 30 hari di Suriah. Namun menurut kelompok Observasi Suriah untuk Hak Asasi Manusia, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di London, Inggris, pesawat tempur militer Suriah yang didukung Rusia terus menyerang Ghouta Timur usai keluarnya resolusi DK PBB.

Menurut SOHR, 41 warga sipil tewas dalam serangan udara hari Sabtu (24/2), termasuk delapan anak. Tujuh orang lainnya meninggal pada hari Minggu (25/2). Namun Rusia membantah ikut ambil bagian dalam serangan dan pengeboman ke Ghouta Timur akhir pekan ini. Rusia, juga Iran merupakan pendukung utama rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam memerangi para pemberontak di negeri itu. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>