Golan Memanas, Eropa: Bukan Wilayah Israel!

Rabu, 27 Maret 2019  17:17

Golan Memanas, Eropa: Bukan Wilayah Israel!

Pagar perbatasan di garis gencatan senjata antara Israel-Suriah di bagian wilayah Dataran Tinggi Golan yang dikuasai Israel.

Washington (BM) – Sejumlah negara mereaksi konflik yang tengah memanas di Dataran Tinggi Golan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dikenal sebagai pendukung Isarel membuat pernyataan kontroversial dengan mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel. Keputusan Trump itu ditentang oleh lima negara Eropa yang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.

Kelima negara tersebut: Belgia, Inggris, Prancis, Jerman dan Polandia bersikeras bahwa posisi Eropa tidak berubah dan bahwa Golan tetap sebagai wilayah Suriah yang diduduki Israel, sejalan dengan hukum internasional yang dinyatakan dalam resolusi-resolusi PBB.

"Kami tidak mengakui kedaulatan Israel atas wilayah-wilayah yang diduduki Israel sejak Juni 1967, termasuk Dataran Tinggi Golan, dan kami tidak menganggap itu sebagai bagian dari wilayah negara Israel," kata Duta Besar Belgia Marc Pesteen de Buytswerve kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (27/3/2019).

"Kami mengemukakan kekhawatiran besar kami akan konsekuensi yang lebih luas dari pengakuan aneksasi ilegal ini dan juga konsekuensi regional yang lebih luas," imbuhnya.

Sebelumnya pada Senin (25/3) waktu setempat, Presiden Trump menandatangani sebuah proklamasi yang isinya mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel, meskipun adanya resolusi-resolusi PBB yang menyerukan penarikan mundur Israel dari Golan.

Dubes AS untuk PBB Jonathan Cohen mengatakan bahwa Washington telah mengambil keputusan itu untuk melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Iran.

"Membiarkan Dataran Tinggi Golan dikendalikan oleh orang-orang seperti rezim Suriah dan Iran berarti menutup mata terhadap kekejaman rezim Assad dan keberadaan Iran yang merusak dan mengganggu di wilayah tersebut," ujar Cohen.

Selama ini sudah ada tiga resolusi DK PBB yang menyerukan Israel untuk mundur dari Golan, yang direbutnya dari Suriah dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967 dan dianeksasi pada tahun 1981, sebuah langkah yang tak pernah diakui dunia internasional.

Pemerintah Suriah sendiri telah meminta Dewan Keamanan PBB menggelar sidang darurat untuk membahas keputusan AS mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel. Pemerintah Suriah juga mendesak DK PBB untuk menegakkan resolusi-resolusi yang menuntut Israel mundur dari Golan.

 

Reaksi Turki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan Amerika Serikat (AS) tidak memiliki hak untuk 'memberikan' Dataran Tinggi Golan kepada Israel. Komentar ini disampaikan usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengakuan kedaulatan Israel atas Golan yang menjadi sengketa Israel dan Suriah.

Seperti dilansir kantor berita Anadolu Agency, Rabu (27/3/2019), Erdogan menyampaikan komentar keras untuk AS itu saat berkampanye di Istanbul pekan ini.

Lebih lanjut disebutkan Erdogan bahwa Trump meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu datang ke AS dan menandatangani sebuah proklamasi soal Dataran Tinggi Golan karena pemilu Israel yang akan digelar 9 April mendatang.

Komentar Erdogan itu menyiratkan bahwa langkah Trump diambil demi memastikan dukungan suara untuk Netanyahu dalam pemilu Israel.

Dalam pernyataannya, Erdogan menegaskan bahwa Dataran Tinggi Golan sepenuhnya merupakan milik Suriah menurut resolusi-resolusi PBB dan AS berupaya memberikan wilayah ini kepada Israel.

"Anda tidak memiliki yurisdiksi atau hak semacam itu," tegas Erdogan merujuk pada AS.

Ditegaskan juga oleh Erdogan bahwa langkah AS itu tidak diakui oleh Uni Eropa, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Rusia dan China.

"Bicara soal kebenaran dengan keberanian adalah tugas kita," ucap Erdogan.

Sebelumnya pada Senin (25/3) lalu, Trump menandatangani sebuah proklamasi yang isinya mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan. Suriah yang juga menguasai separuh wilayah Golan mengecam langkah Trump itu sebagai serangan terang-terangan terhadap kedaulatannya.

Diketahui bahwa Golan merupakan wilayah perbatasan yang dicaplok Israel dari Suriah dalam perang tahun 1967. Israel kemudian menganeksasi Golan pada tahun 1981 dalam langkah yang tak diakui dunia internasional. Selama ini sudah ada tiga resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang menyerukan Israel untuk mundur dari Golan.

DK PBB dan pemerintahan-pemerintahan AS sebelumnya, selalu menganggap Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah pendudukan yang pengembaliannya masih harus dirundingkan sebagai bagian dari kesepakatan damai yang menyeluruh antara Israel dan Suriah.

Usai pengakuan Trump, PBB menegaskan Golan masih dianggap sebagai 'wilayah pendudukan' di bawah hukum internasional.

 

Itu Kolonialisme!

Presiden Iran, Hassan Rouhani, mengecam langkah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan yang menjadi sengketa. Rouhani menuduh Trump mempraktikkan kolonialisme dengan langkah kontroversial itu.

"Pada suatu masa saat kolonialisme berkuasa, beberapa kekuatan kolonialis melakukan hal-hal serupa dan memberikan bagian dari satu negara ke negara lain, tapi ini belum pernah terjadi sebelumnya pada abad sekarang ini," sebut Rouhani dalam pernyataan di situs pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Rabu (27/3/2019).

"Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa seorang pria akan muncul di Amerika dan secara sepihak dan menentang seluruh hukum dan aturan internasional, memberikan tanah milik satu negara kepada agresor," imbuhnya dalam pertemuan dengan para penasihat dan jajaran menteri Iran. (det/mer/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>