INOVASI Temukan 165 Guru Inovatif di Indonesia

Kamis, 04 Oktober 2018  18:00

INOVASI Temukan 165 Guru Inovatif di Indonesia

Endang Kusniati menunjukkan cara mengajar matematika kepada murid-muridnya dengan alat inovasinya. (BM/HARUN EFFENDY)

 

SURABAYA(BM) - Sebuah program Pemerintah Indonesia dan Australia dalam meningkatkan mutu pendidikan, Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) yang dikelola oleh Palladium atas nama Pemerintah Australia mengadakan media briefing peningkatan mutu pendidikan dasar di Jawa Timur dengan tema “Mendorong Literasi, Numerasi, Leadership dan Kelas Rangkap sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Belajar Siswa SD/ MI” di Ruang Melati Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Jawa Timur, Jln Genteng Kali, Kamis (4/10) pagi.


Menurut Manajer INOVASI Provinsi Jawa Timur, Silvana Erlina mengatakan, bermitra dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pihaknya berupaya menemukan cara-cara yang terbukti berhasil (dan tidak berhasil) dalam meningkatkan hasil pembelajaran literasi dan numerasi siswa Indonesia di jenjang pendidikan dasar.


“Literasi yang paling mendasar adalah bisa membaca, menulis dan berhitung. Tidak sekedar bisa tetapi juga paham. Namun 64% siswa kelas 4 tidak mampu membaca peta sederhana, 74% siswa kelas 8 tidak bisa melakukan operasi hitung pecahan sederhana. Lalu, 1 dari 4 siswa kelas 2 hanya dapat membaca dengan pemahaman terbatas, atau tidak bisa membaca sama sekali,” katanya sambil membandingkan dengan kemampuan siswa SD negara tetangga, Singapura.


Untuk itu, INOVASI melakukan pendekatan yang dirancang untuk menemukan berbagai gagasan atau solusi yang sesuai dengan konteks di suatu daerah, dalam rangka mengatasi tantangan pembelajaran yang ditemui di daerah tersebut.


“Bagaimana guru bisa membantu anak didiknya belajar membaca, dari dunia anak-anak dibawah ke dunia pembelajaran, contoh, anak bisa mengeja bacaan, tetapi saat merangkai kata susah, seperti ejaan K.U.D.A, dibaca anak, Jaran (karena melihat gambar),” tuturnya.


Mitra-mitra INOVASI di Indonesia meliputi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur. Dan khususnya penunjukan di Jawa Timur, menurut Kepala Dindikbud Jatim, Dr Saiful Rachman MM MPd mengatakan, karena di Jatim sebagai motor, sebagai gudangnya guru-guru inovatif di Indonesia. “Di Mojokerto hasil inovasinya dipakai referensi di Amerika Serikat, kemudian di Batu dari sekolah yang jelek berubah menjadi sekolah favorit karena kemampuan leadership kepala sekolahnya,” ungkapnya.


Hal ini diperkuat oleh pernyataan Sekretaris Dindikbud, Ramliyanto SP MP menceritakan, pihaknya menemui kendala birokrasi karena tidak dibekali ilmu marketing, sehingga temuan inovasi hanya menjadi kisah bawah tanah, kurang publikasi. Oleh karena itu, kedinasannya membuat terobosan dengan menyekolahkan personil ke sekolah marketing kenamaan.


“Banyak inovasi pendidikan di Jatim tapi barangkali tidak dikemas dengan baik, sehingga terlihat tidak menarik bagi teman-teman media, selain itu juga bisa jadi phobia media yang masih menjangkiti sebagian kepala sekolah sehingga takut dipublikasikan, untuk itu kami terus meningkatkan komunikasi dengan media melalui coffe-morning, atau lunch-break guna mengikis media phobia, sebab inovasi itu asimetris, harus menyesuaikan karakteristik daerah masing-masing,” terangnya.


Selanjutnya, awak media dipertontonkan sebuah tanyangan video inspiratif asal Thailand, yang mengisahkan seorang profesor dokter, yang mendedikasikan hidupnya untuk menjadi guru pengajar dan menolak praktek dokter, hingga saat menemui ajal, berwasiat kepada muridnya untuk mendonasikan jasadnya bagi praktek kedokteran.


Hikmah dari kisah tersebut bahwa, seorang guru itu bisa merubah kehidupan siswanya, menjadi pahlawan bagi siswa, dan bisa juga menggantikan peran orang tua. Sementara itu inovasi guru dalam mengajar diuji Kurikulum 2013, dimana banyak guru mengajar mengacu pada buku saja. Tantangannya, guru harus bisa menggali potensi lain tiap anak didiknya, artinya jika lemah di matematika, lantas dihajar pelajaran matematika.


Pada sesi terakhir dihadirkan oleh tim INOVASI, sosok guru inovatif, Endang Kusniati SPd, guru SDN Gelam 2, Candi, Sidoarjo, yang mana menunjukkan bagaimana dirinya mengajar matematika kepada murid-muridnya dengan alat peraga hasil temuannya.


“Motivasi saya, karena gelisah, anak-anak susah memahami soal matematika, kemudian saya mencoba membuat alat dengan bahan di sekitar, dan hasilnya, anak-anak belajar lebih menyenangkan, kemudian nilai matematikanya meningkat, karena sudah memahami maksud dari suatu pertanyaan secara konsep,” ungkapnya.


Berangkat dari sini beberapa langka-langka kongkret telah diambil INOVASI untuk menindaklanjuti temuan inonatif seperti bu Endang diantaranya, hasil riset tahun 2017 telah ditemukan 165 orang, kemudian dipetakan menjadi 27 diantaranya sebagai praktek baik yang menjanjikan. “Oleh karena itu, harta karun ini perlu disosialisasikan dengan bersinergi bersama humas kedinasan dan rekan media untuk melakukan ekspos ke publik,” jelas Dian Kusuma Dewi, Humas INOVASI, menutup acara. (har)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>