Kerusuhan Demo Kenaikan BBM, Presiden Prancis: Memalukan

Sabtu, 25 November 2018  16:35

Kerusuhan Demo Kenaikan BBM, Presiden Prancis: Memalukan

Presiden Prancis Emmanuel Macron

PARIS (BM) - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam terjadinya bentrok antara para demonstran dengan polisi di Paris, selama aksi protes terbaru yang dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar, Sabtu (24/11).

"Sungguh memalukan orang-orang yang menyerang petugas. Tidak ada tempat untuk kekerasan di Republik (Prancis)," tulis Macron.

Dikutip dari BBC pada Minggu (25/11), terjadi kerusuhan di distrik Champs-Elyses pada Sabtu 24 November, ketika polisi menggunakan gas air mata dan meriam air berusaha membubarkan para demonstran.

Demonstrasi terjadi oleh dorongan gerakan "rompi kuning" sebagai "aksi kedua" setelah unjuk rasa serupa yang dilakukan pekan lalu.

Penamaan rompi kuning merujuk pada pakaian yang dikenakan oleh para demonstran, yakni jaket keselamatan. Ciri khas tersebut bermula pada unjung rasa menolak kenaikan harga bahan bakar diesel, beberapa bulan lalu.

Gerakan rompi kuning terus tumbuh sebagai bentuk kemarahan pada meningkatnya biaya hidup, terutama di pedesaan, serta berbagai keluhan lainnya terhadap pemerintahan Macron.

Lebih dari 100.000 orang mengambil bagian dalam sekitar 1.600 aksi protes di seluruh Prancis pada hari Sabtu, kementerian dalam negeri mengatakan.

Sebagian besar selesai dengan damai, kecuali di ibu kota, di mana 8.000 demonstran tersulut oleh hasutan beberapa oknum, sehingga memicu kerusuhan.

Lima ribu anggota polisi telah dikerahkan di Paris. Mereka telah memasang penghalang logam di sekitar Champs-lyses untuk menghentikan demonstran mencapai bangunan-bangunan utama seperti kantor presiden dan Majelis Nasional Prancis.

Seorang juru bicara untuk demonstran bersikeras bahwa mereka melakukan aksi damai.

"Kami tidak di sini untuk berkelahi dengan polisi, Kami hanya ingin pemerintah mendengarkan kami," kata Laetitia Dewalle kepada kantor berita AFP.

Tetapi di pagi hari, beberapa orang mencoba menerobos barikade polisi.

Mereka menyalakan api, merobohkan rambu-rambu jalan, mendirikan barikade saingan, menarik batu paving dan melemparkannya ke polisi sambil meneriakkan slogan-slogan melawan Macron.

Para pejabat mengatakan 19 orang terluka dalam bentrokan itu, termasuk empat petugas. Empat puluh orang ditangkap.

Aksi unjuk rasa juga meluas ke seluruh wilayah Prancis. Ada sejumlah bentrokan kecil, di mana secara keseluruhan, 130 penangkapan dilakukan.

Protes dan kekerasan berada pada skala yang jauh lebih kecil terjadi pada pekan sebelumnya. Kala itu, lebih dari 280.000 orang turun ke jalan, di mana dua orang tewas dan lebih dari 600 orang terluka.

Media pemerintah Prancis melaporkan bahwa beberapa wartawan telah diserang di kota-kota selatan, seprti Toulouse dan Bziers.

Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner menuduh para pengunjuk rasa dipengaruhi oleh pemimpin partai sayap kapan, Marine Le Pen, yang ditudingnya di Twitter sebagai pelaku ketidakjujuran.

Sementara itu, harga solar, bahan bakar yang paling umum digunakan oleh kendaraan di Prancis, telah meningkat sekitar 23 persen selama 12 bulan terakhir, menjadi rata-rata 1,51 euro (setara Rp 24.900) per liter, titik tertinggi sejak awal 2000-an, laporan AFP .

Harga minyak dunia memang sempat meroket, sebelum akhirnya jatuh kembali. Tetapi, pemerintah Macron tetap menaikkan pajak hidrokarbonnya tahun ini sebesar 7,6 sen per liter pada solar dan 3,9 sen pada bensin, sebagai bagian dari kampanye untuk mobil dan bahan bakar yang lebih bersih.

Keputusan untuk memaksakan peningkatan lebih lanjut sebesar 6,5 sen pada solar dan 2,9 sen pada bensin pada 1 Januari 2019 dianggap sebagai jerami terakhir.

Presiden telah menyalahkan harga minyak dunia selama tiga perempat dari kenaikan harga. Dia juga mengatakan lebih banyak pajak pada bahan bakar fosil diperlukan untuk mendanai investasi energi terbarukan.

Namun kekisruhan itu dinilai juga dipicu isu lain seperti pajak dan biaya hidup masyarakat yang terus meningkat. "Orang-orang yang menyerang polisi sangatlah memalukan," kata Presiden Prancis, Emmanuel Macron, melalui akun Twitternya.

Macron menambahkan, "Tak ada tempat untuk kekerasan di republik ini."(mer/det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>