KPK Saudi Menggebrak, 11 Pangeran dan 4 Menteri Ditangkap

Kamis, 05 November 2017  17:24

KPK Saudi Menggebrak, 11 Pangeran dan 4 Menteri Ditangkap

Mohammed bin Salman (Tengah)

Riyadh (BM) – Hanya berselang beberapa jam setelah pembentukan komite anti korupsi Saudi dengan ketuanya Mohamed bin Salman, yang tak lain adalah putra mahkota Saudi, langsung membuat gebrakan yang menghebohkan dunia. ‘KPK Saudi’ tersebut menangkap 11 pangeran dan empat anggota kabinet.

Diwartakan Reuters, Minggu (5/11/2017), pembentukan komite anti korupsi itu diumumkan langsung oleh Raja Salman bin Abdulaziz pada Sabtu (5/11) kemarin. Disampaikan oleh Raja Salman bahwa komite itu dipimpin oleh Mohammed bin Salman sang putra Mahkota.

Mohamed bin Salman merupakan Putra Mahkota yang baru berusia 32 tahun. Ia tampak sudah begitu dominan di kebijakan militer, hubungan asing, ekonomi, dan sosial Saudi.

Beberapa jam setelahnya, masih di hari yang sama, komite antikorupsi itu membuat gebrakan. Sebanyak 11 pangeran dan empat anggota kabinet Saudi ditangkap terkait dugaan korupsi maupun penyuapan.

Dilansir dari Reuters, Minggu (5/11/2017), ada 17 nama yang diungkap oleh salah seorang pejabat Saudi. Berikut nama-namanya: 1. Pangeran Alwaleed bin Talal (chairman of Kingdom Holding 4280.SE); 2. Pangeran Miteb bin Abdullah (Menteri Garda Nasional); 3. Pangeran Turki bin Abdullah (mantan Gubernur Provinsi Riyadh).

4. Khalid al-Tuwaijri (mantan ketua Royal Court); 5. Adel Fakeih (Menteri Ekonomi dan Perencanaan) ; 6. Ibrahim al-Assaf (mantan Menteri Keuangan); 7. Abdullah al-Sultan (Komandan Angkatan Laut Saudi); 8. Bakr bin Laden (Chairman of Saudi Binladin Group); 9. Mohammad al-Tobaishi (mantan Kepala Protokol Royal Court).

10. Amr al-Dabbagh (mantan Gubernur Otoritas Investasi Umum Arab Saudi); 11. Alwaleed al-Ibrahim (pemilik Jaringan Televisi MBC); 12. Khalid al-Mulheim (mantan Direktur Jendral Saudi Arabian Airlines); 13. Saoud al-Daweesh (mantan chief executive Saudi Telecom 7010.SE)

14. Pangeran Turki bin Nasser (mantan kepala Presidensi Meteorologi dan Lingkungan Hidup); 15. Pangeran Fahad bin Abdullah bin Mohammed al Saud (mantan Wakil Menteri Pertahanan); 16 Saleh Kamel (Pengusaha); 17. Mohammad al-Amoudi (pengusaha)

Penangkapan Alwaleed bin Talal diperkirakan akan mengejutkan bagi pihak Kerajaan maupun keuangan utama dunia. Pengumuman penangkapan tersebut pertama kali disampaikan melalui Al Arabiya, jaringan satelit yang penyiarannya disetujui secara resmi oleh pemerintah Saudi.

Dilansir dari arabnews, Minggu (5/11), penangkapan 4 menteri membuat Raja Salman melakukan reshuffle kabinet. Dua perubahan penting tersebut adalah digantinya Menteri Garda Nasional Miteb bin Abdullah oleh Pangeran Khaled bin Ayyaf, serta Menteri Ekonomi Adel Fakieh yang digantikan oleh Mohammed Al-Tuwaijri.

 

Pangeran Alwaleed

Sejumlah pangeran dari Arab Saudi akan datang ke Indonesia bersama rombongan Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud. Kedatangan mereka dalam rangka mempererat silaturahmi dan kerja sama investasi.

Selain sang raja, para pangeran ini juga doyan berinvestasi di berbagai negara. Salah satunya adalah Pangeran Alwaleed bin Talal.

Alwaleed adalah anak dari Pangeran Talal bin Saud, cucu langsung dari mendiang Raja Abdulaziz bin Saud yang mendirikan Kerajaan Arab Saudi. Jadi Alwaleed ini adalah keponakan dari Raja Salman yang saat ini berkuasa.

Ayahnya Alwaleed, Pangeran Talal, merupakan anggota keluarga kerajaan yang kontroversional dan sempat diasingkan ketika ada reformasi di keluarga Arab Saudi.

Alwaleed sempat mengenyam pendidikan di Menlo College, California, Amerika Serikat (AS) sebelum mendirikan Kingdom Holding Company (KHC). Pria yang sudah kawin-cerai tiga kali ini jadi sarjana bisnis pada 1979, kemudian pulang kampung dan merintis bisnis sendiri.

Bisnis pertama yang digelutinya adalah di sektor properti, melalui jual-beli tanah. Lambat laun ia mulai melebarkan sayapnya sambil mendiversifikasi bisnisnya ke sektor-sektor lain.

Kepiawaiannya dalam berinvestasi membuat Alwaleed mendapat julukan Warren Buffet dari Timur Tengah. Sebab, di tengah booming harga minyak pada tahun 1970-an hingga 1980-an, Alwaleed memilih untuk berbisnis di sektor lain dan jeli melihat peluang investasi.

Mantan suami Ameera Al-Taweel ini juga berhasil mereformasi Saudi Commercial Bank yang akan bangkrut menjadi bank nomor satu di Timur Tengah setelah dimergerkan dengan Saudi Cairo Bank dan SAMBA.

Alwaleed juga paling getol membeli saham-saham perusahanan yang terkenal, seperti Twitter hingga Apple.

 

Ambisi Putra Mahkota

Ada pemandangan tak biasa saat peringatan hari jadi kerajaan Arab Saudi ke-87, 23 September 2017 lalu di Stadion King Fahd, Riyadh. Sejumlah wanita mengenakan kerudung dengan asesoris wig warna-warni nampak memenuhi stadion yang biasanya hanya untuk kaum pria itu. Para wanita nampak antusias menikmati konser musik dan pertunjukan tentang sejarah negara tersebut.

Kemeriahan dan antusiasme kaum hawa itu menandai babak baru di Arab Saudi. Selain boleh menonton konser di stadion, wanita di Saudi diizinkan untuk mengemudikan mobil sendiri mulai tahun depan. Juga berkarier di berbagai bidang pekerjaan.

Semuanya tak lepas dari kebijakan putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman al Saud. Berbagai kelonggaran bagi kaum wanita itu merupakan bagian dari upaya moderasi kehidupan sosial budaya di negeri itu, sesuai visi 2030 yang dicanangkannya pada pertengahan 2016.

Pangeran yang baru berusia 32 tahun itu ingin industri hiburan dan pariwisata di Arab Saudi bangkit. Dalam sebuah konferensi ekonomi di Riyadh, Selasa (24/10/2017) pekan lalu, Pangeran Mohammed secara tegas mengatakan, "Kami kembali ke kami yang sebelumnya, sebuah negara Islam moderat yang terbuka untuk semua agama, tradisi, dan orang-orang dari seluruh dunia."

"Kami ingin hidup yang normal. Sebuah kehidupan dengan agama yang diwujudkan menjadi toleransi, menjadi tradisi keramahan kami," kata Mohammed yang disebut-sebut sebagai penguasa de facto di Saudi.

Pangeran Mohammed berencana membangun sebuah kota hiburan seluas 334 kilometer persegi atau separuh provinsi DKI Jakarta. Kota hiburan itu akan dibangun di pinggir kota Riyadh, di kawasan pesisir Laut Merah dan tak jauh dari Mesir dan Jordania.

Dalam Visi 2030, pembangunan kawasan yang disebut NEOM tersebut bertujuan mendiversifikasi ekonomi dan ketergantungan Saudi terhadap industri minyak. Para pejabat Saudi berharap kota hiburan itu tak hanya menarik pengunjung, tapi juga mendorong kehidupan yang sehat, seimbang, dan menyediakan lebih banyak hiburan, keceriaan, dan kesenangan bagi penduduk ibu kota.

Saat diwawancara Bloomberg, 28 Oktober 2017 lalu, Pangeran Mohammed menegaskan bahwa siapa saja bisa masuk dan berbisnis di kawasan NEOM, termasuk investor asing. "Anda harus membeli. Artinya Anda harus belanja energi, membelanjakan uang di ritel, di entertainment. Anda adalah investor dan wisatawan di waktu yang sama," paparnya.

Menurut dia pihak Arab bisa membuat 98 persen suasana NEOM seperti kota lainnya di dunia. Hanya 2 persen yang tidak bisa mereka penuhi untuk kebutuhan orang asing, antara lain Alkohol. "Orang asing yang ingin Alkohol bisa pergi ke Mesir atau Yordania," kata Pangeran Mohammed. "Jadi saya kira ini akan memberikan investor dan apa yang investor asing butuhkan tanpa melanggar peraturan," tambah dia.

Pakar politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta, Zuhairi Misrawi mengatakan langkah Pangeran Mohammed membawa Arab Saudi ke Islam Moderat tak akan mudah. Soal kebijakan alkohol misalnya, awalnya dia akan mengizinkan minuman keras itu di NEOM.

Namun mayoritas ulama di Arab Saudi menentangnya. Akibatnya para ulama itu ditangkap oleh pihak kerajaan. Tapi akhirnya Pangeran Mohammed melunak, dan alkohol dilarang di NEOM.

Menurut Zuhairi, kebijakan pelarangan alkohol itu bisa jadi adalah bentuk kompromi sang Pangeran dengan para ulama penentang. "Jadi dia tetap ingin menjaga psikologi dari warga Arab. Kita tahu bahwa Arab sangat ketat dan rigid soal alkohol. Jadi dia sedang menjaga itu supaya (Arab Saudi) boleh terbuka, tapi jangan keterlaluan," papar Zuhairi saat berbincang dengan detikcom, Senin (30/10/2017).

Pilihan moderasi Islam bagi Saudi, dia melanjutkan, tidak mudah dan akan menimbulkan goncangan. Sebab para ulama dan mungkin saja sebagian besar warga Arab Saudi sudah merasa nyaman dengan Wahabisme. Belum lagi, respons dari jaringan al-Qaeda dan ISIS yang selama ini menjadikan Arab Saudi sebagai kiblat mereka.

"Mereka pasti akan menentang keras langkah yang diambil oleh Pangeran," kata Zuhairi.

Jika benar prediksi ini benar, sepertinya mimpi-mimpi sang Pangeran tak akan mudah terwujud.(det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>