Mugabe Mundur, Presiden Zimbabwe yang Baru Besok Disumpah

Rabu, 22 November 2017  17:45

Mugabe Mundur, Presiden Zimbabwe yang Baru Besok Disumpah

Warga Zimbabwe bergembira setelah kabar Presiden Robert Mugabe mengundurkan diri, Selasa (21/11).

HARARE (BM) - Presiden Zimbabwe Robert Mugabe mengundurkan diri pada Selasa (21/11) malam setelah berkuasa selama 37 tahun. Pengumuman pengunduran diri Mugabe dibacakan Ketua Parlemen Jacob Mudenda lewat sebuah surat pernyataan.

Rakyat Zimbabwe menyambut kabar itu dengan gegap gempita dan kegirangan. Mereka bersorak sorai di jalanan menumpahkan kebahagiaan setelah lepas dari rezim diktator yang dikenal korup.

Setelah Robert Mugabe resmi lengser sebagai Presiden Zimbabwe, partai berkuasa Zanu-PF resmi menunjuk mantan wakilnya, Emmerson Mnangagwa.

Ajudan Senior Zimbabwe, Larry Mavhima berkata, Mnangagwa dijadwalkan bakal kembali ke Harare dari masa pengasingannya Rabu (22/11/2017).

"Dia akan mendarat di pangkalan militer, dan memberikan keterangan kepada media," ujar Mavhima dikutip dari AFP.

Kanal televisi Zimbabwe, ZBC, memberitakan Mnangagwa akan disumpah sebagai suksesor Mugabe Jumat (24/11/2017).

Mnangagwa dipecat Mugabe pada 6 November lalu dengan dalih tidak setia dan diduga menggelapkan dana penjualan berlian sebesar Rp 202 triliun.

Namun, banyak kalangan percaya pemecatan itu adalah usaha Mugabe untuk melancarkan istrinya, Grace Mugabe, maju menggantikan dirinya.

Situasi tersebut membuat militer melakukan kudeta pekan lalu (14/11/2017), dan membuat Mugabe sebagai tahanan rumah.

Juru Bicara Zanu-PF, Simon Khaya Moyo menyatakan sudah saatnya Mugabe untuk beristirahat dan menikmati masa tuanya. "Namun, dia terlalu lama menikmati keramahan rakyat Zimbabwe," ucap Moyo.

 

Reaksi AS

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat Zimbabwe atas mundurnya Robert Mugabe sebagai Presiden negara itu.

"Kami mengucapkan selamat kepada semua orang Zimbabwe yang mengangkat suara mereka, dan menyatakan dengan damai dan jelas bahwa waktu untuk perubahan telah lewat. Zimbabwe memiliki kesempatan yang luar biasa untuk memulai jalan baru," kata Tillerson seperti dilansir Sputnik pada Rabu (22/11).

Tillerson kemudian mendesak pemerintah Zimbabwe harus menerapkan reformasi yang diperlukan dan siap mendukung rakyat sebagai kemajuan reformasi. Dia juga mencatat bahwa Washington mendesak semua pihak di Zimbabwe untuk menahan diri dan menghormati tatanan konstitusional dan sipil.

"Kami mendesak para pemimpin Zimbabwe untuk menerapkan reformasi politik, dan ekonomi yang sangat dibutuhkan untuk masa depan yang lebih stabil dan menjanjikan bagi rakyat Zimbabwe. Kami akan terus mendukung rakyat Zimbabwe karena reformasi ini terus berlanjut," ucapnya.

"Apapun pengaturan jangka pendek yang dapat dilakukan pemerintah, jalan ke depan harus mengarah pada pemilihan yang bebas dan adil. Rakyat Zimbabwe harus memilih pemimpin mereka sendiri," tukas Tillerson.

Seperti diketahui, Mugabe menyatakan pengunduran diri semalam. "Saya, Robert Gabriel Mugabe, mengingat pasal 96 Konstitusi Zimbabwe, dengan ini secara formal saya mengajukan pengunduran diri," tutur juru bicara Parlemen Zimbabwe, Jacob Mudenda saat membacakan surat bersejarah salah satu presiden terlama di benua Afrika itu.

 

Suaka untuk Mugabe

Keputusan mundur Robert Mugabe sebagai Presiden Zimbabwe membuat negara-negara tetangga ramai-ramai menawarkan suaka politik.

Sebelumnya, Afrika Selatan yang lebih dahulu mengumumkannya Sabtu (19/11/2017).

Melalui partai Pejuang Kebebasan Ekonomi (EFF) dan Forum Diaspora Afrika (ADF), mereka mendesak pemerintahan Jacob Zuma agar mengizinkan Mugabe tinggal dengan status pengungsi politik.

Melalui juru bicara EFF, Mbuyiseni Ndlozi, Mugabe tetap diakui sebagai bagian dari Afrika Selatan meski bukan lagi sebagai presiden.

"Kami seharusnya tidak membatasi hubungan kami dengan sebagai tokoh yang membebaskan Afrika dari kolonialisme," kata Ndlozi kepada Times Live.

Ndlozi melanjutkan, Mugabe dan keluarganya tidak membutuhkan paspor untuk berada di Pretoria.

Selain Afrika Selatan, Ghana menjadi negara kedua yang menawarkan diri menjadi penampungan bagi eks presiden yang telah memimpin Zimbabwe selama 37 tahun tersebut.

Juru Bicara Minoritas Kemenlu Ghana, Samuel Okudzeto Ablakwa meminta Presiden Nana Akufo-Addo agar mengundang Mugabe.

Ablakwa berujar, Mugabe memiliki hubungan yang sangat erat dengan Ghana.

Sebelum menjadi politisi, Mugabe adalah guru di Ghana. Dia mengasah dirinya sebagai tokoh pembebas di sana.

Selain itu, di Ghana, Mugabe bertemu dengan istri pertamanya, Sally Hayfron.

Di Ghana pula, Mugabe menguburkan anak laki-lakinya, Michael Nhamodzenyika Mugabe, yang meninggal dalam usia tiga tahun akibat malaria.

"Dia mencintai Ghana. Sudah sepantasnya presiden memberi jaminan kepada Tuan Mugabe," kata Ablakwa kepada Joy News Selasa (21/11/2017).

Namun, tidak semua elemen politik negara-negara itu sepakat.

Kongres Rakyat (Cope) dan Aliansi Demokratik (DA) menantang rencana EFF untuk memberi suaka politik di Afrika Selatan.

Dalam pernyataannya, DA melihat Mugabe dari seorang pembebas menjadi diktator sehingga tidak seharusnya diberikan suaka politik sebagai seorang pengungsi.

"Hal itu jelas akan melukai konstitusi Afrika Selatan mengenai pengungsi," jelas DA.

Mugabe mengundurkan diri Selasa pasca-aksi kudeta yang dilakukan militer, dan gelombang unjuk rasa berbagai elemen masyarakat di Zimbabwe. (kom/mer/tri/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>