Pangeran Arab Saudi Serukan Kudeta Raja Salman

Rabu, 23 Mei 2018  18:12

Pangeran Arab Saudi Serukan Kudeta Raja Salman

Raja Salam dan Putera Mahkota

Berlin (BM) - Seorang pangeran Arab Saudi yang diasingkan, menyerukan kudeta untuk melengserkan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Kudeta itu juga bertujuan mencegah struktur berkuasa saat ini yang dipimpin putranya, Pangeran Mohammed bin Salman, merusak Kerajaan Saudi.

Seperti dilansir Press TV, Rabu (23/5/2018), seruan itu disampaikan oleh Pangeran Khaled bin Farhan yang telah mendapat suaka politik di Jerman. Pangeran Khaled menyampaikan seruan kudeta kepada pangeran-pangeran Saudi lainnya yang merupakan pamannya, seperti Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan Pangeran Muqrin bin Abdulaziz. Seruan itu disampaikan dalam komentar portal berita Middle East Eye yang dirilis Senin (21/5) lalu.

Dalam seruannya, Pangeran Khaled meminta Pangeran Ahmed dan Pangeran Muqrin untuk menggunakan pengaruh mereka di kalangan anggota kerajaan juga militer Saudi untuk melakukan kudeta terhadap Kerajaan Saudi. Menurut Pangeran Khaled, perubahan diperlukan untuk menyelamatkan Kerajaan Saudi dari arahan 'irasional, tak terduga, dan bodoh'.

Raja Salman menunjuk Pangeran Mohammed bin Salman atau MBS menjadi putra mahkota Saudi, dalam langkah mengejutkan pada Juni 2017 lalu. Penunjukan itu melengserkan Pangeran Muhammed bin Nayef dari posisi Putra Mahkota Saudi sebelumnya.

Disebutkan Pangeran Khaled bahwa naiknya MBS secara drastis memicu pertanyaan. "Jika Raja Salman dalam kondisi kesehatan yang baik, hal-hal tidak akan mencapai tahap ini. Ketika kita melihat kebijakan publik di Arab Saudi, kita bisa melihat bahwa Raja Salman sepenuhnya absen dari layar atau dari panggung politik di Arab Saudi," sebutnya.

MBS yang juga menjabat Menteri Pertahanan Saudi, kini dipandang sebagai tokoh paling berpengaruh di Saudi. Terlebih pendekatannya yang impulsif terhadap urusan dalam negeri dan kawasan telah memicu 'kerusuhan' baik di dalam maupun di luar Saudi.

Akhir tahun lalu, MBS memerintahkan penangkapan ratusan pangeran dan pengusaha Saudi dalam operasi yang disebut 'kampanye antikorupsi'. Total US$ 100 miliar disita dari orang-orang yang ditangkap, sebagai pertukaran atas pembebasan mereka. MBS juga dipandang sebagai arsitek dari operasi militer pimpinan Saudi di Yaman selama tiga tahun terakhir, yang telah menewaskan dan membuat puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Disebut Pangeran Khaled bahwa operasi penangkapan massal itu memicu banyak kebencian di kalangan keluarga Kerajaan Saudi terhadap MBS sendiri. "Keluarga merasakannya sebagai pelecehan," sebutnya.

"Ada banyak kemarahan di dalam keluarga kerajaan," klaim Pangeran Khaled. Kemarahan itu mengarah ke potensi evolusi kekuasaan di Saudi, yang menurut Pangeran Khaled, akan didukung oleh '99 persen anggota keluarga kerajaan, dinas keamanan dan militer akan berdiri di belakang mereka'.

"Saya menerima sejumlah besar email dari kalangan kepolisian dan militer yang mendukung seruan saya," klaimnya lagi.

Seruan Pangeran Khaled ini mencuat di tengah menghilangnya MBS dari publik secara misterius sejak aksi baku tembak dan ledakan di luar Istana Kerajaan Saudi di Riyadh, bulan lalu. Sejumlah sumber mengklaim bahwa insiden 21 April yang disebut otoritas Saudi sebagai penembakan drone kecil, sebenarnya merupakan upaya kudeta oleh keluarga Kerajaan Saudi yang menentang Raja Salman.

 

Masalah Psikologis

Pangeran Arab Saudi, Khaled bin Farhan, yang menyerukan kudeta untuk melengserkan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saudi, juga menyebut putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, memiliki masalah psikologis.

"Di sekolah, dia memiliki masalah psikologis dan saya lebih baik tidak membahasnya terlalu detail, tapi kesehatan mental bisa berdampak pada seseorang secara keseluruhan, dan saya bisa melihat dengan jelas bahwa setelah dia memegang kekuasaan dan cara dia berurusan dengan politik, mencerminkan masalah psikologisnya," ucap Pangeran Khaled dalam wawancara dengan portal berita Middle East Eye, seperti dilansir pada Rabu (23/5/2018). Dia merujuk pada Pangeran Mohammed bin Salman atau yang disebut MBS.

"Saya tidak akan menyebut dia (MBS-red) kasar," imbuhnya.

"Tapi ketika dia masih muda, dalam keluarga kerajaan, dia tidak punya status. Dia hanya anggota keluarga biasa. Saudara-saudaranya punya posisi lebih tinggi, dan mereka memiliki suara di dalam lingkungan elite penguasa Saudi. Tentu saja, sepupu-sepupunya lebih tua, lebih berpengalaman, posisinya lebih bagus, lebih berpendidikan dan hal lainnya," sebut Pangeran Khaled yang kini mengasingkan diri di Jerman.

"Jadi saya pikir dia (MBS-red) mulai memiliki masalah psikologis, karena salah satu sepupunya yang ditangkap, ketika dia (MBS-red) bertemu dengannya, dia (MBS-red) harus meminta izin bertemu, dan mungkin pangeran itu akan bertemu dengannya, atau tidak. Jadi ini memicu masalah psikologis di dalam dirinya (MBS-red) dan sekarang ini, dia sedang membalas dendam terhadap sepupu-sepupunya," tudingnya.

Pangeran Khaled membahas soal penangkapan ratusan pangeran dan pengusaha Saudi dalam operasi yang disebut 'kampanye antikorupsi' dan dipimpin MBS, tahun lalu. Total US$ 100 miliar disita dari orang-orang yang ditangkap, sebagai pertukaran atas pembebasan mereka.

Namun setelah dibebaskan, sebut Pangeran Khaled, orang-orang itu bukan benar-benar bebas. Menurut Pangeran Khaled, orang-orang yang baru dibebaskan itu dipantau dengan alat yang dipasang di kaki, kemudian telepon genggamnya dipantau dan mereka dilarang pergi ke luar Saudi. "Jadi mereka hidup dalam situasi yang sangat memalukan," sebutnya.

Ditambahkan Pangeran Khaled bahwa dalam situasi normal, dirinya akan memuji sejumlah reformasi yang dicetuskan MBS di Saudi, termasuk mengizinkan wanita mengemudi dan membatasi pengaruh otoritas keagamaan. Namun Pangeran Khaled menilai langkah reformasi MBS itu semata bertujuan menyenangkan negara Barat dan mengabaikan masalah sesungguhnya di Saudi, yakni sistem politik.

Dia menyinggung wewenang Raja Saudi yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menunjuk hakim, menunjuk anggota Dewan Syura dan membentuk pemerintahan Saudi sendiri. Menurutnya, sistem politik Saudi mewakili keinginan Raja Saudi semata, dengan perubahan terjadi setiap ada raja baru.

"Susunan negara akan berubah terus-menerus sesuai dengan kepribadian sang raja," ucap Pangeran Khaled. "Di mana rencana strategis untuk negara? Kita perlu memiliki tujuan jelas yang kita upayakan ke depan. Dan menjadi peran untuk menyusun rencana taktis untuk membantu kita mewujudkan strategi-strategi ini," imbuhnya.

"Tapi dengan cara yang kita tempuh, negara kita akan terlambat dalam mencapainya. Kita sudah terlambat. Kita biasa berpikir bahwa kita punya aset finansial dan individu berpendidikan, tapi sayangnya situasi saat ini membawa kita mundur beberapa tahun," cetusnya.

Meskipun Kerajaan Saudi sudah otoriter jauh sebelum Raja Salman berkuasa, Pangeran Khaled menyebut setidaknya pos-pos kekuasaan dibagi-bagi sebelumnya. Menurutnya, saat ini kekuasaan hanya berpusat di tangan satu orang. (det/tit)

OTHER NEWS


TERKINI

SELENGKAPNYA
EDISI TERBARU Edisi 21 Juni 2017

Untuk langganan Koran Berita Metro, hubungi (031)5318686 Alamat Jl.Tunjungan Nomor 86 Surabaya.

E-paper

>